
Proses memasak pindang bandeng kawak khas Gresik yang membutuhkan waktu tiga hari untuk menghasilkan rasa gurih asin yang khas. (Disperikanan Gresik)
JawaPos.com — Lebaran di Kabupaten Gresik tak hanya identik dengan ketupat dan opor ayam, tetapi juga menghadirkan tradisi kuliner yang unik dan penuh makna. Bandeng Kawak menjadi sajian istimewa yang dimasak selama tiga hari berturut-turut sebelum akhirnya disantap saat Idulfitri.
Tradisi ini bukan sekadar menghadirkan cita rasa gurih asin yang khas, tetapi juga menyimpan filosofi mendalam tentang kesabaran dan kebersamaan.
Seperti halnya Bandeng Kawak dan Gule Ubus yang menjadi hidangan khas Lebaran di Gresik, bandeng punya tempat tersendiri di hati masyarakat.
Tak banyak daerah yang mempertahankan metode memasak selama ini, apalagi hingga tiga hari berturut-turut. Namun di Gresik, justru proses panjang itulah yang menjadi kunci kelezatan sekaligus nilai budaya yang dijaga lintas generasi.
Cara membuat bandeng khas Gresik terbilang sederhana dari segi bahan, tetapi membutuhkan ketelatenan tinggi. Satu ekor bandeng ukuran besar dimasak utuh tanpa dipotong agar teksturnya tetap terjaga.
Air dididihkan terlebih dahulu hingga benar-benar panas sebelum ikan dimasukkan. Garam secukupnya dan sedikit cuka ditambahkan untuk memperkuat rasa sekaligus membantu proses pengawetan alami.
Setelah matang di hari pertama, bandeng tidak langsung disajikan seperti kebanyakan masakan lainnya.
Justru di sinilah letak keunikannya, karena ikan akan disimpan dan dipanaskan kembali setiap hari selama tiga hari berturut-turut.
Hari ketiga menjadi momen yang paling dinanti karena bandeng sudah mencapai cita rasa terbaiknya. Tekstur dagingnya semakin padat, sementara bumbu meresap hingga ke bagian terdalam ikan.
Rasa gurih dan asin yang dihasilkan pun jauh lebih kuat dibandingkan olahan bandeng biasa. Aroma yang muncul juga semakin tajam dan menggugah selera, membuat siapa pun sulit menolak kelezatannya.
Bagi masyarakat Gresik, angka tiga bukan sekadar hitungan waktu memasak. Proses ini melambangkan kesabaran dalam menunggu hasil terbaik serta penghormatan terhadap tradisi yang diwariskan leluhur.
Tak heran jika hidangan ini biasanya disiapkan menjelang Lebaran dan baru dinikmati bersama keluarga saat hari raya tiba. Momentum tersebut menjadi simbol kebersamaan yang hangat di tengah suasana Idulfitri.
Menariknya, bandeng justru semakin digemari setelah Lebaran usai. Ketika hidangan lain mulai berkurang, sajian ini tetap bertahan dan bahkan menjadi favorit karena rasanya yang semakin kaya.
