
ILUSTRASI
Oleh: HERI PRIYATMOKO
---
Telatah Indonesia dianugerahi keragaman kuliner tanpa tanding. Usus dan perut para pembaca tulisan ini bisa dipastikan pernah ”menggiling” soto ataupun jenang alias bubur. Ternyata, selain soto, jenis makanan yang hampir dimiliki saban suku di Nusantara ini adalah sepincuk jenang.
PUJANGGA Ki Padmasusastra dalam pustaka Bauwarna (1898) menyuratkan ”harta karun” jenang sesuai bahan baku dan namanya. Antara lain, jenang merah, nanas, caca, katul, kuweni, koleh, kalong, kopyor, kombul, kambang, duren, dodol, ketela, sekul, sliringan, saloka, sagu, sungsum, waloh, lahang, linjik, lemu, procot, pelok, pelem, pathi, onggok, trate, jagung, jengkol, garut, munten, madusirat, grendul, gedhang, baro-baro, blowok, blimbing wuluh, bubur saren, ngangrang, cindhil, kenul, kukus, manggul, dan lainnya.
Terutama generasi Z, nama jenang yang dideretkan di atas barangkali asing di kuping. Di samping langka dan sudah melenyap, beberapa jenang itu bikin bulu kuduk bergidik dan mual. Bayangkan saja, di meja makan disajikan jenang berbahan anak tikus (cindhil), semut, dan saren (darah sapi). Bukanlah kurang kerjaan leluhur kita mengolah anak tikus untuk disantap, melainkan bahan itu diyakini membawa faedah yang telah diuji dengan metode ilmu titen. Teringat adegan film dokumenter karya Gede Putu Wiranegara yang merekam Sinuwun Paku Buwana XII memakan cindhil untuk menjaga kebugaran tubuh yang makin merenta. Dengan santai raja Keraton Kasunanan ini menganggap anak tikus sebagai jamu.
Tiga pekan lalu, publik disuguhi Festival Jenang 2024 yang digelar di Kota Solo. Selain merayakan Hari Ulang Tahun Ke-279 Kota Bengawan yang jatuh pada 17 Februari lalu, gelaran itu juga memperingati Mangayubagya Jumenengan KGPAA Mangkunegara X. Kendati demikian, misi agung yang menyusupi acara kolosal tersebut adalah mengerek jenang di jagat internasional dan merekatkan kembali masyarakat kontemporer dengan secuil warisan luhur kakek moyang.
Secara sosiologis, jenang mampu menerabas sekat sosial, tak mengenal batas usia, merobohkan perbedaan agama, juga tak memandang perbedaan etnis. Hal ini terjadi lantaran kelembutan jenang menyapa tenggorokan kita sejak bayi. Setelah menikmati fase air susu ibu, tidak mungkin bayi langsung dipaksa menelan butiran nasi yang berpotensi nyangkut di tenggorokan. Demi keselamatan bayi, jenang dikenal oleh lidah manusia lintas benua sedari kanak. Bahkan, saat manusia menjelang sekarat pun, jenang sering menyapa perut untuk memasok tenaga ke tubuh yang sudah kepayahan.
Jenang tak luput menguntit arus sejarah Nusantara. Babad Giyanti merekam pertempuran yang melibatkan para pewaris Dinasti Mataram Islam dengan kompeni. Di situ, terlukis siasat ciamik Pangeran Suryanagara di abad XVIII memakai metafor jenang. Di hadapan rombongan prajurit, ia menyeru apabila berperang melawan tuan Walanda, jangan seperti menciduk jenang panjang yang begitu panas dan masih mendidih. Kemudian, berteriak memberi komando untuk menciduknya tanpa ikhtiar. Itu tidak mungkin dapat diciduk dan mulut pasti akan terkena panas. Ucapan Pangeran Suryanagara mengandung pesan terselubung bahwa guna menghajar bala tentara kompeni diperlukan strategi yang jitu. Bahkan, bila perlu memakai kelicikan lantaran pihak musuh unggul di bidang persenjataan.
Merujuk folklor masyarakat pedesaan, Pangeran Sambernyawa yang kelak menjadi Gusti Mangkunegara I dalam berperang juga memakai analogi memakan bubur panas. Kala menyerang musuh bermodal pasukan terbatas, lelaki bernama lain Raden Mas Said ini mengajari anak buahnya bergerak dari pinggir laiknya orang nyuru jenang panas dari pinggir yang agak dingin. Tidak langsung menerjang ke tengah atau pusat kekuatan musuh karena dinilai bakal menuai kesia-siaan. Bila perlu dengan cara memukul, lalu mundur (hit and run). Dua perumpamaan di muka menegaskan bahwa jenang tidak sekadar urusan perut dan menginjeksi energi, tetapi juga menjadi inspirasi dan contoh pemimpin perang supaya gampang dicerna para bawahannya.
Uniknya, jenang leluasa masuk dalam ritual. Dalam kebudayaan agraris, masyarakat petani yang memercayai Dewi Sri tatkala hendak meluku sawah diawali dengan menghadirkan sesaji yang ditaruh di pematang sawah. Manusia bercaping menyediakan bunga, kemenyan, jenang merah, gereh petek, kacang panjang, cabai, dan telur mentah. Lalu, mereka membakar kemenyan seraya berdoa: bapa Adam, ibu Kawa, bapa kawasa ibu pratiwi, kula nyuwun sandhang tedha. Begitu pula acara kehamilan yang berumur sebulan (angebor-ebori) hingga sembilan bulan, jenang tak pernah absen. Sementara itu, pada rombongan pernikahan yang memboyong mempelai menyertakan pula jenang, selain tape, wajik, rengginang, dan aneka penganan.
Baca Juga: Profil Rest Area Km 19A, Pilihan Istirahat Awal dari Jakarta Bagi yang Mudik Lebaran 2024
Puncak kata, sifat jenang yang lengket sejatinya membungkus pesan arif bahwa manusia Indonesia yang dewasa ini terpecah belah dan timbul intrik akibat Pemilu 2024 sebaiknya direkatkan ulang. Sepenggal pelajaran dari jenang sungsum –bukan sebatas bukti kreativitas para pendahulu– galibnya disantap demi memulihkan tenaga yang terkuras lantaran penyelenggaraan sebuah hajatan akbar. Tulang sumsum dan stamina menguat untuk kembali menyingsingkan lengan baju demi masa depan yang lebih baik. (*)
---
HERI PRIYATMOKO, Dosen Sejarah Universitas Sanata Dharma Jogjakarta
