Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 21 Juni 2017 | 11.56 WIB

Mengenal Ketupat Khas Melayu yang Terbuat Dari Daun Kapau

Photo - Image

Photo

JawaPos.com - Ketupat selama ini memang diidentikan makanan atau sajian khas pada setiap lebaran Idul Fitri. Ternyata ketupat itu memiliki beragam varian yang tentu rasanya pun khas.


Seperti di Pekanbaru, ketupat lebih khas dengan menggunakan anyaman daun kapau. Ketupat daun kapau ini memang diidentik dengan kekhasan melayu. Namun di tengah perkembangan zaman, ketupat daun kapau ini semakin sulit dijumpai. Pasalnya semakin sedikit orang yang melestarikannya serta sulitnya mendapatkan baku daun kapau tersebut.


Nurleli, salah seorang pengjarin pengayam ketupat kapau hingga kini masih setia dengan bungkusan makanan khas tersebut. Dia menjelaskan, daun kapau merupakan daun yang berasal dari tanaman rawa gambut. Biasanya bahan bakunya terdapat di wilayah Limbungan.


"Sejak tahun 60-an, saya sudah ikut bantu orang tua jualan ketupat daun kapau ini. Bahan baku daun kapau merupakan ciri khas melayu. Ini yang membedakannya dari yang lain," terangnya.


Untuk mendapatkan daun kapau ini, pengrajinnya memang harus merambah daun ini ke wilayah Limbungan. Proses mengambilnya juga cukup sulit karena harus pergi ke rawa gambut.


Jelang lebaran, merupakan momen ketupat daun kapau khas melayu paling diminati. Setidaknya, ada 6.000 unit ketupat berbagai ukuran kini sedang disiapkan Nurleli dan suaminya buat menjelang idul fitri ini.


Daun itu dijual dengan harganya yang relatif terjangkau. Untuk membeli satuan atau ecer, dia mematok Rp 500 saja. Di lapak sederhana miliknya di depan jalan Meranti, ribuan ketupat daun kapau tengah digantung.


Dia sudah mengelompokkan ketupat sesuai ukuran. Dalam satu ikat, ada yang berisi 10 - 100 ketupat. Bagi yang ingin membeli daun ini ada sebuah trik agar mendapatkan dengan harga murah, yakni makin banyak membeli, maka harganya semakin murah pula.


Kini anyaman daun ketupat kapau tidak hanya dicari oleh masyrakat suku melayu saja, tapi juga para pendatang. Lebih lanjut Nurleli menjelaskan, ada beberapa keunggulan daun kapau yang membuatnya khas dan beda dengan ketupat daun kelapa.


Kalau ketupat daun kelapa, biasa lontong yang dihasilnya hitam atau hijau. Warna daun kelapanya ikut pindah ke lontong. Tapi dengan daun kapau ini, lontong tetap putih bersih. Wanginya juga khas dan menggugah selera makan.


"Yang terpenting lagi, ketupat daun kapau ini tahan. Masa ketahanannya bisa mencapai satu tahun. Walaupun warna sudah kecoklatan dan mengering, tapi jika direndam dengan air, ketupat masih bisa digunakan dan kencang kembali," sambungnya.


Di sepanjang Jalan Meranti tepian Sungai Siak itu, ada sekitar 10 rumah yang menjajakan dan memproduksi sendiri ketupat daun kapau tersebut. Mereka hanya berjualan di depan rumah saja. Tidak memasarkan ke pasar-pasar atau pedagang lain.


Di luar Ramadan, Nurleli mengaku tetap membuat ketupat daun kapau. Tapi tak seperti sekarang. Ia hanya made by order atau membuat jika ada pesanan saja. Jika anda ingin mencicipi lontong ketupat khas melayu dengan cita rasa dan warna putih putih yang berbeda, tak ada salahnya mencoba menggunakan ketupat daun kapau ini.


Selain mendapat pengalaman makan yang berbeda, anda juga berperan dalam meneruskan tradisi leluhur masyarakat melayu tepian Sungai Siak sekaligus membantu perekonomian masyarakat asli Pekanbaru tersebut. (***/iil/JPG)

Editor: Ilham Safutra
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore