
Ilustrasi pembelian solar subsidi.
JawaPos.com - Institute for Development of Economic and Finance Green Transition Initiative (Indef GTI), menilai kelangkaan solar subsidi pada pertengahan 2026 menunjukkan adanya persoalan dalam desain subsidi dan sistem pengawasan yang masih membuka ruang penyalahgunaan.
Sebagaimana diketahui, Pemerintah menetapkan harga Bio Solar tetap Rp 6.800 per liter hingga akhir tahun dengan kuota nasional 18.636.500 kiloliter, sementara peningkatan permintaan membuat distribusi solar subsidi di sejumlah wilayah mengalami tekanan.
Head of Industrial and Transport Decarbonization Indef GTI, Andry Satrio Nugroho, mengatakan penyelesaian masalah solar subsidi perlu diarahkan pada ketepatan sasaran penerima dan pengawasan penggunaan di lapangan atau bukan hanya berfokus pada distribusi.
Andry meilai, kelangkaan tersebut terjadi karena penjatahan distribusi akibat permintaan yang meningkat ketika kuota justru turun. Dimana, Pemerintah menetapkan kuota Bio Solar sebesar 18.636.500 kiloliter pada 2026, turun 1,32 persen dibandingkan tahun sebelumnya, sementara harganya tetap Rp 6.800 per liter hingga akhir tahun.
“Ketika harga BBM nonsubsidi naik, sebagian konsumen beralih ke solar subsidi. Hingga hari ke-172 tahun ini, penyaluran solar subsidi meningkat sekitar 1,98 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Akibatnya, distribusi di sejumlah daerah mulai dijatah, terutama di wilayah pertambangan dan perkebunan yang memiliki kebutuhan solar tinggi,” ujar Andry dalam pesan yang diterima Jawapos.com, Rabu (15/7).
Dia mengatakan desain subsidi dan penyusunan kuota masih membuka ruang penyalahgunaan. Menurutnya, subsidi masih melekat pada barang, bukan pada penerimanya, sehingga pengawasan bertumpu pada SPBU sebagai titik kontrol yang paling mudah ditembus.
Di sisi lain, penyusunan kuota daerah belum didukung basis data yang memadai. Akibatnya, usulan kuota kerap jauh melampaui kebutuhan riil sehingga pemerintah pusat kesulitan menetapkan alokasi yang tepat.
Selain itu, selisih harga yang besar membuat penyalahgunaan solar subsidi tetap menguntungkan.Dimana, Bio Solar dijual Rp 6.800 per liter, sedangkan Dexlite sekitar Rp20.150–20.550 per liter sehingga selisih harganya masih mencapai Rp 13.350–13.750 per liter.
Andry mengatakan, meski harga Dexlite turun pada awal Juli dan memangkas selisih harga sekitar 20 persen, penyaluran solar subsidi hingga hari ke-172 tahun 2026 tetap meningkat sekitar 1,98 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Adapun, BPH Migas menyebut kenaikan ini didorong oleh peralihan sebagian pengguna BBM nonsubsidi ke solar subsidi.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Timnas Jepang U-23 vs Thailand U-23 di Asian Games 2026
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Psikolog Umum Kompeten dan Siap Berikan Layanan di Puskesmas, Pendidikan, Organisasi serta Komunitas
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Kejam, Sopir Truk Dibakar Oleh Atasan dan Alami Luka Bakar Sampai 68 Persen
7 Kebiasaan yang Bikin Ban Motor Cepat Botak, Mana yang pernah Kamu Lakukan?
Ultah Ariel NOAH ke-45 Dirayakan Bareng Wulan Guritno, Ada Pelukan hingga Candaan Duda-Janda
Tak Lagi jadi Menkeu, Momen Purbaya Makan Bakso Berdua Istri dan Kembali Nyetir Sendiri
MK Diminta Batalkan Jabatan Wapres Gibran, Syarat Pendidikan Dipersoalkan
Mahfud MD Balas Sindiran Prabowo: Banyak juga Presiden yang Goblok

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022