Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 20 November 2018 | 15.00 WIB

Sunyi, Sendiri, Penuh Risiko: Kehidupan Para Penjaga Rompong (1)

DI TENGAH LAUT: Aldi Novel Adilang menambatkan perahu untuk naik ke rompong yang dijaga Deko Tahulending. - Image

DI TENGAH LAUT: Aldi Novel Adilang menambatkan perahu untuk naik ke rompong yang dijaga Deko Tahulending.

Hanyut berbulan-bulan sampai ke negeri jauh tak ada apa-apanya dibanding risiko paling mengerikan: ditabrak kapal. Wartawan Jawa Pos TAUFIQURRAHMAN mendatangi langsung tempat kerja para penjaga rompong di sekitar perairan Sulawesi Utara. 


--


OMBAK setinggi 2 meter bergulung berganti-ganti menghantam lunas perahu kami yang lebarnya kurang dari 1 meter. Tapi, Aldi Novel Adilang yang duduk di anjungan tetap tampak riang. Berkali-kali dia berswavideo lewat smartphone miliknya.


Juli lalu pemuda 19 tahun yang sempat ramai diperbincangkan karena hanyut selama 49 hari di Samudra Pasifik itu tampak riang. ”Ini pertama kalinya saya melaut sejak hanyut dulu,” katanya sebelum kami berangkat dari Pantai Minahasa Utara, Sulawesi Utara, akhir Oktober lalu.


Kami berangkat berlima. Di belakang Aldi ada Herlina Bora, kakak ipar yang mengurus kepulangan Aldi kemarin, lalu saya. Alvian Adilang, ayah Aldi, ada di buritan memegang kemudi perahu serta Columbus Tater, paman Aldi.


Sejam kemudian, apa yang kami cari mulai tampak di kejauhan. Sebuah titik putih mengapung sendirian di tengah lautan. ”Itu dia rakitnya,” seru Columbus sambil menunjuk titik putih.


Persisnya bukan rakit. Melainkan rumah rakit alias rompon atau rompong. Columbus secara hati-hati mendekatkan perahu ke rakit. Ada banyak tambang berseliweran di sekitar rakit. Jika cadik perahu kami tersangkut, kami tidak bisa pulang ke darat.


Aldi dan Alvian beberapa kali meneriakkan permisi ke arah rakit. Awalnya tidak bersahut, pintu rumah rakit pun tertutup tirai. Dari dalam terdengar musik pop Manado cukup keras. Setelah perahu semakin dekat, barulah musik mengecil dan si penjaga, Melki Yohanes alias Buang, muncul dari balik tirai. 


Rompong ini sejenis gubuk kayu yang diikat di atas jalinan bambu. Diapungkan di atas air laut dan ditambatkan pada pelampung semacam tongkang/ponton. Ponton biasanya mengapung beberapa meter di dekat rompong. Ponton itu tersambung dengan lima utas tambang yang tersambung ke sebuah sauh yang ditanam ribuan meter di dasar laut di bawahnya.


Rompong ramai diperbincangkan setelah apa yang terjadi dengan Aldi. Masih di Juli lalu juga, Stenly Tatoy, warga Minahasa lainnya, ternyata juga hanyut. Oktober lalu baru diketahui pria 37 tahun itu terdampar di Pulau Yap yang masuk wilayah negeri liliput di Pasifik: Federasi Mikronesia.


Di tiap rompong ada tiga utas tambang yang menghubungkannya dengan ponton. Jika tali-tali itu putus, rompong akan hanyut. Karena tanpa ”pertahanan” sama sekali, hanyutnya bisa jauh sekali. Bergantung ombak dan arah angin. 


Fungsi rompong sama dengan rumpon ikan (pengumpul ikan, fish attractor). Praktik memasang rumpon ikan bukan hal yang baru di Indonesia. Namun, rumpon yang ditinggali manusia hanya ditemui di lautan Sulawesi dan Maluku Utara. 


Di siang hari ikan-ikan akan banyak berkumpul di sekitar rakit karena teduh. Tapi, pada malam hari, akan lebih banyak ikan yang berkerumun karena penjaga rompong memasang empat hingga lima buah lampu merkuri ukuran besar. Jika sudah cukup banyak ikan di bawah rompong, si penjaga lantas mengontak armada kapal di darat untuk datang dan memanen ikan.


Menginjakkan kaki ke rompong tidak mudah. Saya beberapa kali hampir jatuh. Tapi, pemandangannya sungguh khas. Ikan-ikan bermacam warna, dari yang kecil hingga ukuran sedang, dengan sukacita terlihat berenang-renang di bawah rakit. Sementara beberapa meter dari rakit terlihat sekawanan bayi tuna melompat-lompat dalam kerumunan besar yang berbentuk setengah lingkaran mengitari rakit.


Sebuah cabang pohon silar (semacam gebang, palem) dengan untaian daun-daun berbentuk kipas diikat ke rakit dan dibiarkan melambai-lambai seperti ekor putri duyung beberapa sentimeter di bawah permukaan air. Selain sebagai penarik ikan, pohon silar ini berfungsi sebagai tempat tumbuh kerang laut sekaligus menarik plankton. Membuat ikan kerasan di bawah rakit.

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore