Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 20 Agustus 2020 | 19.15 WIB

Kisah Ketulusan Kakek-Nenek 12 Tahun Rawat Cucu yang Alami Kelumpuhan

TITIPAN ILLAHI: Nenek Sutini, warga Singkil, Tepus, Tepus terluhat semangat merawat cucu yang mengalami kelumpuhan sejak 12 tahun silam saat ditemui belum lama ini.(GUNAWAN/RADAR JOGJA ) - Image

TITIPAN ILLAHI: Nenek Sutini, warga Singkil, Tepus, Tepus terluhat semangat merawat cucu yang mengalami kelumpuhan sejak 12 tahun silam saat ditemui belum lama ini.(GUNAWAN/RADAR JOGJA )

JawaPos.com - Meliasari warga Singkil, Tepus, nyaris tidak bergerak sejak pertama kali terlahir ke dunia. Di usia menginjak remaja, namun perkembangan fisik maupun kognitif terganggu akibat kelumpuhan yang dialami sejak bayi. Juga ditinggal pergi kedua orang tuanya.

Gunawan, Gunungkidul, Radar Jogja

Di sebuah kamar tanpa ventilasi memadai, terbaring di tempat tidur dengan dinding kelambu, Meliasari, 12, tinggal seatap dengan kakek dan neneknya. Gadis kecil ini ditinggal pergi oleh kedua orang tuanya sejak bayi. Dari dulu hingga sekarang sang anak mengalami kelumpuhan. Begitu sebaliknya, ayah bundanya pun tak diketahui rimbanya.

Saat ditemui belum lama ini, bola matanya sesekali terbuka seolah merespon aktifitas Sutini, tak lain neneknya yang membuka kelambu berwarna putih gelap itu. Kemudian terpejam seperti sedang melanjutkan mimpi tidurnya. “Maturnuwun (terimakasih), katah engkang mbiantu (bantuan berdatangan untuk) Meliasari,” kata nenek Sutini saat menerima sejumlah uang dari utusan Wakil Bupati Gunungkidul, Immawan Wahyudi.

Tidak hanya Immawan, rupanya bala bantuan juga datang dari bermacam-macam komunitas sosial wilayah Gunungkidul dan Bantul. Bukan kebetulan, jika dilihat dari latar belakangnya, orang tua Meliasari memang berasal dari dua kabupaten tersebut.“Anak saya (Sutarno) asli Gunungkidul dan menantu saya Yeni Kusnawati kelahiran Bantul,” ungkapnya.

Nenek Sutini melanjutkan cerita hidup Meliasari. Dibantu Yamto Suwito, kakeknya termasuk keluarga terdekat terus berjuang merawat cucunya. Tidak mudah namun harus dikerjakan. Mulai dari pagi hingga pagi lagi perawatan layaknya bayi. Jika minta sesuatu kodenya menangis
Karena berbagai keterbatasan, anak ini diakui belum pernah mendapat perawatan khusus di rumah sakit atau puskesmas. Terkadang dibawa periksa ke dokter, jika badannya terasa panas. Setelah diberi obat, langsung pulang.

Pada usia yang sudah renta, pasangan kakek nenek ini, sebenarnya cukup berat untuk melakukan perawatan cucunya. Namun semuanya dilakukan dengan ikhlas, sehingga beban seakan menjadi ringan. Dengan hasil sedikit dari taninya, cukup meskipun sederhana.

Disinggung mengenai keberadaan bapak ibunya Meliasari, nenek Sutini lancar dan runtut memberikan penjelasan. Dua belas tahun silam, anak, menantu dan cucu yang semula tinggal di Bantul datang ke Singkil, Tepus. “Pamitan kerja luar kota,” ungkapnya.

Sejak bayi berumur 35 hari, Meliasari dirawat hingga kini. Hidup dalam lingkar kasih sayang kakek, nenek dan keluarga terdekat. Lalu kedua orang tua yang memiliki kewajiban mengurus anak justru tidak ada kabar sampai sekarang. “Mboten retos ten pundi (tidak tahu kemana),” ungkapnya.

Bersama dengan keluarga besar sudah berupaya mencari namun belum juga ketemu. Seolah tidak ingin meninggalkan jejak kepergian, baik Sutarno maupun Yeni Kusnawati menyimpan rapat hal-hal yang berkaitan dengan diri mereka.“Foto-foto, mboten wonten. Keluarga wonten Bantul nggih mboten mangertos (foto Sutarno dan Yeni tidak ada. Keluarga di Bantul juga tidak mengetahui,” bebernya.

Dia berharap, anak kandung beserta menantu segera pulang. Dalam kesempatan kemarin pihaknya juga kembali berucap terimakasih kepada siapa saja yang telah membantu. Baik bantuan moral, maupun logistik terus berdatangan.“Cepat pulang nak, Meliasari wis gede, tapi masih terbaring lemah,” ucapnya lirih sambil menahan tangis.

Sementara itu, Ngatiyem anak kedua Sutini, mengaku setiap hari datang ke rumah ibunya untuk membantu. Dia menjelaskan, Melia merupakan anak dari Sutarno notabene merupakan adiknya yang nomor tiga.“Dulu ketika pamit, adik saya hanya bilang anaknya ditinggal di sini, kalau sudah kerja nanti dikirimi uang. Tetapi hingga saat ini tidak pernah menengok. Entah di mana sekarang,” ucap Ngatiyem pasrah.

Editor: Mohamad Nur Asikin
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore