
Bupati Tuban Aditya Halindra Faridzky (JAWA POS RADAR TUBAN)
ADITYA Halindra Faridzky memang masih muda. Usianya baru 29 tahun. Namun, kiprahnya di dunia politik pemerintahan cukup moncer. Sebelumnya, dia terpilih menjadi anggota DPRD Jatim. Kini dia menduduki jabatan sebagai bupati Tuban. Menjadikannya kepala daerah termuda di kabupaten berjuluk Bumi Ronggolawe tersebut.
Kehadiran Lindra, sapaan Aditya Halindra Faridzky, sebagai kepala daerah memberikan warna baru dan angin segar dalam dinamika politik di Tuban. Lindra hadir sebagai trendsetter politikus muda yang sukses.
Ada alasan khusus yang membuat pria masih lajang tersebut terjun ke dunia politik pemerintahan di usianya yang sangat muda. Dia ingin berbuat hal-hal positif yang lebih luas. "Saya ingin memberikan yang terbaik untuk masyarakat Tuban. Saya ingin punya karya, sejarah, dan tinggalan nama yang baik. Dan, semoga bisa menjadi modal pahala saya nanti di akhirat," tuturnya kepada Jawa Pos Radar Tuban.
Dia mengakui, untuk berbuat baik memang tidak harus menjadi bupati. Berbuat baik bisa dilakukan di mana pun. Hanya, kalau menjadi bupati, jangkauannya lebih luas. Salah satunya melalui kebijakan-kebijakan yang kemanfaatannya untuk seluruh masyarakat Tuban. ’’Kalau di perusahaan, kan lebih sempit,’’ tuturnya.
Ya, kemampuan kepemimpinan Lindra memang sudah terasah cukup lama. Dalam memimpin, Lindra memiliki tiga prinsip yang selalu dijalankan. Pertama, harus bisa memosisikan diri. Artinya, seorang pemimpin harus tahu di mana saatnya berdiri di depan, di tengah, dan kapan harus posisi di belakang. ’’Di sinilah peran seorang pemimpin harus mampu menempatkan posisi di mana pun saat dibutuhkan,’’ ujarnya.
Kedua, harus selalu belajar. Seorang pemimpin harus tahu lebih banyak dari orang lain. Artinya, jangan lelah untuk belajar dari siapa saja, termasuk anak buah. ’’Selalu belajar dan tahu banyak hal ini sangat penting. Sehingga, tidak salah saat mengambil keputusan,’’ jelas bupati yang memiliki puluhan ribu followers di media sosial itu.
Ketiga, lanjut dia, pemimpin harus menjadi teladan dan selalu introspeksi. Tidak selalu benar. ’’Jadi pemimpin itu jangan suka memerintah, tapi memberikan contoh. Kalau kita sudah bisa memberikan teladan, tanpa kita bicara, tanpa kita perintah, insya Allah, mereka (anak buah, Red) akan memiliki kesadaran sendiri,’’ ujarnya.
Pada momen Hari Sumpah Pemuda kali ini, dia mengajak generasi muda untuk memberikan karya nyata kepada bangsa dan negara. ”Cara generasi muda memaknai Sumpah Pemuda adalah dengan karya,’’ tegasnya.
Lindra menegaskan, Sumpah Pemuda masih sangat relevan hingga kini. Dia mengemukakan, zaman dulu dan sekarang memang tidak sama. ”Setiap perkembangan zaman pasti ada yang berubah. Dulu, konteks perjuangannya adalah melawan penjajah. Sekarang, perjuangannya adalah memberikan sumbangsih pemikiran dan karya. Tetapi, secara substansi sama. Sama-sama berjuang memajukan bangsa,’’ tegas mantan anggota DPRD Provinsi Jatim itu.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
11 Rekomendasi Gudeg Terenak di Jakarta, Kuliner Manis yang Tak Kalah Legit Seperti di Jogjakarta
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
12 Tempat Makan Legend di Bandung yang Wajib Dicoba, Ada yang Sudah Berdiri Sejak Zaman Belanda!
Tanpa Eliano Reijnders dan Luciano Guaycochea! Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Persib Bandung
11 Kuliner Malam Surabaya Paling Enak dan Legendaris untuk Kamu yang Sering Lapar Tengah Malam
