
DI ANTARA GERABAH: Jana, perajin di sentra industri keramik Plered, asyik menekuni pekerjaannya pada Rabu (2/2). (MUHAMAD ALI/JAWA POS)
Photo
TERAMPIL: Perajin keramik dan gerabah di Plered. Kawasan itu dikenal sebagai sentra keramik sejak 1904. (MUHAMAD ALI/JAWA POS)
Setelah Indonesia merdeka, kawasan sentra keramik tersebut terus dibenahi. Pada 1950, Bung Hatta yang kala itu adalah wakil presiden meresmikan industri keramik di Plered. Gedungnya berada di Gonggo. Saat itu, mesin-mesin penghalus tanah liat buatan Jerman dikirim dari Jakarta.
Tanah liat yang melimpah dari Desa Citeko, Plered, menjadi salah satu faktor penting keberlanjutan sentra keramik tersebut. Mayoritas perajin mengambil bahan baku dari Citeko. Kemudian mengolahnya menjadi berbagai macam bentuk keramik. Baik keramik hias maupun keramik fungsional.
Ada 147 unit keramik buatan rumahan (home made) di Desa Anjun. Unit-unit menampung lebih dari 800 perajin. Pada setiap unit, ada aktivitas pengolahan bahan baku, pembentukan, pembakaran, finishing, pengemasan, dan penjualan keramik. ”Rata-rata keramik yang dibina sama kami (UPTD) diekspor sebanyak 20 persen,” jelas Jujun dengan logat Sunda.
Keramik Plered memang punya akar historis yang kuat. Jujun mengungkapkan, sebagian besar pengusaha keramik yang bertahan saat ini merupakan generasi penerus perajin keramik mula-mula. Salah satunya, Asep Supriatna.
Rumah yang Asep gunakan untuk memproduksi keramik berada tepat di belakang kantor UPTD. ”Pak Asep ini turunan Mbah Tarman,” ungkap pria 47 tahun itu.
Tarman tercatat sebagai generasi kedua perajin keramik Plered. Generasi tersebut eksis pada 1920-an. Nah, dari Tarman itulah, lahir generasi-generasi penerus. Termasuk, Asep.
”(Rumah produksi keramik, Red) paling tua di sini itu generasi ke-5 (dari turunan Mbah Tarman, Red). Generasi (perajin keramik lawas) lain nggak muncul,” tutur Jujun.
Kepala UPTD Pengembangan Sentra Keramik Plered Mumun Maimunah menyatakan, regenerasi menjadi masalah krusial bagi mereka. Survei UPTD menunjukkan, anak-anak sekarang cenderung memilih bekerja di pabrik atau perkantoran. Berstatus karyawan dan rutin gajian, tanpa harus punya keterampilan khusus. ”Mereka kan tidak bisa dipaksa (jadi perajin, Red),” ungkapnya.
Jika dibandingkan dengan medio 2000-an, jumlah unit produksi pembuatan keramik sampai pemasoknya memang turun drastis. Berdasar data 2005, ada 286 unit. Kemudian menjadi 221 pada 2015. Catatan terakhir pada 2021 lalu hanya tersisa 147 unit.
Selain regenerasi, kebijakan pembangunan yang kurang komprehensif membuat sebagian masyarakat memilih pindah domisili. Akibatnya, jumlah unit-unit produksi juga berkurang karena perajinnya pindah.

Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
21 Rekomendasi Tempat Makan Dekat Stasiun Bandung, Kuliner Terbaik yang Cocok Saat Lagi Transit
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Pemkot Surabaya Buka Suara Terkait Rencana Penertiban Pasar Koblen
20 Tempat Makan Paling Recommended di Semarang, Banyak Pilihan Menu Kuliner yang Memanjakan Lidah
Lawan Arema FC Laga Terakhir Bruno Moreira? Intip Akhir Kontrak Kapten Persebaya Surabaya
