
Salah satu arsitektur bangunan di Kota Isfahan, Iran. (Al Jazeera)
JawaPos.com - Serangan rudal di kawasan industri kota Isfahan, Iran tengah, telah menewaskan sedikitnya 15 orang, dengan para pekerja berada di dalam pabrik pada saat serangan terjadi.
Serangan tersebut menghantam sebuah pabrik yang memproduksi peralatan pemanas dan pendingin pada Sabtu (14/3), hari kerja di Iran, sperti dilansir Al Jazeera dari kantor berita semi-resmi Fars, yang mengaitkan serangan tersebut dengan pasukan AS dan Israel.
Peristiwa itu terjadi pada hari ke-15 konflik yang menurut Kementerian Kesehatan Iran telah menewaskan sedikitnya 1.444 orang dan melukai lebih dari 18.500 orang sejak serangan AS-Israel dimulai pada 28 Februari.
Kota-kota di seluruh Iran telah berulang kali menjadi sasaran setelah dimulainya permusuhan.
Pada 8 Maret, penembakan merusak konsulat Rusia di Isfahan, melukai staf, dan Moskow menyebut serangan itu sebagai "pelanggaran terang-terangan" terhadap konvensi internasional.
Kementerian Kebudayaan Iran mengatakan bahwa 56 museum dan situs bersejarah telah rusak.
Termasuk Lapangan Naqsh-e Jahan, pusat kota Isfahan abad ke-17, dan Istana Golestan di Teheran yang terdaftar sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO.
UNESCO sendiri telah menyatakan sangat prihatin, mencatat bahwa empat dari 29 Situs Warisan Dunia Iran telah terkena dampaknya.
Secara terpisah, militer Iran mengkonfirmasi bahwa Brigadir Jenderal Abdullah Jalali-Nasab telah tewas dalam serangan Israel, dan mengatakan bahwa ia telah gugur saat membela negara.
Sebelumnya, pasukan AS juga menyerang Pulau Kharg, yang menangani sekitar 90 persen ekspor minyak mentah Iran, meskipun seorang pejabat regional mengatakan operasi berjalan normal, dan tidak ada korban jiwa.
Presiden AS Donald Trump sebelumnya mengancam akan menargetkan infrastruktur minyak pulau itu jika Teheran terus mengganggu Selat Hormuz.
Segala kemungkinan negosiasi tampaknya jauh. Pemerintahan Trump telah menolak upaya regional untuk menengahi gencatan senjata, dengan seorang pejabat senior Gedung Putih mengatakan kepada kantor berita Reuters bahwa presiden fokus untuk terus maju.
“Dia tidak tertarik pada hal itu saat ini, dan kami akan melanjutkan misi tanpa hambatan,” kata pejabat itu.
