Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 24 Juni 2026 | 19.43 WIB

Konflik Iran dan Amerika Serikat Berdampak Pada Komoditas Energi, Naik-Turun Harga LNG jadi Perhatian

ILUSTRASI Ekspor LNG. (ANTARA) - Image

ILUSTRASI Ekspor LNG. (ANTARA)

JawaPos.com – Memanasnya konflik geopolitik di Timur Tengah, terutama meningkatnya ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat, kembali memicu kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan energi global. Dampaknya mulai terasa pada berbagai komoditas energi, termasuk gas alam cair (LNG) yang mengalami kenaikan harga di pasar internasional.

Menteri Luar Negeri Malaysia Mohamad Hasan berharap perundingan antara Amerika Serikat dan Iran mencapai kesepakatan demi terciptanya perdamaian dan stabilitas di Asia Barat, dikutip dari ANTARA.

"Malaysia berharap agar perundingan yang sedang berlangsung di Swiss dapat mencapai kesepakatan demi perdamaian dan stabilitas di Asia Barat. Hal ini penting karena Malaysia dan negara-negara lain bergantung pada kawasan tersebut untuk memperoleh pasokan bahan mentah, termasuk pupuk, minyak, dan LNG," jelas Hasan di parlemen Malaysia, Selasa.

Dia menekankan dunia masih bergantung pada pasokan minyak mentah, dan bagi Malaysia, sebagian besar minyak mentah untuk diproses diimpor dari kawasan Teluk.

Ketika krisis terjadi akibat serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran, Iran juga melakukan serangan balasan.

Salah satu dampak buruk pada awal konflik menurutnya adalah penutupan jalur perdagangan pelayaran di Selat Hormuz oleh Iran.

"Jalur tersebut merupakan rute strategis yang menangani seperlima pasokan minyak mentah global. Malaysia masih mengimpor pasokan dari kawasan tersebut, meskipun kita memiliki pasokan minyak dan diesel sendiri. Ketergantungan terhadap pasokan tersebut menyebabkan lonjakan harga minyak dan diesel di seluruh dunia, termasuk di Malaysia," jelas dia.

Malaysia sendiri bersyukur karena Amerika dan Iran sepakat menandatangani sebuah memorandum kesepahaman yang memuat 14 syarat, yang sebelumnya tidak disetujui oleh Amerika Serikat maupun Iran.

Pada perkembangannya, Amerika Serikat dan Iran telah sepakat untuk terlebih dahulu menandatangani nota kesepahaman (MoU), di mana kedua pihak saat ini sedang berunding dan akan memfinalisasi perjanjian akhir dalam jangka waktu maksimal 60 hari.

Editor: Banu Adikara
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore