Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 8 Maret 2021 | 03.02 WIB

Burung Kicau Pendatang ”Baru”, Jongkangan Cokelat dan Biru

PENUH TANTANGAN: Memelihara jongkangan gampanggampang susah. Jika berhasil bisa menghasilkan aneka kicauan. Bahkan, ada yang mirip seruling. (Guslan Gumilangan/Jawa Pos) - Image

PENUH TANTANGAN: Memelihara jongkangan gampanggampang susah. Jika berhasil bisa menghasilkan aneka kicauan. Bahkan, ada yang mirip seruling. (Guslan Gumilangan/Jawa Pos)

Badan boleh kecil. Tampilan fisik boleh tak menarik. Tapi, soal suara, jongkangan boleh diadu. Ibarat cabai, dia adalah cabai rawit. Kecil, tapi pedas. Kicauannya juga nyaring. Nadanya mirip tiupan seruling.

---

ITU suara jongkangannya,” ucap Mochamad Idris, menunjukkan siulan burung miliknya kepada Jawa Pos yang berkunjung ke rumahnya di kawasan Krembangan.

Pagi itu, Jumat (5/3), Idris berada di lantai 1. Si burung berada di lantai 2. ”Nah, itu kedengeran lagi,” katanya.

Kicau jongkangan milik Idris memang terdengar nyaring. Suaranya tidak panjang. Tapi, mengalun. Naik-turun. Dari nada rendah merambat ke tinggi, kemudian rendah lagi. Tinggi lagi. Mirip suara seruling.

”Ini belum ngerol,” kata Idris sambil mengajak naik ke lantai 2 rumahnya.

Dari balkon, dia mengangkat satu sangkar. Berisi burung cokelat dengan alis putih di atas mata. Panjangnya hanya sekitar 13 sentimeter. Dengan kaki panjang tipis kecil. Sekecil sapu lidi.

Orang yang tak tahu pasti sedikit heran. Burung sekecil itu punya suara lantang. Tapi, itulah jongkangan atau cingcoang.

Burung bernama latin Brachypteryx leucophrys tersebut memang belum banyak dilirik kicau mania.

Mungkin karena belum ada lomba yang memasukkan kelasnya. Mungkin juga karena fisiknya kurang menarik. Di kalangan kicau mania, jongkangan juga dianggap sebagai burung dengan perawatan yang lumayan ribet. Gampang mati, juga lumpuh.

Dan, isu terakhir itulah yang membuat lelaki kelahiran 25 April 1978 tersebut tertarik mengoleksi jongkangan. Selama setahun belakangan, dia mencermati karakteristik burung yang senang tinggal di hutan basah dengan lingkungan berair itu.

”Soal isu katanya nggak boleh dijemur, ternyata nggak apa-apa kok,” kata bapak empat anak itu.

Jongkangan dikenal suka hawa dingin. Tidak betah panas. Tidak betah dijemur kelamaan. Burung bisa mati.

Nyatanya, belasan jongkangan koleksi Idris kuat panas. Dijemur sekitar lima belas menit, jongkangan tetap oke. Bahkan pernah sampai setengah jam. Jongkangan masih sehat-sehat saja.

Memang, Idrus tidak sembarang menjemur. Saat menjemur, dia menaruh celepuk berisi air ke dasar sangkar. Fungsinya untuk mandi si burung. Berendam di kubangan celepuk dengan mengepakkan sayap.

Soal jongkangan gampang lumpuh, Idris belum punya resepnya. Dia baru menduga-duga. Bisa jadi, burung bisa lumpuh karena perawatan kurang maksimal. Bisa jadi soal kebersihan sangkar. Juga soal pakan.

”Pakannya sebenarnya tidak susah,” ucapnya.

Jongkangan cukup diberi ulat hongkong 3–4 ekor. Lalu, dua ekor jangkrik pada pagi dan sore. Untuk extra fooding, Idris memberikan cacing tanah seminggu dua kali. Cacing diberikan karena habitat jongkangan ada di hutan dan tanah yang berair. Tempat cacing hidup di bawahnya.

Selain jongkangan cokelat, Idris mempunyai koleksi jongkangan biru (Brachypteryx montana). Ukuran jongkangan biru lebih besar daripada cokelat. Cirinya hampir sama, ada garis putih di atas mata. Warnanya biru gelap di sekujur tubuh.

Sayang, pagi itu jongkangan biru milik Idris tidak sedang ingin pamer suara. Dipancing dengan suara video, si jongkangan biru tak menyahut. ”Ini karena kakinya sedang berjamur, baru diobati,” katanya.

Volume suara jongkangan biru lebih keras daripada yang cokelat. Untuk gaya, jongkangan biru, kalau lagi ngerol, bisa teler, mirip anis merah. Sementara untuk jongkangan cokelat, gayanya gedek-gedek dengan kepala ke kanan-kiri. ”Keduanya sama-sama punya ciri khas,” tutur lelaki asal Bangkalan itu.

Baca Juga: 5 Karyawan Kimia Farma Gelapkan Obat Apotek untuk Dijual tanpa Resep

Meski saat ini belum terkenal sebagai burung kicau, khususnya di Surabaya, Idris yakin jongkangan akan populer. Di Jawa Barat, burung itu sudah punya tempat bagi kicau mania. Di wilayah tersebut, jongkangan bahan atau anakan punya kualitas bagus.

”Peluang burung ini saya yakin bagus,” katanya. Selain punya materi kicau yang apik dan khas, saat ini belum banyak kicau mania yang paham betul mengenai jongkangan di wilayah Jawa Timur. Penghobi bisa mengeksplorasi lebih keunikan dan ciri khas si burung dengan kaki jenjang bak model Victoria’s Secret itu.

Saksikan video menarik berikut ini:

https://youtu.be/YJpg9yO1jTQ

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore