Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 13 Desember 2020 | 23.48 WIB

Cara Khusus Jinakkan Burung Cerdas Tledekan

PENUH TANTANGAN: Tledekan adalah burung cerdas yang tidak gampang dijinakkan. (Puguh Sujiatmiko/Jawa Pos) - Image

PENUH TANTANGAN: Tledekan adalah burung cerdas yang tidak gampang dijinakkan. (Puguh Sujiatmiko/Jawa Pos)

Dikenal sebagai burung cerdas, tledekan gunung memiliki keistimewaan tersendiri. Yakni, mampu menirukan belasan suara burung.

---

UNTUK bisa seperti itu, perawatannya pun tidak sembarangan. Ada beberapa tip dan trik yang wajib dilakukan. Mulai cara biasa sampai ekstrem. Semuanya ditujukan agar tledekan jinak.

Burung asli endemik Indonesia tersebut memang unik. Dibanding burung kicau lainnya. Tledekan memang tak sefamilier love bird atau sejenisnya. Karakternya sebagai petarung tak jarang membuat kicau mania mempelajarinya lebih dalam. Dalam setahun, tledekan hanya mampu bertelur sekali. Tepatnya pada musim hujan.

Karena itulah, penghobi burung tersebut masih dianggap minoritas. Mengingat, jumlahnya tak sebanyak pencinta burung jenis lainnya. Ada beberapa tantangan yang harus dilalui penggemar tledekan. Yakni, bagaimana agar bisa jinak. Sebab, itu akan berpengaruh saat di gantangan.

Ketua Komunitas Tledekan Surabaya–Sidoarjo Feri Setiawan menuturkan, ada beberapa metode untuk menjinakkan tledekan. Yang jelas, kedekatan emosional pemilik secara tak langsung harus terbangun. ”Jadi, butuh perawatan yang konsisten,” ucapnya.

Cara itu memang seperti perawatan pada burung lainnya. Yakni, harus penuh kesabaran. Pemberian makan dan merawatnya harus secara rutin. Nah, untuk cara ekstremnya adalah terapi makan. Burung hanya diberi makan pada pagi dan sore hari. Itu pun ada caranya, yaitu pemilik wajib memberikan makan dengan tangan.

Jadi, makanan tidak diberikan di tempat yang sudah ada saja. Melainkan terdapat pendekatan emosional antara burung dan pemilik. Cara tersebut diangggap lebih cepat membuat tledekan jinak. Di samping itu, saat malam hari wajib dimandikan.

Cara tersebut, kata Feri, bisa menekan agresivitas tledekan. Sebab, dalam kondisi basah, geraknya akan berkurang. Burung cenderung berfokus mengeringkan bulunya. Jika kondisi normal, tingkahnya di dalam sangkar berkurang. Bisa jadi burung mulai jinak.

Tledekan memang dikenal burung pandai bersuling. Belasan macam jenis suara pun bisa ditirukan. Namun, itu semua perlu dilatih. Salah satunya, menyesuikan habitatnya di dalam hutan. Karena itu, tledekan dikenal sebagai burung yang susah jinak.

Baca Juga: Cendet, Burung Galak yang Cerdas Tirukan Beragam Suara

Menurut Feri, selain diberi makanan yang cukup, ada istilah proses embun. Di mana, burung dikeluarkan pada saat pagi hari. Bagusnya lagi kalau masih gelap dan kondisinya sedikit lembap. ”Biasanya sebelum subuh tambah bagus,” katanya.

Sebab, cara tersebut bisa mengembalikan tledekan pada habitatnya di alam liar. Yakni, di dalam hutan dengan kondisi dingin dan lembap. Selain itu, langkah tersebut berguna untuk meningkatkan kesehatan pada burung itu sendiri. Mengingat pada jam tersebut udara di luar masih fresh.

Selain sering disuguhkan banyak jenis suara, proses masteran dinilai penting. Dengan begitu, tledekan bakal merekam dan menirukan suaranya. ”Tledekan mampu turunkan hingga 15 suara burung, tapi semua bergantung perawatannya,” terang Feri.

Awas, Kotoran Campur Kapur


Meski dikenal burung petarung yang hidup di alam liar, tledekan punya pantangan yang harus dihindari. Salah satunya, soal kebersihan sangkar. Sebab, hal tersebut berisiko burung mengalami penyakit berak kapur. Jika itu terjadi, bisa jadi usia tledekan tidak akan lama lagi.

Saat malam hari, tledekan juga wajib dikerodong. Selain melindungi dari angin malam. Cara tersebut dilakukan agar terhindar dari serangga. Sebab, terdapat jenis serangga yang kalau dimakan membuat tledekan keracunan. Dampaknya pun fatal, yakni burung bisa mati.

Penghobi tledekan Angki Andrias mengatakan, merawat tledekan memang susah gampang. Wajib jeli saat memberikan makanan. Di mana, terkadang terdapat kroto yang sudah tidak fresh lagi. Nah, bisa berpengaruh pada kondisi burung itu sendiri.

Penghobi tledekan lainnya, Sutris Fandi, menambahkan, asal mula tledekan tersebut berpengaruh pada perawatan. Termasuk, lamanya waktu menjinakkan. Tledekan yang dipelihara dalam kondisi cukup besar dan mereka dari alam liar. Maka, tingkat agresivitasnya tinggi. ”Sulit dan butuh waktu untuk dijinakkan,” katanya.

Sementara itu, yang masih anakan menjinakkannya lebih mudah. Meskipun sama-sama dari alam liar. Menurut Sutris, setidaknya butuh 3–6 bulan untuk proses penjinakan.

Saksikan video menarik berikut ini:

https://www.youtube.com/watch?v=VtnxzsJ7JAM

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore