Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 14 September 2019 | 03.48 WIB

Kisah Ojol Spesialis WNA: Enggak Paham Inggris, Hanya Jawab Yes dan No

peduli: Pengurus Komiunitas Tandon memberikan bantuan kepada Ismail di rumahnya pertengahan Oktober lalu. (Komunitas Tandon for Jawa Pos) - Image

peduli: Pengurus Komiunitas Tandon memberikan bantuan kepada Ismail di rumahnya pertengahan Oktober lalu. (Komunitas Tandon for Jawa Pos)

Para driver ojek online (ojol) ini ibarat tim khusus. Mereka tergabung dalam komunitas Gojek in English. Selain mengantar penumpang, mereka bertugas jadi penunjuk arah wisatawan asing yang singgah di Kota Pahlawan.

ARIF ADI WIJAYA, Jawa Pos

---

SUGENG Riyadi selalu ingat pengalaman kali pertama mengantar turis asing yang naik sepeda motornya. ”Perempuan. Tingginya mungkin 190 sentimeter. Rambutnya pirang. Kulitnya putih kemerahan. Mengaku berasal dari Norwegia,” kata pria asal Bojonegoro tersebut.

Dia tidak akan lupa karena saat itu di sepanjang perjalanan ke alamat yang dituju, hampir semua pengendara menoleh ke arahnya. ”Lah, penumpangnya pakai pakaian serbamini,” ujarnya. Tetapi, Sugeng tetap profesional. Dia mengantar sang penumpang dengan selamat sampai tujuan meski grogi di sepanjang jalan. ”Orangnya ramah. Ngajakngomong saya terus. Tapi, saya enggak bisa mbalesi. Lah ora ngerti. Ta jawab yes miss, no miss saja,” ujarnya, kemudian tertawa.

Membawa tamu dari luar negeri juga dialami Dedi Kusuma. Tetapi, pengalaman itu membuatnya kesal. ”Sebelum ke tempat tujuan, tamunya minta diantar mencari tukang sol sepatu,” tuturnya. Dijemput di daerah Ngagel, tamunya akan menuju apartemen di Jalan HR Muhammad. Sebelum sampai tujuan, Dedi berkeliling mencarikan tukang sol sepatu untuk tamunya. Hampir sejam, akhirnya mereka menemukan tukang sol sepatu. ”Disuruh nungguinselama 40 menitan, terus minta diantar ke tujuan sesuai aplikasi Hampir tiga jam cuma untuk turis asal India itu. Terus, sampai di lokasi, dibayar sesuai aplikasi juga Rp 17 ribu. Ya Allah,” ceritanya. Menurut Dedi, pengalaman tersebut tidak pernah dia jumpai sebelumnya. Tidak pernah ada penumpang yang serewel itu.

Sumargo, ketua komunitas Gojek in English, mengaku mendengar banyak cerita dari anggota komunitas yang mendapatkan penumpang wisatawan asing. Ada yang menyenangkan. Ada pula yang menjengkelkan. Anggota komunitas yang berjumlah 25 orang memang belum lancar berbahasa Inggris. Sebagian besar masih belajar. Karena itu, wajar jika masih ada yang merasa tidak percaya diri, kikuk, atau grogi saat mendapatkan penumpang turis asing.

Meski demikian, mantan manajer marketing PT Sungsan Global itu mengapresiasi semangat para anggota yang didominasi pengemudi berusia di atas 40 tahun tersebut. Meski sudah berumur, mereka masih semangat belajar.

Sejak dibentuk pada medio 2017, komunitas itu aktif mempelajari berbagai istilah bahasa Inggris. Khususnya yang diperlukan dalam percakapan antara driver ojol dan penumpang. ”Masih banyak yang salah ucap, salah bicara. Tapi tidak masalah. Namanya juga belajar,” tuturnya.

Sumargo mengatakan bahwa Rumah Bahasa di Balai Pemuda yang merupakan tourist information center menjadi markas komunitas Gojek in English. Di tempat itulah para anggota komunitas belajar berkomunikasi dengan menggunakan bahasa Inggris. Nah, rata-rata penumpang kewarganegaraan asing didapatkan dari Rumah Bahasa. ”Setiap kali ada turis, Rumah Bahasa menghubungi kami untuk mengantarkannya. Jadi, seperti penunjuk arah bagi wisatawan asing yang berkunjung ke Surabaya,” ungkap pria 48 tahun itu.

Di Rumah Bahasa, ada tutor yang mengajari para driver berbahasa Inggris. Kadang ada pula native speaker yang didatangkan untuk mengajari mereka. Nah, itu menjadi kesempatan bagi para anggota untuk melatih kepercayaan diri berbicara langsung dengan turis luar negeri. Meski masih kaku, semua anggota komunitas terus didorong agar mau belajar dan mencoba.

Sumargo menjelaskan, hampir dalam setiap percakapan di WhatsApp pribadi maupun grup, para anggota disarankan menggunakan bahasa Inggris. Tujuannya, melatih kemampuan para anggota dalam berbahasa Inggris. Baik verbal maupun tertulis.

Sumargo berharap para anggota bisa mengembangkan kemampuan berbahasa Inggris masing-masing. ”Manfaatnya banyak. Termasuk untuk mengikuti perkembangan teknologi sekarang yang rata-rata fitur-fitur digital sudah pakai bahasa Inggris,” ucapnya. 

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore