
Bendera nasional Tiongkok berkibar di depan kantor pemerintahan di Beijing (Reuters)
JawaPos.com - Tiongkok resmi menyetujui peluncuran komersial perangkat implan otak berbasis brain–computer interface (BCI) yang dirancang untuk membantu pasien lumpuh memulihkan sebagian kemampuan gerak tangan. Persetujuan ini menjadikan perangkat tersebut sebagai implan otak pertama di dunia yang memperoleh izin pemasaran, sekaligus menempatkan Tiongkok di garis depan perlombaan global teknologi antarmuka otak-komputer.
Keputusan tersebut juga menegaskan meningkatnya kompetisi global dalam pengembangan teknologi BCI, yaitu bidang neuroteknologi yang memungkinkan aktivitas otak manusia diterjemahkan menjadi perintah bagi perangkat digital atau mekanis. Teknologi serupa tengah dikembangkan oleh berbagai perusahaan teknologi dunia, termasuk Neuralink, perusahaan neuroteknologi milik miliarder teknologi Amerika Serikat, Elon Musk.
Dilansir dari Reuters, Senin (16/3/2026), regulator medis Tiongkok memberikan izin pemasaran bagi perangkat yang dikembangkan perusahaan Neuracle Medical Technology. Perangkat tersebut ditujukan bagi pasien yang mengalami kelumpuhan akibat cedera serius pada sumsum tulang belakang di bagian leher, kondisi yang dapat memutus jalur sinyal saraf dari otak menuju lengan dan tangan.
Baca Juga: Sengketa Anthropic–Pentagon Ungkap Pergeseran Sikap Silicon Valley terhadap Perang di Era AI
Secara teknis, sistem BCI bekerja dengan menangkap sinyal otak yang berkaitan dengan niat seseorang untuk menggerakkan tangan. Sinyal tersebut kemudian diterjemahkan oleh perangkat lunak menjadi perintah yang menggerakkan sarung tangan robotik yang dikenakan pasien.
Sarung tangan robotik itu menggunakan mekanisme tenaga udara untuk membuka dan menutup tangan sehingga pasien yang sebelumnya tidak mampu menggenggam benda dapat kembali melakukan aktivitas dasar seperti memegang objek.
Direktur Sichuan Institute of Brain Science, Yao Dezhong, mengatakan perkembangan teknologi ini menandai tahap penting dalam transisi BCI dari penelitian laboratorium menuju penggunaan praktis. Dia mengatakan kepada Reuters, "Dalam tiga hingga lima tahun ke depan, kita akan mulai melihat beberapa produk BCI benar-benar bergerak menuju penggunaan praktis bagi masyarakat."
Namun demikian, penggunaan perangkat ini tidak berlaku untuk semua pasien. Media pemerintah Tiongkok menyebutkan bahwa teknologi tersebut ditujukan bagi orang dewasa berusia 18 hingga 60 tahun yang telah mengalami kelumpuhan selama lebih dari satu tahun dan kondisi medisnya stabil setidaknya selama enam bulan. Selain itu, pengguna juga masih harus memiliki sebagian kemampuan gerak pada lengan atas.
Seiring dengan itu, dalam beberapa tahun terakhir Tiongkok juga meningkatkan investasi besar-besaran dalam pengembangan teknologi BCI dan bahkan memasukkan bidang ini sebagai prioritas strategis nasional dalam rencana pembangunan ekonomi jangka menengah. Perkembangan tersebut terjadi di tengah perlombaan global untuk membawa teknologi serupa ke tahap komersialisasi.
Sebagai gambaran, tahun lalu perusahaan Tiongkok Shanghai NeuroXess menarik perhatian internasional setelah seorang pria berusia 28 tahun yang lumpuh selama delapan tahun mampu mengendalikan perangkat digital menggunakan pikirannya hanya lima hari setelah menerima implan otak.
Sementara di Amerika Serikat, perusahaan teknologi juga mempercepat pengembangan teknologi serupa. Elon Musk melalui Neuralink menyatakan bahwa perusahaan tersebut akan memulai "produksi perangkat BCI dalam volume tinggi" pada 2026.
Neuralink juga menyebutkan bahwa hingga September tahun lalu sebanyak 12 pasien dengan kelumpuhan berat di berbagai negara telah menerima implan otak dari perusahaan tersebut dan mampu mengendalikan perangkat digital maupun alat fisik hanya melalui aktivitas pikiran mereka.
Menurut para ilmuwan, kemajuan tersebut menunjukkan bahwa teknologi BCI mulai bergerak dari tahap eksperimen menuju penerapan medis yang lebih nyata. Namun, mereka juga mengingatkan bahwa pengujian jangka panjang tetap diperlukan sebelum teknologi tersebut digunakan secara luas.
Di tengah kemajuan itu, persetujuan komersial pertama di Tiongkok menegaskan bahwa perlombaan global untuk menguasai teknologi BCI kini tidak lagi sekadar riset laboratorium, melainkan mulai memasuki arena industri dan pasar.
