
SALING DUKUNG: Harynurdin Makmoer bersama istrinya, Maria Fie Iee. (Kartika Sari/Jawa Pos)
Selama 14 tahun, pipi kiri Harynurdin Makmoer tidak berhenti kedutan. Kondisi itu disebut tidak membuat sakit secara fisik, tetapi lebih ke sakit hati.
KARTIKA SARI, Surabaya
HARYNURDIN Makmoer sudah terbebas dari gangguan hemifacial spasm (HFS) yang dideritanya. Itu adalah gangguan saraf pada wajah yang ditandai dengan gejala seperti kedutan di bawah mata. Sebelumnya, selama 14 tahun lelaki 57 tahun itu hidup dengan kondisi tersebut.
Hary menceritakan, pada 1993 dirinya merasakan gerakan yang tak berhenti setiap saat di pipi kirinya. Bahkan, saat tidur, dia juga mengalaminya. Bila suasana hatinya sedang tidak baik atau saat suasana tertentu yang mengakibatkan jantungnya berdetak lebih cepat, kedutan itu makin menjadi-jadi.
Semakin hari, semakin parah kedutan di wajahnya. Setahun berselang, kedutan menjalar ke atas hingga bagian mata. Akibatnya, alat penglihatannya tersebut setiap saat berkedip-kedip. Hal itu jelas mengganggu hidupnya, baik dalam bersosialisasi maupun menjalankan pekerjaan ”Ketika saya berbicara dengan orang lain, mereka kadang risi. Mungkin mereka pikir saya ini lelaki genit karena suka kedip-kedip. HFS ini tidak membuat sakit secara fisik, tapi lebih ke sakit hati karena orang menilai yang tidak-tidak,” ucap lelaki yang tinggal di Darmo Hill, Jalan Pakis Argosari, Kecamatan Dukuh Pakis, itu.
Berbagai macam pengobatan pun dia jalani. Mulai minum jamu herbal, pijat, botoks, hingga pengobatan medis ke dokter. Hary tidak hanya berkunjung ke dokter spesialis di Surabaya, tapi juga luar kota. ”Saya juga pernah menjalani pengobatan dengan jarum. Amandel saya waktu itu ditusuk dengan jarum sepanjang 30 sentimeter,” kenangnya.
Mengetahui usahanya itu sia-sia, Hary memutuskan bertolak ke Singapura. Dia mendapat rekomendasi dari kawan-kawannya bahwa di negara tersebut sudah ada teknologi dan dokter yang mumpuni di bidang itu. Hary pun berharap di negeri itu, dirinya bisa mendapatkan pengobatan dan segera sembuh.
Beberapa dokter saraf dia datangi. Salah seorang dokter saraf mengatakan bisa menyembuhkan Hary dengan operasi dari belakang telinga. Namun, operasi itu akan membuat saraf-saraf telinga terpiting dan mengidap tuli 80 persen. Mendengar pernyataan dokter tersebut, Hary beralih ke dokter saraf lain.
Namun, lagi-lagi Hary kecewa. ”Dokter bilang bahwa suami saya bisa lumpuh sewaktu-waktu dan meninggal mendadak karena sudah kena batang otaknya,” tutur Maria Fie Iee, istri Hary. Hal itu tentu membuat pasutri tersebut takut.
Fie Iee merasa sedih. Dia menangis dengan tak bersuara sambil membelakangi suaminya ketika di dalam kamar. Air matanya tak bisa dibendung. ”Saya tidak memperlihatkan kesedihan di depan suami. Habis itu saya basuh wajah dengan air agar suami tidak tahu bahwa saya habis menangis,” katanya.
Lalu, Hary diberi tahu dokter saraf lain di Singapura bahwa di Surabaya ada dokter yang bisa menangani kondisinya. Dialah dr Sofyanto SpBS yang saat itu berpraktik di RS Husada Utama. Kemudian, Hary dan istri kembali ke Surabaya untuk menemui dokter yang dimaksud.
Awalnya Hary tidak percaya dengan dokter itu. Sebab, Sofyanto terlihat tenang-tenang saja melihat kondisi Hary. ”Lalu, dia menjelaskan bahwa kondisi saya ini terjadi karena saraf nomor tujuh menempel dengan pembuluh darah sehingga menyebabkan kedutan,” ucapnya.
Dalam perjalanannya berkonsultasi dengan Sofyanto, Hary bertemu dengan Brain Spine Community, komunitas para penderita HFS. Dia sharing dengan pasien yang sudah sembuh dari HFS dengan operasi. Melihat hal tersebut, Hary pun yakin untuk menjalani operasi pada 2007.
Kini, kedutan tersebut sudah tak dirasakan lagi. Rasa syukur selalu dipanjatkan kepada Yang Mahakuasa oleh Hary dan istri. Keduanya kini aktif dalam Brain Spine Community. ”Sekarang saya sering sharing dengan teman-teman di komunitas. Bercerita ke mereka bahwa HFS bukanlah suatu penyakit. Kitanya saja yang sedang apes,” kata Hary. Kini dia lebih lancar bekerja dengan istrinya di Suroboyo Carnival.

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
Terdepak dari Puncak Klasemen Liga Inggris, Bayang-bayang Kegagalan Juara di Akhir Musim kembali Menghantui Arsenal
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Profil Agnes Aditya Rahajeng, Pemenang Puteri Indonesia 2026
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
