
Ilustrasi kemiskinan. (Dokumentasi JawaPos.com)
JawaPos.com - Penurunan angka kemiskinan dan tingkat pengangguran di Indonesia belum serta-merta mencerminkan peningkatan kualitas kesejahteraan masyarakat. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, indikator kemiskinan dan pengangguran memang membaik, tetapi kondisi tersebut belum cukup menggambarkan kualitas kehidupan masyarakat secara menyeluruh.
Peneliti Institute for Demographic and Affluence studies (IDEAS), Muhammad Anwar, mengatakan penurunan angka kemiskinan menjadi 8,07 persen Maret 2026 dan tingkat pengangguran menjadi 7,22 juta orang memang perlu diapresiasi.
Namun, Sebagian besar lapangan kerja yang tercipta masih didominasi oleh pekerjaan informal, berupah rendah, tanpa jaminan sosial, atau bergantung pada ekonomi platform yang minim perlindungan.
Dengan begitu, ia menilai bahwa penurunan pengangguran belum tentu mencerminkan peningkatan kualitas kesejahteraan masyarakat.
“Banyak masyarakat yang secara statistik bekerja, tetapi masih tergolong sebagai working poor atau pekerja miskin yang pendapatannya belum mampu memenuhi kebutuhan hidup layak,” ujar Anwar kepada JawaPos.com, Sabtu (8/8).
Anwar mengatakan, angka kemiskinan yang rendah belum tentu menggambarkan meningkatnya daya beli masyarakat secara berkelanjutan. Pasalnya, Sebagian rumah tanga masih sangat rentan kembali jatuh miskin ketika menghadapi guncangan seperti kenaikan harga pangan, kehilangan pekerjaan, atau sakit.
Untuk itu, pemerintah harus menciptakan kebijakan yang mampu mengentaskan kemiskinan dengan berfokus kepada penciptaan lapangan pekerjaan produktif bukan hanya berfokus kepada bantuan sosial.
“Kebijakan pengentasan kemiskinan tidak boleh hanya berorientasi pada bantuan sosial, tetapi juga harus memperkuat penciptaan pekerjaan produktif, peningkatan keterampilan, serta perlindungan sosial yang komprehensif,” ujarnya.
Lanjutnya, pertumbuhan yang berkualitas juga harus mampu mengurangi ketimpangan antar kelompok masyarakat dan antar wilayah. Apabila pertumbuhan lebih banyak dinikmati oleh sektor-sektor padat modal atau terkonsentrasi di wilayah tertentu akan menjadi masalah baru untuk perekonomian nasiona.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Swiss vs Slovenia di Liga Nations UEFA: La Nati Menang Besar di Thermoplan Arena
Prediksi Skor Islandia vs Bulgaria di Liga Nations UEFA: Strákarnir okkar Tundukkan Tim Tamu
Injury Time Timnas Indonesia vs Bangladesh Jadi 7 Menit, John Herdman Beri Penjelasan
Prediksi Skor Belarus vs San Marino di Liga Nations UEFA: Belyya Kryly Pesta Gol
Prediksi Skor Polandia vs Rumania di Liga Nations UEFA: Biało-czerwoni Berburu Kemenangan
Prediksi Skor Vietnam vs Pakistan di FIFA ASEAN Cup: Golden Star Warriors Lumat Habis Shaheens
Prediksi Skor Kroasia vs Inggris di Liga Nations UEFA: The Three Lions Redam Tuan Rumah
Prediksi Finlandia vs Albania di UEFA Nations League: Duel Ketat Dua Tim Belum Kebobolan
Prediksi Susunan Pemain Spanyol vs Ceko: De la Fuente dan Denia seperti Bermain Catur
Alyssa Daguise Sedih Wajah Baby Soso Terekspos ke Publik

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022