
Lukisan tangan di Gua Bloyot di kawasan Karst Sangkulirang
Ada puluhan gua di kawasan karst Sangkulirang-Mangkalihat yang kaya peninggalan prasejarah. Tapi, surat izin usaha yang telah dikantongi berbagai perusahaan bisa menimbulkan ancaman kerusakan.
M. RIDHUAN, Kutai Timur
---
PADA jalur menuju Gua Liang Karim itu, kekuatan napas dan kaki serta keteguhan hati diuji benar. Betapa tidak, kemiringannya 80 persen. Bahayanya lagi, banyak batu yang menjadi pijakan gampang lepas.
Tapi, begitu sampai di gua berupa liang atau lubang sepanjang 6 meter, segala kesulitan itu seperti terbayar. Ada gambar cadas (garca) berupa sarang lebah madu raksasa. Ukurannya sekira 1,5 meter. Ribuan titik digambar. Tempat lebah menyimpan madu.
Selain sarang lebah, cap tangan negatif juga ditemukan. Sayang, banyak yang sudah rusak. Lokasinya terlalu terjangkau tangan manusia.
Bahkan, lokasi di satu ceruk kecil sering dijadikan tempat berfoto.
"Tubuh kita mengeluarkan panas yang bisa meningkatkan suhu gua. Makanya, dilarang mendekat ke gambar dalam kondisi tubuh berkeringat setelah berjalan, apalagi menyentuhnya," kata Sugianur, salah seorang juru pelihara (jupel) gua, yang mempelajari informasi tersebut dari BPCB (balai pelestarian cagar budaya).
Gua Liang Karim hanyalah satu di antara puluhan situs prasejarah di kawasan Karst Sangkulirang-Mangkalihat, Kutai Timur, Kalimantan Timur. Di kawasan seluas 1,8 juta hektare itu pula terdapat Gua Lubang Jeriji Saleh, tempat garca atau seni figuratif berupa lukisan binatang tertua di dunia ditemukan.
Dalam artikelnya di jurnal Nature yang terbit Rabu lalu (7/11), Maxime Aubert, arkeolog dan profesor di Griffith University, Australia, menyebutkan bahwa lukisan yang diduga banteng liar itu berumur 40 ribu sampai 52 ribu tahun.
Usia tersebut lebih tua dari pemegang rekor sebelumnya. Lukisan babi dan rusa di kawasan Karst Maros, Sulawesi Selatan, yang berusia 35 ribu tahun.
Jauh sebelum muncul di jurnal tersebut, Kaltim Post bersama rombongan BPCP Kaltim mengunjungi kawasan karst di Hambur Batu, Desa Tepian Langsat, Kecamatan Bengalon, Kutai Timur, itu pada Agustus lalu. Yang berjarak sekitar 270 kilometer dari Samarinda, ibu kota Kalimantan Timur.
Tim dari BPCP diketuai Edy Gunawan. Tiga di antara empat anggota tim adalah perempuan. Yakni, Jeli, Soraya, dan Fitri. Satu anggota pria adalah Nanda.
Mereka bertugas meneruskan hasil kajian konservasi yang dilakukan tim sebelumnya. "Untuk melihat dan melakukan upaya untuk mengurangi kerusakan gambar dalam gua," kata Edy.
Tidak mudah menembus kawasan karst tersebut. Dimulai dengan perjalanan darat bermobil selama delapan jam dari Samarinda. Dilanjutkan berperahu melalui Sungai Bengalon menuju Sungai Marang.

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
