Logo JawaPos
Author avatar - Image
25 September 2022, 16.30 WIB

Cerita Payung Istana

ILUSTRASI - BUDIONO/JAWA POS - Image

ILUSTRASI - BUDIONO/JAWA POS

Di hari-hari biasa, pendapa besar di istana berkelir hijau itu lengang. Paling banter terdengar alunan gending Jawa guna mengiringi gerak gemulai para penari yang tengah latihan mbeksa.

---

DAN awal bulan ini, pada 2–4 September lalu, tiba-tiba suasana gelumat. Kahanan di njero Pura Mangkunegaran riuh rendah lantaran disulap menjadi panggung Festival Payung. Acara ini tak pelak menyedot ribuan orang. Selain tarian dan pameran payung, panitia menghelat bedah buku untuk memasok nutrisi (pengetahuan) bagi publik.

Kebetulan, saya sudah lima kali dijawil panitia untuk menggeledah hikayat songsong, sebutan payung di lingkungan kerajaan Jawa. Sebagai narasumber, tentu tertantang menghidangkan roncean kisah anyar alias emoh ngenget jangan wayu.

Payung bukanlah barang ”kemarin sore”. Pada relief Candi Prambanan, misalnya. Kita bisa menjumpai ”payung” untuk kepentingan penghormatan sekalipun wujudnya masih sederhana. Demikian pula di relief Candi Borobudur, mata kita menyaksikan lukisan payung berbentuk bulat. Tampak payung dikenakan untuk memayungi Sang Buddha Gautama. Dari bukti faktual tersebut, payung bukan sekadar benda lawas. Namun, ia juga memiliki kedudukan penting dalam peradaban masyarakat Indonesia, terutama yang menghidupi upacara tradisi di lingkaran kerajaan.

Teringat cuilan fakta periode Indonesia kuno yang menempatkan bayangan (raja) dianggap suci serta berkekuatan. Ungkapan ingsun pudja katura lajanganingsun dewe ini mengandung maksud. Yakni, kupersembahkan doa untuk bayanganku sendiri. Dari selarik kalimat itu, terkuak bahwa alasan abdi dalem penongsong atau tukang memayungi sang raja tidak selalu berdiri di belakangnya. Mereka jangan sampai menginjak bayangan junjungannya yang kudus itu.

Dari hasil rekonstruksi sejarah, diketahui terdapat empat macam songsong kerajaan di Vorstenlanden berdasar bentuk dan konstruksinya. Pertama, payung menurut bentuk dan konstruksi yang biasa, dapat dibuka dan ditutup, serta ciri yang memamerkan derajat atau pangkat si pengguna. Cirinya terletak pada hiasan yang khas serta warna sungging yang dipakainya. Alamak, tercatat ada 85 macam payung berikut ciri tertentu yang dikenakan sinuhun (raja), putra sentana, pembesar istana, hingga abdi dalem pamong praja berpangkat rendah.

Kedua, payung sungsun (bersusun). Payung bersusun tiga ini dipakai putra mahkota tatkala menjalani prosesi khitanan. Batok kepala buah hati raja tersebut dilindungi dari sengatan matahari bermodal payung mewah yang dibawakan abdi dalem.

Ketiga, payung bawat yang bagian atapnya dibikin dari daun tal (ron tal). Tempo doeloe, payung tersebut dipakai khusus raja ketika melakoni ngrampong sima (berburu harimau dalam suatu arena). Terkisahkan pula senopati perang dilengkapi payung bawat. Dicermati, atap payung berbahan daun tal ini sangat kuat sehingga berguna sebagai perisai. Payung yang tidak bisa diingkupne (ditutup) itu merupakan bagian dari kelengkapan upacara keraton, kadipaten, kepatihan, dan bupati nayaka.

Terakhir atau keempat, payung agung yang mampu ditutup. Barang sekaligus penegas status sosial tersebut menjadi kelengkapan upacara kaum darah biru di istana hingga pimpinan prajurit keraton.

Golongan aristokrat paling doyan bermain di wilayah simbol dan tata cara yang rumit. Makin detail serta rumit aturan itu, dipandang makin tinggi kebudayaan yang dipeluknya. Kenyataan ini bagian dari barokisasi oleh penggede istana. Taruhlah contoh, pemakaian payung bagi baginda raja tidak cuma dalam upacara, tapi juga untuk keperluan sehari-hari. Bahkan, sewaktu Sinuhun Paku Buwono berada di cepuri keraton acap dipayungi. Saat menghadiri perhelatan penting, raja dipayungi dengan payung pusaka Kandjeng Kyai Brawidjaja atau Kandjeng Kyai Guwawidjaja.

Yang bikin terpana tamu asing, atap payung memiliki lebar 1,75 m. Tangkainya besar dan panjang, di ujungnya berisi tombak pusaka. Berbekal otot tangan serta kuda-kuda yang bakoh, abdi penongsong wanita memayungi raja mulai tritis Pendapa Sasana Sewaka hingga ke Bangsal Witana Sitinggil. Baru ketika menghadiri Grebeg Maulud Tahun Dal ke Masjid Gedhe ataupun kirab, penguasa istana ini keluar dari Bangsal Manguntur Tangkil di Sitinggil dipayungi mantri penongsong lelaki yang berdiri di kiri-kanan. Sementara itu, putra-putri raja yang berhak memakai songsong gilap, jikalau hendak menghadap ayahandanya, batasnya adalah tritis pintu Sripanganti. Selepas kaki melangkah ke dalam, payung kudu dilepaskan bila tidak mau disemprit.

Sepenggal pertanyaan, bagaimana payung untuk kawula alit yang berada di luar radar kekuasaan? Di samping melindungi diri dari sengatan terik mentari dan rinau hujan, masyarakat memanfaatkannya untuk memayungi pengantin, jenazah, serta perlengkapan tarian. Semenjak feodalisme digilas revolusi sosial dan keraton ambruk, payung banyak dirumahkan alias sebagai pajangan belaka. Mereka emoh ikut memamerkan di muka publik. Yang masih ajek ialah pemakaian payung untuk jenazah, seperti yang dituliskan pujangga Ki Padmasusastra dalam panduan merawat mayat hingga dibawa ke liang kubur. Di sini bedanya, payung yang dipakai tidak dibawa pulang, tetapi ikut ditanamkan atau disanggarkan di kuburan.

Demikianlah, sepotong riwayat payung yang pernah hidup di jantung peradaban Jawa. Bagaimanapun, payung sebagai jejak historis telah membersamai masyarakat lintas kelas dilengkapi bermacam tafsirnya. Ia tidak bisa dilepaskan dari ekologi budaya dan jiwa zaman. Jika kini eranya berslogan ekonomi kreatif, lembaga pelat merah semestinya menginjeksi spirit perajin payung kian getol menjaga warisan budaya itu. Selain gencar promosi, menyuntikkan dana dan konsisten menggelar pelatihan guna melancarkan rantai regenerasi produsen payung merupakan langkah strategis yang perlu ditempuh pemerintah. Jangan hanya mengisap pajak para perajin laiknya Departement van Economische Zaken di era penjajah! (*)

---

HERI PRIYATMOKO, Dosen Sejarah Universitas Sanata Dharma Jogja. Kini sedang menempuh S-3 Sejarah Universitas Diponegoro.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore