
Jalur sepeda di London membantu menurunkan tingkat polutan udara lebih dari 20 persen sejak 2010 (The Guardian)
JawaPos.com - Tiga kota besar dunia, London (Inggris), San Francisco (Amerika Serikat), dan Beijing (Republik Rakyat Tiongkok), mencatatkan capaian luar biasa dalam upaya mengendalikan kualitas udara perkotaan. Analisis terbaru terhadap hampir 100 kota di dunia menunjukkan bahwa kebijakan publik yang ambisius mampu memangkas tingkat polutan berbahaya secara signifikan dalam satu dekade terakhir.
Laporan yang diterima The Guardian menyatakan bahwa 19 kota besar berhasil menurunkan tingkat dua polutan utama, yaitu partikel halus PM2,5 dan nitrogen dioksida (NO₂), masing-masing lebih dari 20 persen sejak 2010 melalui kebijakan yang terkoordinasi. Intervensi seperti perluasan jalur sepeda, peningkatan penggunaan kendaraan listrik, serta pembatasan kendaraan bermotor berpolusi tinggi turut mendorong perubahan struktural dalam pola emisi di kota-kota tersebut.
Melansir The Guardian, temuan ini menggarisbawahi bahwa perbaikan kualitas udara bukan sekadar aspirasi lingkungan, melainkan hasil nyata dari kebijakan yang konsisten dan terukur yang diterapkan pemerintah kota di berbagai belahan dunia.
Cecilia Vaca Jones, Direktur Eksekutif Breathe Cities, sebuah organisasi global yang memfasilitasi kerja sama antar kota dalam pengendalian udara bersih, menegaskan, "Ini bukan hanya terjadi di satu bagian dunia; dari Warsaw hingga Bangkok, kota-kota tersebut membuktikan bahwa kita memiliki alat untuk menyelesaikan krisis ini sekarang juga." Pernyataan tersebut mempertegas bahwa pencapaian ini bukan kebetulan, melainkan hasil dari strategi kebijakan lingkungan dan tata kelola perkotaan yang dirancang secara progresif.
Selain itu, beberapa kota menunjukkan kemajuan yang sangat menonjol. Beijing dan Warsaw memimpin penurunan partikel halus PM2,5 dengan tingkat pengurangan lebih dari 45 persen sejak 2010. Di sisi lain, kota-kota seperti Amsterdam dan Rotterdam mencatat penurunan nitrogen dioksida lebih dari 40 persen, menunjukkan bahwa pengendalian emisi dari lalu lintas dan aktivitas industri mampu menghasilkan perbaikan kualitas udara secara relatif cepat.
Sementara itu, San Francisco menjadi satu-satunya kota di Amerika Serikat yang masuk dalam daftar tersebut setelah berhasil menurunkan dua jenis polutan utama sekaligus, yaitu partikel halus PM2,5 dan nitrogen dioksida. Tingkat penurunannya masing-masing melampaui 20 persen sejak 2010, mencerminkan konsistensi kebijakan iklim serta strategi mobilitas perkotaan yang semakin berorientasi pada transportasi rendah emisi.
Adapun di London, kebijakan seperti Ultra Low Emission Zone (ULEZ), yaitu zona emisi rendah yang mengenakan biaya bagi kendaraan bermotor berpolusi tinggi, telah mengikis dominasi kendaraan berbahan bakar fosil di pusat kota dan sekitarnya. Kebijakan ini tercatat mampu menekan emisi lokal secara substansial dan menjadi contoh nyata bagaimana regulasi transportasi dapat memperbaiki kualitas udara perkotaan dalam waktu relatif cepat.
Meski demikian, para ahli memperingatkan bahwa pencapaian ini, meskipun signifikan, bukanlah akhir dari perjuangan melawan polusi udara. Dr Gary Fuller dari Imperial College London yang dikutip The Guardian mengatakan, "Polusi udara sering disajikan sebagai masalah yang terlalu sulit dipecahkan dan tidak populer secara politik. Namun, laporan ini menunjukkan bahwa kebijakan berani dapat memperbaiki udara yang kita hirup." Pernyataan ini menjadi pengingat bahwa keberanian politik tetap menjadi salah satu faktor penentu dalam perbaikan kualitas udara.
Di sisi kesehatan publik, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menegaskan bahwa tidak ada tingkat aman untuk paparan partikel halus PM2,5. Paparan jangka panjang terhadap polutan ini masih dikaitkan dengan berbagai penyakit serius, termasuk penyakit jantung, kanker, dan gangguan perkembangan kognitif. Namun, penurunan konsentrasi polutan seperti yang dicapai sejumlah kota tersebut diperkirakan dapat menyelamatkan jutaan nyawa setiap tahun apabila upaya serupa diterapkan secara lebih luas di berbagai kota dunia.
Keberhasilan 19 kota ini menjadi contoh konkret bahwa isu polusi udara dapat ditangani secara efektif oleh pemerintah dan masyarakat ketika dipadukan dengan kebijakan progresif serta investasi strategis. Dari pengurangan penyakit pernafasan hingga peningkatan produktivitas ekonomi, dampak udara bersih terasa luas dan signifikan.
