
Mahasiswi Ubaya Lisa Stefany Ubaya lulus dengan skripsi setebal 1.150 lembar. (Fajar Anugrah Tumanggor/Jawa Pos)
Biasanya skripsi menjadi momok para mahasiswa tingkat akhir. Sampai ada yang telat lulus. Tapi, tidak dengan Lisa Stefany. Selain selesai cepat, skripsinya sangat tebal hingga membuat orang geleng-geleng kepala: 1.150 halaman.
FAJAR ANUGRAH TUMANGGOR, Surabaya
NAMA Lisa Stefany mendadak viral. Sebuah akun Instagram meng-upload skripsi lulusan Manajemen Pemasaran, Fakultas Bisnis dan Ekonomika, Ubaya. Sebab, skripsi yang berjudul Studi Eksploratori Artist Brand Building Make-up Artist, Fashion Designer, dan Photographer tersebut memiliki 1.150 halaman. Lisa mengerjakannya selama 45 hari atau satu setengah bulan saja. Padahal, biasanya mahasiswa lulus dengan skripsi tiga digit di belakang saja (150 halaman) dalam waktu lebih dari setahun.
Saking tebalnya, Lisa harus mengerahkan tenaga ekstra ketika memindahkan skripsi ke ruang perpustakaan Ubaya pada Senin (29/4). ''Ya memang tebal. Sebab, saya memikirkannya sejak semester V,'' katanya.
Karena itu, ketika mulai intens mengerjakan skripsi, dia tinggal menuliskan apa yang disusunnya sejak jauh hari.
''Mulai April, tapi baru intens pada 1 Mei 2018,'' ucapnya. Konsultasi terakhir dengan dosen pada 7 Juni 2019, kemudian sidang skripsi dan dinyatakan lulus. ''Ya sekitar 45 hari itu,'' katanya. Namun, tidak berarti pengerjaan skripsi itu mulus-mulus saja. Sebab, jadwalnya sudah mepet. Tinggal dua bulan. ''Agak pesimistis sih. Katanya jika intens ngerjakan, selesainya antara tiga bulan hingga enam bulan,'' tuturnya. Tapi, dia pede saja dan memaksa diri untuk menulis.
Photo
Saat Lisa Stefany mencetak setengah dari skripsinya, printer yang dimilikinya sempat rusak. (Fajar Anugrah Tumanggor/Jawa Pos)
Untuk bisa mencapai hasil yang cepat, tentu saja dia mengorbankan banyak waktu Termasuk tidurnya. ''Rata-rata hanya empat jam sehari,'' terangnya. Pada pagi hingga sore, dia tak bisa maksimal mengerjakan skripsi karena tetap harus mengikuti perkuliahan. Apalagi, dia mengulang sejumlah mata kuliah untuk perbaikan.
Mengetik 1.000 lembar halaman saja sudah tugas ekstra. Apalagi membuat karya ilmiah yang harus bisa dipertanggungjawabkan dalam sidang skripsi. Beberapa kali Lisa merasa patah semangat. Terutama ketika sejumlah narasumber yang diwawancarai tiba-tiba sulit ditemui atau tak mau berbicara. ''Jadi, saya harus meyakinkan mereka untuk mau diwawancarai. Untung, semua narasumber yang saya butuhkan akhirnya bersedia,'' terangnya.
Setelah narasumber bersedia, Lisa juga harus merancang jadwal pertemuan dan wawancara. Ada enam narasumber yang harus dijumpai. ''Dua make-up artist, 2 fashion designer, dan 2 fotografer,'' paparnya. Galibnya sebuah janji wawancara, kerap kali jadwalnya molor. Atau, tiba-tiba ada yang kurang dan harus wawancara ulang. Tapi, tekad keras Lisa membuahkan hasil. Skripsinya pun jadi.
Masalah belum berhenti. Sebab, tak semua penjilidan bersedia atau bisa mencetak skripsi setebal itu. ''Mereka mendahulukan skripsi yang halamannya sedikit,'' keluhnya. Bahkan, ada percetakan yang tak berani mencetak, takut alatnya rusak. ''Baru nge-print dapat setengah, eh...printer-nya rusak,'' katanya, lantas tertawa.
Lisa akhirnya meminta bantuan teman-temannya. Mereka mencicil satu per satu skripsi selama sepuluh hari. Sebab, ada empat rangkap yang harus disediakan. Masing-masing diberikan ke tiga dosen penguji dan satu dosen pembimbing. ''Intinya, mereka jadi orang-orang yang mendukung saya. Saya ucapkan terima kasih," imbuhnya.
Pada 10 Juli 2018, Lisa menjalani sidang skripsi. Tentu saja skripsi tebal itu bisa dipertahankan dengan baik oleh Lisa. Semua dosen penguji menyatakan Lisa lulus. ''Saya plong. Betul-betul lega," ujarnya. Dia pun diwisuda pada 15 September 2018. Hal itu sudah diprediksi. Tentu saja bukan karena dosennya malas menguji skripsi setebal itu, tapi tentu Lisa memang benar-benar menguasai apa yang ditulis dalam skripsi tersebut.
Photo

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
