Logo JawaPos
Author avatar - Image
05 Januari 2022, 14.48 WIB

Pelukis Poster Film Bioskop, Riwayatmu Kini

LEGENDARIS: Poster film karya Andreanus Gunawan yang terpampang di gedung bioskop Surabaya Theater pada 1974. (Andreanus Gunawan untuk Jawa Pos) - Image

LEGENDARIS: Poster film karya Andreanus Gunawan yang terpampang di gedung bioskop Surabaya Theater pada 1974. (Andreanus Gunawan untuk Jawa Pos)

Bagi Anda generasi lama yang hobi menonton film, poster yang terpampang di depan gedung bioskop adalah sesuatu banget yang terkadang mampu menyihir dan menggerakkan orang hingga tertarik untuk menonton filmnya.

WAHYU KOKKANG, Surabaya

POSTER-POSTER menarik itu adalah karya para seniman lukis yang tergabung dalam IPPFI (Ikatan Pelukis Poster Film Se-Indonesia). Komunitas pelukis poster film itu sedang menggelar pameran hingga 5 Januari nanti di The Progo, kawasan Taman Bungkul, Surabaya.

Dalam pameran bertajuk Mindah yang merupakan akronim dari mini nan indah tersebut, mereka menampilkan 62 lukisan berukuran kecil karya 13 anggota IPPFI dari beberapa kota. Dibuat ukuran kecil itu agar mereka bisa memajang banyak karya di ruangan yang terbatas.

Para pelukis poster film tersebut dulu masing-masing bernaung di studio poster film yang menjadi rekanan perusahaan distributor film yang berbeda sehingga spesialisasi mereka berbeda pula meskipun bisa mengerjakan semua jenis gambar. Ada yang spesialis membuat poster film Mandarin, India, Barat, atau film lokal Indonesia.

Budiono, salah satunya. Pelukis poster film yang di kemudian hari menjadi ilustrator Jawa Pos itu berada di bawah studio yang menjadi rekanan distributor film produksi Bollywood dan nasional. Karena itu, yang dibuatnya adalah poster-poster film India dan film Indonesia. Salah satu film yang posternya pernah dibuat Budiono adalah film Rhoma Irama berjudul Satria Bergitar.

’’Poster film Satria Bergitar itu dipasang serentak di banyak bioskop dan lumayan lama terpampang. Saat itu film Rhoma memang sangat digemari dan diputar lama,” kenang Budiono.

Sosok lain adalah Andreanus Gunawan. Selain menggeluti dunia poster film sejak 1972, Andre merupakan spesialis membuat gambar hitam putih untuk slide dan iklan film di koran-koran. Slide dan iklan koran film-film legendaris macam Fist of Fury (Bruce Lee), Si Pitung, Beranak dalam Kubur, dan lain-lain dibuat oleh Andre.

Banyak pengalaman menarik dari seniman pelukis poster film tersebut. Di antaranya, begadang hingga tujuh malam berturut-turut pernah dilakoni Z. Hudi, pembuat poster film di Jakarta, saat menggarap poster film legendaris Saur Sepuh.

’’Saya bikin banyak sekali poster film kolosal Saur Sepuh saat itu. Nggak terhitung jumlahnya, badan sampai kayak melayang rasanya,” kata Z. Hudi mengenang pengalaman begadang terpanjang dalam hidupnya.

Sementara itu, seniornya, Kriswanto Kurniawan, lain lagi. Dia pernah melukis poster salah satu film James Bond berukuran sangat besar, yakni 14 x 8 meter, hanya dalam waktu sehari. Start jam 10 pagi, jam 9 malam selesai, paginya sudah dipasang. Luar biasa! Kriswanto memang terkenal sebagai pelukis yang sangat cepat dalam menggambar, hingga dijuluki ’’Tangan Malaikat” oleh teman-teman seprofesinya.

Saat itu penghasilan dari melukis poster film bisa diandalkan dan sangat bisa menghidupi. Mereka dibayar mingguan dengan nominal di atas rata-rata. Namun, dalam dunia seni lukis, karya mereka sering tidak mendapatkan apresiasi yang semestinya. Pelukis-pelukis murni bahkan menganggap remeh kualitas karya pelukis poster itu. Nama para pelukis poster juga tidak dikenal publik. Apalagi dalam setiap karya poster yang terpampang, hampir tidak pernah ada nama atau tanda tangan pelukisnya. Padahal, karya poster yang terpampang di gedung bioskop adalah ujung tombak bagi promosi film yang sedang diputar saat itu.

Menjelang 2000-an, profesi pelukis poster film mulai terancam. Saat itu dunia film redup sehingga tidak banyak film yang diproduksi, hantaman krisis moneter, dan munculnya bioskop jaringan yang lebih modern. Banyak bioskop modern itu yang beroperasi di mal-mal sehingga tidak membutuhkan lagi poster besar, cukup poster cetak ukuran A2. Para pelukis poster film pun pelan-pelan beralih ke pembuatan baliho untuk panggung pertunjukan, kampanye, dan lain-lain.

Photo

Dari kiri Andreanus Gunawan, Z. Hudi, Kriswanto Kuniawan, David S., Edy Mulyono, Budiono, dan Wahyu Kokkang. (Wahyu Kokkang/Jawa Pos)

Hadirnya teknologi digital printing pada akhirnya total menghentikan aktivitas mereka menghiasi ruang publik secara manual. Sebab, semua kebutuhan gambar ukuran besar bisa dibuat dengan mesin cetak digital yang makin canggih teknologinya, makin cepat, dan makin murah.

Namun, semangat berkarya mereka tak pernah hilang. Mereka yang hingga kini masih saling terhubung lewat grup WhatsApp (WA) tetap berkarya mengisi masa senja dengan melukis di rumah, melukis dengan jiwa merdeka sesuai keinginan dan ide-pribadi mereka, bukan lagi sesuai order seperti di masa lalu.

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Artikel Terkait
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore