
Makam Kondo Isami, salah satu komandan Shinsengumi.
Nama Shinsengumi pernah sangat disegani pada masa akhir kepemimpinan Shogun Tokugawa (Bakumatsu) di Jepang. Hingga kini, popularitas pasukan polisi khusus Kyoto itu belum memudar. Wartawan Jawa Pos MAHARANI WANODYA A.P. menelusuri jejak korps kepolisian yang dipimpin Kondo Isami tersebut dua pekan lalu.
---
MASA aktif Shinsengumi memang hanya setengah dekade (1863-1868). Tapi, nama pasukan bentukan Matsudaira Katamori itu terus dikenang sampai sekarang. Sebab, pada masa jayanya, korps berjuluk Serigala Mibu tersebut tak kenal ampun dalam menegakkan hukum Tak hanya kepada pelanggar hukum, tapi juga di internal anggota kepolisian sendiri. Berani melanggar aturan Shinsengumi, konsekuensinya nyawa bisa melayang. Anggota korps tersebut mencapai 400 orang.
Kiprah Shinsengumi tamat seiring runtuhnya pemerintahan Bakufu pada 1868. Meski begitu, saksi bisu sepak terjang mereka masih eksis di berbagai penjuru Kyoto, sampai kini. Dan, jejak-jejak sejarah itu sekarang menjadi salah satu daya tarik wisata bagi turis, baik domestik maupun mancanegara.
Saya tiba di Kyoto pada 30 Juni lalu. Awalnya saya berencana mengunjungi Uzumasa Eigamura (Toei Kyoto Studio Park) dan Ninnaji Temple, lokasi syuting film Rurouni Kenshin. Kebetulan, dua tempat itu berdekatan.
Tapi, hati saya terdeviasi setelah melihat ekshibisi film anime (animasi) Peace Maker Kurogane (PMK) karya Chrono Nanae di lobi Uzumasa Eigamura, theme park yang biasa digunakan untuk lokasi syuting serial drama bertema sejarah. Di sebelah lokasi ekshibisi, berdiri minibooth yang dilengkapi stempel mungil plus tumpukan leaflet yang didominasi warna cokelat emas dan biru.
Rupanya, mulai 26 Mei hingga 8 Juli 2018, Uzumasa Eigamura dan jaringan trem Randen mengadakan event kolaboratif. Siapa saja yang berhasil mengumpulkan tujuh stempel yang bermotif tokoh-tokoh sentral film PMK dalam versi super deformed akan mendapatkan badge (lencana) bergambar pasukan Shinsengumi. Badge edisi khusus itu tidak dijual di pasaran mana pun.
Dikompori jiwa fangirl, saya bertekad mengoleksi seluruh stempel yang disebar di lokasi-lokasi yang berkaitan dengan sejarah Shinsengumi dan Randen itu. Hitung-hitung sekalian meresapi kisah Shinsengumi.
Dua di antara tujuh stempel tersebut diletakkan di Padio lantai 1 dan 2 Uzumasa Eigamura. Yaitu, stempel tokoh utama PMK Ichimura Tetsunosuke dan Yamazaki Susumu, mata-mata Shinsengumi. Untuk diketahui, seluruh tokoh dalam PMK benar-benar ada di dunia nyata walaupun visualisasinya berbeda.
Tak mudah untuk menemukan lima lokasi yang tersisa. Hiroko, warga setempat yang saya temui di Uzumasa Eigamura, berbaik hati membantu membacakan tulisan kanji. Dia memberi tanda tiga lokasi -yaitu Mibudera, Stasiun Randen Shijou Omiya, dan Randen Bar di Stasiun Randen Arashiyama- pada peta Kyoto yang saya bawa.
Sementara itu, dua lokasi sisanya, yakni Yagi-tei dan Honkouji, masih abu-abu. ''Yagi-tei itu di sekitar Mibudera, tapi saya nggak tahu lokasi pastinya karena belum pernah ke sana. Kalau Honkouji, rasanya tak jauh dari Kuil Nishi Hongan-ji,'' kata perempuan yang bekerja sebagai office lady itu.
Petunjuk sudah didapat, eh, konspirasi semesta menjegal langkah saya. Cuaca yang diperkirakan hanya mendung di sebagian wilayah Kyoto ternyata tak bersahabat. Begitu keluar dari Uzumasa Eigamura saat sore, hujan turun disertai petir menyambar.
Tak mau menyerah, Senin pagi (2/7), saya kembali lagi ke Kyoto. Kali ini saya gerak cepat. Turun dari kereta ekspres Keihan Line di Stasiun Kyoto, saya naik kereta Karasuma Line menuju Stasiun Omiya yang berseberangan dengan Stasiun Randen Shijou Omiya.
Tidak terlalu sulit menemukan minibooth PMK di stasiun yang berada di perempatan Shijou Omiya-dori itu. Sebab, posisi stempel Harada Sanosuke, kapten Unit 10 Shinsengumi, pas di depan kanan rel trem Randen. Dari situ, saya naik trem menuju Arashiyama. Baru 10 menit trem melaju, cuaca bergolak lagi. Hujan deras plus angin kencang menggoyang trem berwarna ungu yang saya tumpangi. Duh, kok ya begini amat cobaan Shinsengumi pilgrimage ini.
Sampai di Arashiyama yang berjarak sekitar 8 km dari Shijou Omiya, saya langsung menuju Randen Bar di bagian ujung stasiun. Tanpa hambatan berarti, stempel Kapten Unit 2 Shinsengumi Nagakura Shinpachi yang dipajang di teras tercetak manis di leaflet saya.

Persebaya Surabaya Rayakan Kembalinya Bruno Moreira, Bonek Kompak Satu Suara
14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Link Live Streaming Semifinal Uber Cup 2026 Indonesia vs Korea Selatan dan Line-up Pertandingan
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
