Logo JawaPos
Author avatar - Image
23 Maret 2026, 00.52 WIB

Wat-Watan Lebaran 2026! Tradisi Muter Kampung di Bangil yang Bikin Warga Tak Sekadar Saling Sapa

Warga Kauman Bangil kompak berkeliling kampung saat tradisi wat-watan Lebaran 2026. (M Zubaidillah, Radar Bromo) - Image

Warga Kauman Bangil kompak berkeliling kampung saat tradisi wat-watan Lebaran 2026. (M Zubaidillah, Radar Bromo)

JawaPos.com — Malam Idul Fitri 1447 Hijriah di Kelurahan Kauman, Kecamatan Bangil, Kabupaten Pasuruan terasa berbeda dari biasanya. Suasana hangat penuh kebersamaan menyelimuti lingkungan RT 12 RW 3 saat ratusan warga turun ke jalan mengikuti tradisi wat-watan atau “muter” Lebaran.

Bukan sekadar tradisi turun-temurun, wat-watan menjadi momen yang selalu dinanti setiap tahun. Warga dari berbagai usia larut dalam suasana silaturahmi yang terasa begitu dekat dan nyata.

Sejak selepas salat Idul Fitri, aktivitas warga belum benar-benar usai. Justru malam harinya, kebersamaan itu mencapai puncak ketika mereka berkumpul dan mulai berkeliling kampung.

Dengan langkah kompak, rombongan warga berjalan menyusuri gang demi gang. Mereka menyambangi satu per satu rumah tanpa terkecuali, memastikan tidak ada tetangga yang terlewat.

Tradisi ini bukan sekadar formalitas saling bersalaman. Wat-watan menjadi ruang untuk benar-benar menyambung kembali hubungan yang mungkin sempat renggang karena kesibukan sehari-hari.

Ketua RT 12 RW 3, Agus Salim (55), menyebut tradisi ini sudah berlangsung lama dan terus dijaga hingga kini. Pelaksanaannya pun dibuat bergiliran agar semua warga bisa ikut merasakan kebersamaan.

“Jadi, semua warga bareng-bareng turun, berkeliling dan bersilaturahmi dari rumah ke rumah secara bergiliran. Tanpa terlewatkan,” jelas Agus.

Ia menambahkan, wat-watan digelar selama dua hari penuh. Malam pertama dikhususkan bagi para pria, sementara malam berikutnya giliran para wanita.

Pembagian ini membuat suasana lebih tertib dan tetap nyaman. Selain itu, semua warga punya kesempatan yang sama untuk terlibat aktif dalam tradisi tersebut.

Di setiap rumah yang disinggahi, suasana haru dan hangat langsung terasa. Warga saling berjabat tangan, menyampaikan permohonan maaf dengan tulus.

Tak berhenti di situ, rombongan juga menyempatkan diri untuk memanjatkan doa bersama. Tangan-tangan yang menengadah menjadi simbol harapan akan keberkahan dan keselamatan.

Doa yang dipanjatkan pun sederhana namun penuh makna. Mereka berharap bisa kembali dipertemukan dengan Ramadhan dan Idul Fitri di tahun-tahun berikutnya.

Momen ini menjadi pengingat Lebaran bukan hanya soal kemenangan pribadi. Ada nilai kebersamaan dan spiritualitas yang turut menguatkan ikatan sosial antarwarga.

Editor: Sabik Aji Taufan
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore