
Pavel Durov, pendiri sekaligus CEO Telegram../ (AP News)
JawaPos.com — Pendiri sekaligus CEO Telegram Pavel Durov kembali menjadi sorotan global setelah Rusia memasukkannya ke dalam daftar buronan internasional atas tuduhan membantu aktivitas terorisme.
Keputusan tersebut menjadi tekanan hukum terbaru terhadap miliarder teknologi kelahiran Rusia itu sekaligus memperlihatkan meningkatnya perseteruan antara pemerintah dan platform digital global yang beroperasi di luar kendali negara.
Otoritas Rusia melalui Badan Keamanan Federal Rusia atau Federal Security Service (FSB) menuduh administrasi Telegram gagal menghapus berbagai kanal, grup percakapan, dan bot yang diduga digunakan badan intelijen Ukraina serta organisasi teroris dan ekstremis untuk menyiapkan sabotase, aksi teror, pembunuhan massal, hingga penipuan siber di Rusia.
Dilansir dari AP News, Jumat (31/7/2026), FSB menyebut aktivitas tersebut telah menyebabkan "banyak korban jiwa" dan mengklaim sebuah chatbot kencan di Telegram digunakan untuk merekrut warga Rusia melakukan aktivitas sabotase.
Sebanyak 46 pengguna berusia 12 hingga 22 tahun disebut telah ditahan dalam setahun terakhir atas dugaan penyerangan terhadap aparat, pembakaran, dan tindakan lainnya. Jika terbukti bersalah, Durov terancam hukuman penjara seumur hidup di Rusia.
Durov sebelumnya membantah tuduhan tersebut dan menyebut penyelidikan Rusia sebagai upaya untuk membatasi kebebasan digital.
"Mereka sedang merekayasa alasan untuk membatasi akses terhadap Telegram sebagai bagian dari upaya menekan hak atas privasi dan kebebasan berbicara," ujar Durov. Telegram belum memberikan tanggapan resmi terkait tuduhan terbaru ini, sementara akun resminya di platform X mengunggah gambar Durov yang mengacungkan jari tengah ke arah kamera.
Kasus ini memperlihatkan perubahan sikap Moskwa terhadap Telegram. Rusia sebelumnya gagal memblokir layanan tersebut pada 2018 hingga 2020, tetapi setelah invasi penuh ke Ukraina pada 2022, pemerintah memperluas pengawasan terhadap ruang digital.
Sejumlah platform seperti Facebook, Instagram, dan X telah dilarang, akses YouTube diperlambat, sementara aplikasi pesan seperti Signal dan Viber diblokir.
Meski menghadapi pembatasan, Telegram tetap menjadi salah satu platform komunikasi utama di Rusia, termasuk digunakan pejabat pemerintah dan kanal resmi Kremlin.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Armenia vs Latvia di Liga Nations UEFA: Sarkanbaltsarkanie Paksa Tuan Rumah Imbang
Prediksi Skor Montenegro vs Siprus di Liga Nations UEFA: Duel Sengit Rawan Imbang di Pod Goricom
Prediksi Skor Polandia vs Bosnia-Herzegovina di Liga Nations UEFA: Zmajevi Siap Kejutkan Tuan Rumah
Guruh Soekarnoputra Meninggal, Ini Daftar Anak Soekarno yang Masih Hidup dan Sudah Tiada
Guruh Soekarnoputra dalam Kondisi Kritis, Dirawat Intensif di RS Siloam Semanggi
Bikin Geger Lagi, 244 Siswa Hingga Guru di Batang Tumbang Usai Santap MBG
Prediksi Skor Georgia vs Irlandia Utara di Liga Nations UEFA: Jvarosnebi Pesta Gol di Kandang
Prediksi Skor Slovakia vs Moldova di Liga Nations UEFA: Sokoli Borong Gol di Futbal Tatran Aréna
Prediksi Skor Bangladesh vs Malaysia di FIFA ASEAN Cup 2026: Harimau Malaya Curi Kemenangan
Prediksi Skor Albania vs Belarus di Liga Nations UEFA: Kuq e Zinjtë Menang Tipis Hadapi Tim Tamu

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022