
Mengenang - Seorang warga menyaksikan foto Didi Kempot hasil jepretan fotografer asal Solo Dedy Timbul di perempatan Ngarsopuro, Solo, Minggu (10/5). Pemkot Surakarta berencana membuat monumen untuk mengenang dan menghargai jasa penyanyi campursari Did
Manisnya karir tak didapat Didi Kempot begitu saja. Ada perjuangan berat yang dilalui. Kuncinya adalah terus berjalan di jalur yang diyakini. Tak berhenti meski dalam kondisi terburuk sekalipun.
SHAFA NADIA, Jakarta, Jawa Pos
---
SEKITAR 33 tahun lalu Didi Kempot datang ke ibu kota. Mau memperbaiki nasib, ceritanya.
Mengetuk pintu studio satu ke yang lain sembari mengamen sebelum akhirnya dilirik Musica Studio. Rekaman dilakukan pada 1989. Debut albumnya rilis setahun kemudian. Salah satu lagu andalannya adalah Cidro.
Namun, jangan bayangkan Didi sudah langsung menjadi superstar. Lagu-lagu campursari yang dia bawakan belum mampu menarik banyak orang. Padahal, undangan tampil dari Suriname dan Belanda sudah mulai berdatangan. Tapi, tak banyak penikmat musik Indonesia yang mampu merasakan klik dengan lantunan Didi itu.
Meski tidak mengetahui detail perjuangan Didi waktu awal karir, Blontank Poer yang dikenal meyakinkan bahwa perjalanan hidup sahabatnya tersebut tidaklah mudah. ”Bisa dibilang lumayan berdarah-darah,” kata pria kelahiran Klaten, Jawa Tengah, itu kemarin (10/5).
Blontank mengingat Didi sebagai pribadi sederhana. Yang juga selalu diingatnya adalah Didi tidak pernah mau terlibat konflik dengan siapa pun. Itulah alasan Didi tak pernah mempermasalahkan lagu-lagunya dibawakan siapa saja. Tak ada niat meminta kompensasi hak cipta.
Bahkan, beberapa kali Didi malah berkolaborasi dengan para penyanyi itu. ”Mas Didi memang begitu. Banyak orang yang membahas copyright lagu-lagunya dan menawarkan untuk mengurus, dia nggak mau. Katanya biarin aja, mereka sedang mencari rezeki, cuma jalannya aja yang salah,” kenang Blontank.
Selama menjalani karir, Didi Kempot setia di jalur campursari. Lagu-lagunya juga dibuat dalam bahasa Jawa. Dia tak peduli meski pendengarnya terbatas. Biasanya hanya mereka yang masuk usia sepuh yang mendengarkan lagu-lagunya. Kalaupun ada yang muda, mereka pastilah dari sekolah seni.
Namun, semua itu berubah dua tahun terakhir. Fansnya jadi didominasi generasi milenial. Konser-konsernya dipenuhi penonton anak muda. Di mata pengamat musik Bens Leo, baru kali ini terjadi fenomena pertunjukan musik yang lagunya menggunakan bahasa daerah ditonton remaja belasan hingga 20 tahunan dari kota-kota besar.
Mereka datang dengan penampilan modis, wangi, dan bergaya khas kekinian. Menurut Bens, Didi bisa menjadikan anak muda yang tidak mengerti bahasa Jawa penasaran dan akhirnya mau belajar dari lirik lagu yang dia ciptakan. Menyukai lagu-lagu lawas yang bahkan sudah ada sebelum mereka lahir.
”Ini yang nggak pernah terjadi sejak dulu, unik. Udah lintas generasi dan budaya juga. Sampai akhirnya pada asyik ikut joget bersama dan tahu arti liriknya meski bukan orang Jawa,” ujarnya.
Bens menilai fans The Godfather of Broken Heart itu sama ekstremnya dengan fans K-pop yang dikenal militan ketika menyukai idolanya. Bens menarik benang merah dari fenomena tersebut. ”Bahwa anak muda sekarang suka musik dengan beat ringan, tapi tetap memiliki lirik mendalam,” katanya.
Kebangkitan karir Didi itu, jelas Bens, sebetulnya bisa menjadi pelajaran bagi musisi lain di tanah air. Bahwa jika ingin eksis, harus memiliki sesuatu yang berbeda. Setahun dua tahun berkarir tak juga dikenal, jangan berhenti. Tetap tingkatkan kemampuan dan terus berusaha. ”Jangan lupakan Cidro. Ingat, lagu itu baru terkenal bahkan setelah puluhan tahun rilis,” ungkap Bens.
Seminggu sebelum kepergiannya di usia 53 tahun, Didi Kempot merilis single Ojo Mudik. Lagu tersebut diciptakan untuk mengampanyekan agar orang-orang tidak mudik terkait pandemi Covid-19. ”Lagu itu punya potensi kuat untuk melejit. Selain karena tema dan liriknya, juga karena histori penyanyinya,” ujar Bens.
Bens juga menyinggung ratusan lagu ciptaan Didi. Dia meyakini banyak lagu Didi yang tidak jelas keberadaannya. Mungkin belum direkam atau sudah direkam, tapi belum sampai menjadi hit. Dia menegaskan, pihak keluarga harus sesegera mungkin mencari, menggali, mendata, dan mematenkan harta karun itu sebelum jatuh ke tangan orang lain.
”Selama ini kan lagunya yang kita dengar itu-itu aja. Sekitar 30-an yang populer, sisanya ke mana? Harus didapatkan kembali itu oleh ahli waris,” tegasnya.
Beberapa kali karir pelantun lagu Pamer Bojo tersebut sempat tak terdengar kabarnya alias redup. Menurut Bens, bahasa dan penggunaan kata yang dipakai Didi dalam lagu-lagunya itulah yang membuat dirinya gampang-gampang susah berkawan dengan ketenaran. Namun, Didi tak putus asa.
”Dia gunakan kreativitasnya dengan menciptakan lagu sendiri dalam bahasa Jawa meski dia sendiri yakin banyak orang yang sulit untuk mengikuti itu,” tambah Bens.
Photo
SUSAH TERGANTIKAN: Pengamat musik Erie Setiawan bersama Didi Kempot yang disebutnya tak pernah fals sekali pun saat bernyanyi. (ERIE SETIAWAN FOR JAWA POS)
Bagi pengamat musik Erie Setiawan, Lord Didi tak pernah meredup. Dia lebih suka menyebut saat itu nama Didi sedang tidak di permukaan. Sebab, puluhan karya lagu baru tetap dihasilkannya. ”Jadi, tidak ada fase berhenti. Dia tetap berkarya, tapi tidak jadi perhatian. Mungkin karena memang beberapa lagu yang dibuatnya kurang menarik perhatian ya,” imbuh Erie.
Berkat ketelatenan menjalani karir, Didi mampu menunjukkan kualifikasinya ketika akhirnya spotlight mengarah kepadanya. Dia berhasil menunjukkan lagu-lagunya yang memiliki kekuatan lirik luar biasa. Dia berhasil berada di puncak tanpa perlu mendompleng nama siapa pun selain dirinya sendiri.
Erie juga mengklaim tak ada suara fals yang keluar dari Didi saat bernyanyi. ”Belum ada yang seistimewa skill beliau. Sejauh ini juga belum tergantikan, kalau misalnya ada yang bersaing, minimal cuma menyamai,” ulas Erie.
Saksikan video menarik berikut ini:
https://www.youtube.com/watch?v=3yevCzxrWLA
https://www.youtube.com/watch?v=CaPEtmCK5Kg
https://www.youtube.com/watch?v=_9F8Pe2Z5VQ

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
