
ILUSTRASI - BUDIONO/JAWA POS
”Kalau Anda nanti tiada, kami ikut siapa?” tanya Ramzi, pembawa acara kontes dangdut itu, dengan kikuk, terbata, dan mata berkaca. Ia menanyakan itu saat hadir di Bisikan Rhoma, podcast resmi milik Rhoma Irama, bersama dua pembawa acara kontes dangdut lain, Gilang Dirga dan Irfan Hakim, yang diunggah pada 14 Januari 2022.
---
ITU jelas tabu: bertanya kepada orang tua apa yang akan terjadi jika ia mati. Tapi, niscaya, itulah pertanyaan semua orang, setidaknya puluhan juta penggemar dangdut, lebih khusus lagi pemuja Rhoma Irama –macam saya.
Tapi, bagaimanapun, itu pertanyaan wajar. Rhoma Irama tak hanya sudah tua (ia berulang tahun ke-75 pada Desember lalu); ia memang sudah tampak benar-benar tua. Keriput di wajahnya tak mungkin bisa disamarkan dengan make-up dan pencahayaan. Dalam posisi duduk dan disorot dari samping, tubuhnya mengerut seperti kismis besar, sangat berbeda dengan gambaran dirinya di poster-poster lama yang selalu ditampilkan gagah. Di luar itu, ia adalah satu-satunya yang masih tersisa dari pendiri Orkes Melayu (OM) Soneta.
Dengan sedikit berputar, mengutip dalil ini-itu, juga beberapa petuah, Rhoma menjawab: ”Soneta adalah Rhoma dan Rhoma adalah Soneta; jika tak ada lagi Rhoma maka tak ada lagi Soneta.” Lalu ia menambahkan, dengan sedikit ragu dicampur harap, kelak anak-anaknya akan meneruskan musik dakwahnya.
Jawaban itu membuat Ramzi, juga Gilang dan Irfan, menahan isaknya –padahal podcast kali itu penuh canda. Boleh jadi karena mereka ragu dengan harapan-harapan Rhoma, sebagaimana kita semua. Tapi yang hampir pasti: kehilangan Rhoma adalah hal yang sulit dipikirkan para penggemarnya. Bukan semata karena sang Raja Dangdut begitu dicintai penggemarnya. Tapi, terutama, karena ia masih duduk di atas takhtanya, dan penggemar dangdut tak akan terbiasa tanpa kehadirannya.
Ya, Rhoma tidak ditanya sebagai legenda yang sudah mulai dilupa, atau musisi yang pernah besar dan sedang pudar, atau prodigi yang tak mendapat cukup pemirsa. Ia adalah raja, dan masih saja seorang raja; semua atribut kuasanya masih sepenuhnya di tangannya.
***
Desember lalu, didampingi para musisi dari berbagai genre seperti Sam Bimbo, Candra Darusman, hingga Marcell Siahaan, Rhoma berada paling depan ketika kalangan musisi menunjukkan kecamannya terhadap upaya Musica Studio mengajukan judicial review atas UU Hak Cipta. Dan, tentu saja, ucapan keras Rhoma (”Ini keserakahan!”) yang kemudian dikutip banyak media.
Di bulan yang sama, dalam acara re-creating Damai di Ujung Tahun yang mempertemukan Soneta dan God Bless, Rhoma Irama mendominasi panggung dan gelanggang –seperti yang sudah-sudah.
Beberapa tahun sebelumnya, ketika dua kali tampil di Synchronize Fest (2016 dan 2018), Rhoma Irama dan Soneta melakukan hal yang sama. Tak hanya jadi representasi dangdut, tapi representasi musik Indonesia –dalam bentuk terbaiknya. Di usia 72, teriakan ”aaaaa…” di penutup Nafsu Serakah masih sama lengkingnya dengan saat ia muda. Di video rekamannya di YouTube, kita bisa menikmati bagaimana Rhoma dengan cerdiknya ”nyolong” pembuka Immigrant Song dari Led Zeppelin untuk ditempelkannya di lagu Perjuangan dan Doa. Dalam jubah putih dengan sayap merah berkibar-kibar di punggung, gelar Raja Dangdut itu tak bisa lebih relevan lagi.
Sementara di kanal lain, Anda bisa temukan Sodiq, yang kumal dan urakan dengan musik koplonya, dan sering di-frame sebagai sosok antagonis atas diri dan musik Rhoma yang moralis dan terlalu sopan (baca Tirto.id, 31 Oktober 2017), muncul di saluran resminya sendiri membawakan lagu Aku Cinta Soneta ciptaan Caca Handika. ”Aku suka Soneta sudah sedari dulu// Aku tak malu-malu walau cuma meniru,” nyanyi Sodiq, yang tampil dengan jubah dan gitar Steinberger hitam bergagang kutung dengan tanda tangan Rhoma Irama tertera jelas di sana.
(Di kanal lain lagi, kita bisa saksikan Inul Daratista, sosok yang dulu dianggap berpotensi mendongkel singgasana Rhoma dengan goyangannya, mencoba tetap relevan di depan publik dengan mengunggah video-video TikTok lucu bersama suaminya.)
***
Sebagai musisi sekaligus pendakwah, Rhoma banyak menelurkan lagu-lagu tentang kematian, sebagaimana juga tentang alam kubur dan kiamat. Namun, tampaknya, Rhoma memikirkan kematian lebih dari sebelum-sebelumnya.
Di video yang diunggah pada pekan yang sama saat tulisan ini dibuat, Rhoma membuka podcast-nya dengan menyanyikan lagu Andai Kutahu dari Ungu. Di depan Pasha Ungu, tamu yang diundangnya, Rhoma lagi-lagi bicara tentang kematian. Dan, tak bisa tidak, itu membuat para penggemar Rhoma Irama berdebar dan tergetar. Doa-doa ”Semoga dilimpahi kesehatan dan panjang umur” yang sebelumnya terdengar formal kini mungkin akan diucapkan dengan intensi dan kesungguhan lebih.
Berbeda dengan musik jenis lain di Indonesia yang punya banyak ”raja” di setiap masa, di dangdut tak ada yang melebihi Rhoma sejak ia muncul dengan Soneta-nya. Sebesar-besarnya Koes Plus, God Bless, Slank, Dewa, atau Noah, mereka tak ”mencipta” jenis musik baru seperti yang dilakukan Soneta. Sekuat-kuatnya nama Ebiet, Iwan Fals, Chrisye, Dhani, Ariel, hingga Didi Kempot, tak ada yang berasosiasi dengan satu jenis musik sekuat Rhoma dengan dangdut. Dan, di antara nama-nama itu, hanya ada satu raja.
Saya tak ingin tulisan ini jadi obituari yang terlalu dini, tapi saya merasa harus berbagi kekhawatiran Ramzi, juga saya, kepada semua penggemar dangdut dan Rhoma Irama: ”Kita sama siapa kalau Pak Haji tak ada?”
Ya, dangdut akan tetap bertahan, dengan atau tanpa Rhoma. Itu keyakinan saya. Dengan segala kritik atasnya, musik koplo membuktikan bahwa dangdut akan terus dimainkan dan didengar, demikian juga lagu-lagu ciptaan Rhoma. Tapi kebudayaan tak bisa hanya bertahan. Ia mesti berkembang. Juga berubah!
Sebagai penggemar Rhoma –sambil mengenang Ida Laila yang telah berpulang, Meggy Z. yang almarhum, OM Tarantula yang berumur pendek, Evie Tamala yang makin jarang muncul, Alam yang menghilang bersama Mbah Dukun, Inul yang menyanyikan lagu yang sama selama 20 tahun terakhir, Ridho Rhoma yang kembali kena narkoba, dan Monata yang jadi New Monata –saya dengan sepenuh hati mengamini setiap doa untuk kesehatan dan panjang umur bagi sang Raja Dangdut.
Namun, sebagai penggemar dangdut, saya akan jauh lebih gembira jika dalam waktu dekat muncul seorang muda, berani maju ke depan, tentu saja bersama musiknya, menantang Rhoma yang telah menua, agar menyerahkan takhtanya. (*)

Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
21 Rekomendasi Tempat Makan Dekat Stasiun Bandung, Kuliner Terbaik yang Cocok Saat Lagi Transit
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Pemkot Surabaya Buka Suara Terkait Rencana Penertiban Pasar Koblen
20 Tempat Makan Paling Recommended di Semarang, Banyak Pilihan Menu Kuliner yang Memanjakan Lidah
Lawan Arema FC Laga Terakhir Bruno Moreira? Intip Akhir Kontrak Kapten Persebaya Surabaya
