Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 22 Februari 2018 | 22.52 WIB

Hati-hati, Tikus Got Jadi Perantara Penyakit Cacingan

Ilustrasi tikus got - Image

Ilustrasi tikus got

JawaPos.com - Tikus merupakan hewan yang keberadaannya tersebar luas, termasuk di lingkungan rumah. Masyarakat patut waspada, karena hewan pengerat ini merupakan salah satu agen penyebaran penyakit menular pada manusia.


Aktivitas tikus saat mencari makan ataupun tempat bersarang kerap bersinggungan dengan manusia. Sehingga, tentu saja potensi penularan penyakit sangat tinggi. Beberapa penyakit yang dapat menular dari hewan ke manusia (zoonosis) yang disebabkan oleh tikus di antaranya pes, leptospirosis, salmonelosis, typus, dan penyakit cacingan.


Untuk itu, tim peneliti dari Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Institut Pertanian Bogor (IPB), yaitu Dr. drh. Risa Tiuria, drh. Ridi Arif, dan Herianto Sitepu melakukan sebuah riset untuk melihat jenis-jenis cacing pada organ tubuh tikus got (Rattus norvegicus) dan tikus rumah (Rattus tanezumi).


Dua spesies tikus ini diteliti, karena habitatnya sangat dekat dengan manusia. Sehingga, penularan (penyakit) langsung bisa terjadi setelah mengonsumsi air atau makanan yang terkontaminasi oleh telur cacing yang dibawa tikus.


Dr. Risa memaparkan berdasarkan berbagai riset dari beberapa peneliti terdahulu, hampir seluruh organ tubuh tikus sudah terinfeksi oleh penyakit infeksius (berbahaya), terutama penyakit cacingan. Beberapa penyakit cacingan yang disebarkan dengan perantara tikus yaitu himenolepiasis, strobilocerkosis, dan meningocephalitis.


Dari riset ini, dapat diperoleh informasi identifikasi spesies cacing yang ditemukan dan gambaran infeksi cacing pada tikus.


Cacing yang teridentifikasi pada tikus got adalah cacing pita tikus (Hymenolepis diminuta), Nippostrongilus brassiliensis, Angiostrongylus cantonensis, dan Strobilocercus. Sedangkan cacing yang teridentifikasi pada tikus rumah yaitu Hymenolepis diminuta.


Herianto, salah satu peneliti pada riset ini, menjelaskan bahwa cacing Angiostrongylus cantonensis (zoonosis) yang menyebabkan penyakit meningoensefalitis dan Strobilocercus, telah ditemukan pada organ hati tikus.


Sementara Hymenolepis diminuta dan Nippostrongilus brassiliensis ditemukan pada organ usus, dan Angiostrongylus cantonensis pada organ jantung hewan pengerat ini.


“Cacing yang ditemukan dalam penelitian ini hampir semua bersifat zoonosis (menular langsung dari hewan). Gambaran infeksi pada tikus yaitu infeksi tunggal, infeksi dan jumlah cacing lebih banyak pada tikus dengan umur dewasa dan tikus jantan,” tegas Herianto.

Editor: Nurul Adriyana Salbiah
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore