Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 9 Mei 2018 | 21.50 WIB

Mengunjungi Kawasan Muslim di Bo - Kaap, Cape Town, Afrika Selatan

Tana Baru, kompleks pemakaman muslim di  Cape Town, Afrika Selatan. - Image

Tana Baru, kompleks pemakaman muslim di Cape Town, Afrika Selatan.


Tuan Guru. Karamats. Tana Baru. Deretan kata dalam bahasa Indonesia itu saya temukan ketika mengunjungi Bo-Kaap, salah satu daerah di Cape Town yang mayoritas penduduknya muslim.


ANY RUFAIDAH, Cape Town


---


KETIKA menginjakkan kaki di Cape Town, Afrika Selatan, dua pekan lalu, saya memang ingin mengunjungi Bo-Kaap. Sebab, daerah dengan kontur tanah naik turun itu terkenal dengan rumah-rumah berwarna cerah Merah, kuning, biru, hijau, dan warna menyala lainnya membuat permukiman itu terlihat menonjol di tengah kota. Mirip konsepnya dengan perkampungan warna-warni di beberapa kota di Indonesia.


Menurut panduan tur yang saya ikuti, warna-warna tersebut menunjukkan simbol kebebasan. Ratusan tahun lalu, mereka yang tinggal di sana adalah budak. Dan sebagai budak, mereka tak berhak mengenakan baju warna-warni. Kini, setelah tak ada lagi perbudakan, mereka merayakannya melalui cat rumah yang berwarna mencolok mata.


"Bisa juga begitu. Tapi, pada dasarnya kami memang suka warna-warni. Bikin happy," ujar Kaashief, driver Uber, lantas tersenyum ketika saya konfirmasi mengenai cerita di balik warna-warni bangunan rumah di Bo-Kaap.


Bapak dua anak itu warga asli Bo-Kaap. Saya bertemu dengan dia tanpa sengaja. Driver taksi online tersebut kebetulan mengambil order saya menuju Museum Bo-Kaap. Di museum itu ada cerita tentang perkembangan umat muslim di Afrika Selatan yang berasal dari warga Melayu.


Mereka sudah mendiami kawasan tersebut ratusan tahun lamanya. Lokasinya sangat strategis. Berada di pusat Kota Cape Town dan dekat dengan wilayah yang kerap dikunjungi turis, V&A Waterfront.


Di dalam museum, selain perkakas dapur, ada Alquran, sajadah, dan tasbih yang dipajang. Bangunan yang dimanfaatkan sebagai museum pun sudah berusia ratusan tahun. "Ini bangunan asli dari lama," kata Ponto, penjaga Museum Bo-Kaap. "Mereka dulu rata-rata perajin. Ada yang bikin baju. Ada yang bikin sepatu," lanjutnya.


Kini kawasan tersebut masih didominasi muslim Melayu. Namun, ada juga penduduk nonmuslim yang kini tinggal di kawasan itu. Tidak banyak hal menarik yang bisa saya dapatkan dari museum tersebut. Saya pun memutuskan untuk beranjak. Mengetahui saya muslim dan berasal dari Indonesia, Kaashief mengajak berkeliling Bo-Kaap. "Kamu mungkin familier dengan ini," katanya sembari melajukan mobilnya.


Sekitar lima menit kemudian, sampailah kami di sebuah kompleks pemakaman yang cukup terawat. Namanya Tana Baru. Sebagian ulama yang menyebarkan agama Islam di Afrika Selatan memang berasal dari Malaysia dan Indonesia yang dulu sama-sama dijajah Belanda. Karena itu, tidak heran jika ada beberapa kosakata Afrika Selatan yang hampir sama dengan bahasa Indonesia.


Di dalam kompleks tersebut ada beberapa makam ulama. Salah satunya yang dipanggil Tuan Guru. Sosok bernama asli Imam Abdullah Kadi Abdus Salaam itu adalah pangeran dari Tidore, Indonesia, yang ditangkap Belanda dan dibuang ke Afrika Selatan pada April 1780. Bentuk makamnya sederhana dengan nisan kecil yang ditutupi kain putih. Ada papan bertulisan karamats. Artinya hampir sama dengan kata keramat dalam bahasa Indonesia.


"Apakah warga setempat sering mengunjungi tempat ini?" tanya saya. Tentu saja saya merujuk pada kebiasaan ziarah ke makam ulama seperti yang kerap saya temukan di Indonesia. "Kenapa harus dikunjungi? Saya yang rumahnya dekat saja tidak pernah ke sini. Warga lain juga rasanya tidak ada yang ke sini," tanya Kaashief balik dengan nada heran.


Tuan Guru itu pula yang menginisiatori berdirinya madrasah atau sekolah Islam di Cape Town. Beliau pula yang memperjuangkan berdirinya Masjid Al Auwal, masjid pertama di Bo-Kaap, Cape Town, pada 1794.


Kaashief lantas mengajak saya mengunjungi masjid tersebut. Tidak ada halaman luas atau kubah cantik layaknya masjid yang sering saya temukan di Indonesia. Bangunan Masjid Al Auwal sangat sederhana. "Ada sembilan masjid di sini. Kamu mau lihat semuanya?" tanya Kaashief yang langsung saya sambut dengan anggukan.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore