
Di Gaza, Samira Touman membuat kue Idul Fitri untuk keluarganya sendiri, serta pelanggan yang memesan. (Abdelhakim Abu Riash/Al Jazeera)
JawaPos.com - Untuk pertama kalinya dalam hampir dua tahun terakhir, denyut kehidupan perlahan kembali terasa di pasar-pasar Jalur Gaza menjelang Idul Fitri. Lorong-lorong sempit di Gaza City, Khan Younis, hingga Deir al-Balah mulai dipadati warga yang berburu kebutuhan Lebaran, dari pakaian anak hingga makanan khas hari raya.
Para pedagang kembali berseru menawarkan dagangan mereka, menciptakan suasana yang mengingatkan pada masa sebelum perang. Aroma kue Lebaran dan keramaian pasar yang sempat hilang kini perlahan kembali, menghadirkan secercah normalitas di tengah kondisi yang masih rapuh.
Namun di balik keramaian itu, realitas pahit tak bisa disembunyikan. Banyak warga yang datang ke pasar bukan untuk berbelanja, melainkan sekadar merasakan suasana Idul Fitri yang lama hilang.
“Kami merindukan suasana Lebaran, tapi kenyataannya sebagian besar orang tidak punya uang. Banyak yang datang hanya untuk melihat-lihat atau membeli sesuatu yang sangat kecil untuk anak-anak mereka,” kata Abu Mohammed Radi, warga Gaza, kepada The New Arab.
Fenomena ini terlihat jelas di Pasar Zawiya, salah satu pasar bersejarah di Gaza City. Meski dipenuhi pengunjung, para pedagang mengaku penjualan masih jauh dari normal. Keramaian tidak berbanding lurus dengan transaksi.
“Orang-orang ingin membahagiakan anak-anak mereka, tapi harga sangat tinggi dan daya beli sangat lemah,” ujar Majd Abu Kwaik, pemilik toko pakaian.
Kondisi ekonomi Gaza memang terpukul parah. Blokade berkepanjangan yang diperparah perang selama berbulan-bulan membuat ratusan ribu orang kehilangan pekerjaan dan sumber penghasilan. Banyak keluarga kini sepenuhnya bergantung pada bantuan kemanusiaan atau sisa tabungan yang kian menipis.
Untuk bertahan, para pedagang pun beradaptasi. Sejumlah toko mulai menjual pakaian bekas atau barang murah agar tetap terjangkau bagi warga. Namun, bahkan kebutuhan dasar pun kini terasa mewah.
Harga bahan pokok seperti gula, tepung, dan minyak melonjak akibat terbatasnya pasokan dan pembatasan distribusi barang. Ikan, yang biasanya menjadi hidangan khas, juga ikut mahal karena nelayan kesulitan melaut.
“Bahkan ikan sekarang mahal. Pasokan terbatas dan nelayan tidak bisa bekerja bebas, ini membuat harga ikan asin untuk Lebaran juga naik,” tambah Abu Kwaik.
Akibatnya, tradisi belanja besar menjelang Idul Fitri yang dulu menjadi momen penting kini nyaris hilang. Banyak keluarga hanya mampu membeli dalam jumlah sangat terbatas, bahkan tak sedikit yang pulang tanpa membawa apa pun.
“Mereka datang hanya untuk merasakan suasana Lebaran,” kata Abu Kwaik.
Meski begitu, kehadiran warga di pasar tetap menjadi simbol ketahanan di tengah krisis. Setelah berbulan-bulan hidup dalam bayang-bayang perang dan sekadar bertahan hidup, keramaian ini memberi ruang kecil bagi harapan, meski tanpa daya beli.
Di Gaza hari ini, pasar mungkin kembali hidup. Namun bagi sebagian besar warganya, Lebaran masih terasa jauh dari kata sejahtera. (*)
