
PANTANG MENYERAH: Dari kiri, Adhika, Puteri, Erwin, dan Iman di Koptul Duren Tiga, Jakarta Selatan (4/12).
Koptul di Duren Tiga itu dihiasi foto sejumlah tokoh. Semua kalangan tuli dengan raihan mengagumkan.
Ada Helen Keller, penulis sekaligus aktivis perempuan tunarungu. Juga, Millicent Simmonds, aktris remaja tunarungu yang dikenal di film Quiet Place. Ada pula Nyle Dimarco, model pria tunarungu yang melambung namanya lewat America's Next Top Model edisi ke-22.
Untuk cabang kedua, trio pendiri bekerja sama dengan Iman, teman Erwin yang juga tunarungu. Iman meminta kepada orang tuanya agar ruko tiga lantainya boleh digunakan untuk Koptul. Permintaan itu disampaikan setelah dia tertarik dengan keramaian Koptul di Depok.
Koptul di Depok berdiri setelah Adhika, Puteri, dan Erwin bertemu dan memutuskan ingin melakukan sesuatu. Puteri menganjurkan langkah itu dimulai dari hal-hal sederhana yang disuka.
Adhika lantas mengusulkan untuk berwirausaha dengan membuka kedai kopi. Puteri dan Erwin setuju dengan ide itu.
"Karena saya suka kopi dan memang suka membuat kopi," kata pria 28 tahun itu.
Saat itu sudah ada pikiran bahwa kedai kopi tersebut nanti harus bisa diberdayakan untuk kawan-kawan yang senasib dengan mereka. Namun, itu nanti. Tantangan pertama adalah menemukan tempat dulu.
Adhika akhirnya menyampaikan kepada salah seorang pamannya agar diizinkan untuk menggunakan salah satu sudut ruangan. Gayung bersambut, izin didapatkan. Jadilah Koptul di Depok resmi berdiri pada 12 Mei 2018.
Kali pertama berjualan, Adhika mengaku belum memiliki konsep yang pasti. Padahal, yang dilayani bukan hanya teman tuli, tapi juga teman dengar. Jadilah ketiganya sempat bingung saat awal-awal melayani pelanggan teman dengar.
"Kami putuskan sodorkan kertas untuk menulis menunya," kata Adhika.
Namun, itu tidak efektif. Dari situlah muncul konsep agar teman dengar bisa sedikit mengenal bahasa isyarat. Yakni, memasang simbol bahasa isyarat di menu.
Strategi itu ternyata memudahkan para pelanggan untuk memilih menu yang disukai. "Menunya sengaja kami bikin besar biar bisa langsung ditunjuk," jelas Adhika.
Koptul ternyata menarik minat pelanggan. Puteri mencatat, 60 persen pelanggan yang datang adalah teman tuli. Sisanya, 40 persen, adalah teman dengar. Dalam sehari, Koptul bisa menjual rata-rata 100 cup kopi.
Khusus untuk jenis kopi, Koptul menjatuhkan pilihan kepada kopi Ciwidey arabica dan kopi Papua Wamena arabica. "Kalau kopi Ciwidey itu dari keluarga, kalau Papua Wamena itu seimbang, tidak terlalu strong atau lembut," jelas Puteri.
Terhitung sejak November, berdirilah Koptul kedua atas kerja sama dengan Iman. Iman mengaku tertarik dengan Koptul saat datang dalam perayaan reuni. "Waktu datang kali kedua, akhirnya kerja sama di sini," kata Iman, yang mengaku menyukai Kosu Siput buatan Puteri.
