Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 24 Januari 2022 | 00.16 WIB

Bangkitkan Pasar Malam dari Pulau Madura

SEHABIS HUJAN: Bianglala menjadi salah satu wahana favorit anak-anak dalam pasar malam di Sepulu. (ALLEX QOMARULLA/JAWA POS) - Image

SEHABIS HUJAN: Bianglala menjadi salah satu wahana favorit anak-anak dalam pasar malam di Sepulu. (ALLEX QOMARULLA/JAWA POS)

Memelihara Harapan dan Tidak Patah Arang di Tengah Ketidakpastian


Modernisasi, dan kini pandemi, mengimpit bisnis pasar malam. Tidak banyak lagi ’’lahan” yang bisa digarap. Namun, tantangan tidaklah muncul untuk kian mengecilkan nyali.

---

TANAH lapang di Desa Prancak, Kecamatan Sepulu, Kabupaten Bangkalan, Madura, masih becek saat Jawa Pos tiba pada Sabtu (8/1) lalu. Jejak-jejak alas kaki terlihat di mana-mana. Kendati harus berjalan pelan, sesekali berjinjit, orang-orang tetap berdatangan ke lapangan. Ada pasar malam. Mereka seolah lupa bahwa sehari sebelumnya, hujan deras mengguyur Pulau Garam nyaris tanpa henti.

Di tanah lapang itu, keceriaan berpendaran di mana-mana. Dari tawa anak-anak yang naik kuda putar, dari senyum penjual es krim yang melayani pembeli, dari ibu dan ayah yang membelikan baju untuk anaknya, dan dari petugas tiket di tiap wahana. Pasar malam di tanah lapang yang becek itu begitu hidup di tengah udara yang menghangat.

Febri Dewinta senang karena akhirnya dia punya lagi alasan untuk menghabiskan malam bersama kekasihnya di luar rumah. Pandemi membuatnya bosan karena hiburan hanya bisa dinikmati dari layar kaca dan layar ponsel. ’’Terakhir kapan ya ada ini (pasar malam)? Sudah lama ndak ada kayaknya,” tutur perempuan asal Surabaya itu.

Keceriaan Febri dan puluhan pengunjung pasar malam pada awal Januari itu dihadirkan oleh CV Asa Jaya. Produsen alat-alat wahana sekaligus organizer khusus pasar malam itu memang kembali menggelar show tahun ini. Sebelumnya, selama sekitar 1,5 tahun, Asa Jaya libur. Pandemi dan kebijakan-kebijakan yang lahir karenanya tidak berpihak pada mereka. Mau tidak mau, Asa Jaya harus ’’istirahat.”

Kini saat pemerintah melonggarkan akses, Asa Jaya kembali bergerak. Mulai akhir 2021, mereka kembali berkeliling, menggelar pertunjukan. Bianglala, tong setan (di Asa Jaya bernama tong edan), kora-kora, rumah balon, kereta kelinci, kuda putar, dan trampolin kembali beroperasi.

Selama 20 hari, Asa Jaya menggelar pasar malam di Sepulu. Itu jauh lebih baik ketimbang pasar malam yang mereka helat di Kabupaten Sampang, Madura, tahun lalu. ’’Juni 2021 itu kita sudah main. Sudah ada pengunjung, sudah ada pedagang. Tapi, terpaksa tutup tiba-tiba karena Bangkalan zona hitam,’’ kata Lingga Tahta Parreza, sekretaris CV Asa Jaya.

Akses keluar-masuk Madura begitu terbatas kala itu. Setiap orang yang melintasi Jembatan Suramadu harus tes swab. Akibatnya, kru Asa Jaya tidak bisa kembali ke tanah Jawa. Lingga yang akrab disapa Bos Sendi oleh krunya lantas buru-buru menyewa rumah di Kecamatan Labang, Bangkalan. Rumah itu menjadi tempat kos sementara untuk Asa Jaya.

Madura, menurut Lingga, adalah sumber pemasukan yang besar bagi kelompoknya. Asa Jaya punya delapan unit pasar malam yang tersebar di Madura, Surabaya, dan Sidoarjo. Selama ini kunjungan dan pemasukan terbanyak selalu di Madura. Maka, Asa Jaya memilih untuk bangkit dari Madura.

Lingga menggelar pasar malam keliling Jawa Timur. Kadang di Bangkalan, kadang di Sidoarjo. Pernah juga di Surabaya, Pamekasan, Jombang, dan beberapa kota lainnya. Pria 30 tahun itu adalah generasi ketiga yang menjalankan bisnis pasar malam. Ayahnya, Winardi, bahkan pernah menggelar pasar malam hingga ke Kalimantan, Sumatera, dan Bali.

Bisnis pasar malam itu dirintis oleh kakek Lingga, Samiono, dari Solo. Kini Lingga dan empat saudaranya melanjutkan bisnis yang sama. Pusat komando bisnis yang melibatkan kru dan kehidupan nomaden itu berpusat di Kediri.

Ikut mengurus bisnis pasar malam sejak masih kuliah, Lingga tidak asing dengan hidup berpindah-pindah. Barangkali, kebiasaan mencari peluang baru sembari menghemat pengeluaran dari hasil yang didapat itulah yang membuat bisnis pasar malam bertahan. Sebab, ketidakpastian adalah hal yang tidak asing buat mereka. Terbiasa nomaden juga membuat mereka mudah beradaptasi.

’’Kami sama-sama meninggalkan keluarga dan berkumpul untuk menjadi keluarga baru. Dari situ, saya ajak anak-anak saling terbuka kalau ada masalah,” ujar Lingga. Ada 10–15 kru dalam tiap unit pasar malam.

Kru Asa Jaya rata-rata berusia belasan hingga dua puluhan tahun. Lingga mengaku sering menerima kru yang merasa tak punya rumah. Ada pengamen dan mantan copet juga yang bergabung dalam timnya. Hanya dua syarat yang Lingga minta dari krunya. Bekerja sungguh-sungguh dan jujur. Dia tidak terlalu pusing dengan latar belakang krunya yang sangat beragam. ’’Saya ingin bisa menciptakan lapangan kerja bagi mereka yang kesusahan,’’ ujarnya.
Editor: Ilham Safutra
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore