Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 3 Juli 2017 | 04.59 WIB

Belasan Tahun di Dunia Perhotelan, dari Pelayan Hingga Manajer

Paundra Hanutama - Image

Paundra Hanutama

JawaPos.com – Bekerja dengan nyaman memang harus dari hati. Dengan begitu, setiap pekerjaan pasti akan dilakukan dengan sungguh-sungguh. Prinsip itulah yang dipegang teguh Paundra Hanutama, pria kelahiran 4 Juni 1982. Kini, posisi karirnya berada di level manajer hotel. Paundra Hanutama menjabat sebagai Marketing Communications Manager Hotel Aston Marina Jakarta.

Untuk berada di posisi tersebut, dilaluinya betul-betul dari bawah. Pada tahun 2000, Paundra lulus Sekolah Menengah Industri Pariwisata (SMIP) Solo, Jawa Tengah. Sejak awal masuk SMIP, Paundra memang sudah mencintai dunia perhotelan. Dia berpikir, industri perhotelan pasti akan tetap bertahan dan terus berkembang.

“Saya dikenalkan dengan dunia perhotelan sejak sekolah. Saat itu berpikirnya kerja di hotel enak. Karena itu saya daftar SMIP hingga melanjutkan D3 jurusan pariwisata di Solo,” ungkapnya.

Lulus kuliah D3 tahun 2003, Paundra langsung mendapatkan kesempatan bekerja di Singapura sebagai pelayan (waiter) di Hotel Royal Plaza on Scotts Singapura. Di sana, Paundra dengan tekun menggeluti pekerjaannya sebagai Waiter selama satu tahun pada 2004-2005. “Saat itu saya ingat bertepatan saat Tsunami. Dengan modal Bahasa Inggris yang enggak terlalu bagus, saya modal nekat saja,” ungkap ayah satu anak ini.

Sebetulnya bekerja sebagai waiter bukan kali pertama saat itu baginya. Tahun 1997-2000, Paundra juga pernah bekerja di restoran sebagai pencuci piring (dish washer). Dia bekerja setiap akhir pekan dengan upah per hari hanya Rp 5 ribu. “Lumayan lah saat itu, masih sekolah kan dapat uang segitu sudah senang banget. Kadang ada acara ulang tahun lalu saya juga ada tambahan. Hanya jadi dish washer,” tuturnya.

Pekerjaan itu dilakukannya dengan senang hati dan tanpa mengeluh. Dunia perhotelan, pariwisata, dan makanan (food and beverage) memang sudah sesuai panggilan hatinya. Satu tahun di Singapura, membuatnya rindu dengan kota Solo. Saat kembali, Paundra mendapatkan kesempatan bekerja di kapal pesiar (cruise line). Selama tahu tahun Paundra berlayar di kapal ke Amerika Serikat (AS). Lagi-lagi, dia menerima pekerjaan itu sebagai waiter.

“Saat di cruise sebagai waiter, saya mulai enggak nyaman. Karena di cruise itu enggak kenal hari libur. Kerja pagi jam 05.00-08.00 siapkan breakfast lalu boleh tidur atau istirahat. Kemudian menyiapkan lunch 11.00-12.00. Istirahat lalu persiapkan dinner. Begitu terus enggak ada libur di kapal saja,” ungkap pria yang hobi olahraga ini.

Hingga akhirnya, Paundra bertemu dengan seorang tamu. Dengan bahasa Inggris yang semakin fasih saat itu, tamu tersebut menilai Paundra sebagai sosok yang komunikatif. Paudra disarankan untuk memilih jalur lain selain sebagai pelayan. Misalnya sebagai juru bicara, humas, dan pekerjaan lainnya yang menggunakan modal kemampuan berkomunikasi yang unggul.

“Tamu itu bilang, Paundra kenapa kamu harus jadi waiter. Menurut dia saya bisa dapat lebih karena komunikasi saya dinilai baik olehnya. Mengapa enggak bekerja di bidang komunikasi? Tapi saat itu saya enggak mengerti, kira-kira tahun 2006-2007,” katanya.

Berbekal saran itu, Paundra langsung membanting setir. Dia langsung mencari banyak informasi soal ilmu komunikasi yang akan ditempuhnya. Pilihan hatinya jatuh pada London School of Public Relations. Dia menempuh studi selama 3,5 tahun dengan mengambil jurusan komunikasi massa. Paundra banyak belajar soal jurnalistik, kehumasan, dan periklanan. Selama belajar di sana, untuk mendapatkan gelar S1 dia diwajibkan untuk mengikuti magang. Tak tanggung-tanggung, Paundra langsung memeroleh kesempatan magang di hotel bintang lima yakni hotel HI Kempinski Jakarta.

“Saya magang di sana lalu training 6 bulan. Kemudian pihak Kempinski bilang bahwa saya melakukan pekerjaan dengan baik. Hingga saya diangkat menjadi karyawan kontrak tahun 2011-2014. Sebelum lulus kuliah sudah di sana sambil bolak-balik mengurus skripsi. Langkah awal karir di dunia komunikasi membuat saya banyak belajar mengenai brand, komunikasi, media relation, writing, press release dan menyenangkan,” ungkapnya.

Kesempatan karir lainnya datang lagi untuknya. Paundra ditawari bekerja di hotel lain selama dua tahun yakni Discovery Hotel and Convention Ancol. Sambil terus belajar di dunia barunya, Paundra tetap bersemangat untuk memelajari ilmu komunikasi. Atas semangatnya itu, dia diganjar kesempatan fellowships atau beasiswa ke Belanda selama enam bulan.

“Saya bilang ke atasan saya di Discovery, saya mau ambil kesempatan itu. Saya apply dan wawancara kemudian membuat essay dan persyaratan lainnya, saya ditempatkan di salah satu universitas terbaik di Belanda. Namanya The Christelijke Hogeschool Ede atau Christian University of Applied Sciences. Tentu banyak banget pengalaman berharga di sana dan bertemu orang-orang hebat di dunia,” katanya.

Setelah menempuh studi selama enam bulan, Paundra kembali ke tanah air. Tidak perlu menunggu lama untuk menganggur, hanya butuh waktu tiga hari, Paundra langsung diterima di Hotel Aston Marina Jakarta sebagai Marketing Communications Manager. Paundra masih berambisi dalam 3 hingga 5 tahun ke depan, dia sudah bisa mencapai posisi direktur.

“Dulu saya enggak mengerti ada ilmu komunikasi, biasalah orang kampung. Ternyata dunia saya banget. Belasan tahun saya di dunia hotel banyak plus dan minus. Begitu pula pesan saya untuk adik-adik yang ingin meniti karir, lakukanlah sesuatu yang diinginkan, bukan karena terpaksa. Memang untuk mencapai karir terbaik harus ada hal yang dibayar,” tutupnya. (cr1/JPG)

Editor: Muhammad Syadri
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore