Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 4 Agustus 2026 | 03.11 WIB

Robot Humanoid Bersiap Masuk Ladang, Babak Baru Otomatisasi Pertanian Global Mulai Diuji

Robot humanoid dinilai berpotensi mengubah cara pertanian dilakukan di masa depan / Foto: (BBC) - Image

Robot humanoid dinilai berpotensi mengubah cara pertanian dilakukan di masa depan / Foto: (BBC)

JawaPos.com — Perlombaan robot humanoid yang selama ini banyak dikaitkan dengan pabrik, gudang, dan layanan publik mulai bergerak ke sektor yang jauh lebih kompleks: pertanian. Di Harper Adams University, Shropshire, Inggris, peneliti tengah mengkaji bagaimana robot berbentuk manusia dapat menjadi tahap berikutnya dalam otomatisasi pertanian, dengan kemampuan menangani beragam pekerjaan yang selama ini bergantung pada tenaga manusia.

Selama ini, otomatisasi pertanian lebih banyak mengandalkan robot yang dirancang untuk menyelesaikan pekerjaan tertentu. Pendekatan itu dapat berubah jika robot humanoid berhasil dikembangkan untuk menangani berbagai tugas sekaligus. Dengan bentuk dan tingkat kebebasan gerak yang menyerupai tubuh manusia, robot tersebut secara teori dapat diprogram untuk melakukan pekerjaan yang beragam, sehingga satu platform tidak harus dibuat khusus untuk setiap kebutuhan di lahan.

Dilansir dari BBC, Senin (3/8/2026), Profesor Teknik di Harper Adams University, Fernando Auat Cheein, mengatakan robot humanoid memiliki “kemampuan yang serupa” dengan manusia dan dapat diprogram untuk melakukan pekerjaan yang sama. “Humanoid memiliki tingkat kebebasan gerak yang sama dan kemampuan seperti tubuh manusia. Karena itu, kita dapat memprogram robot bukan untuk menyelesaikan satu masalah, melainkan banyak masalah,” ujarnya.

Dalam praktiknya, fleksibilitas itu dapat diterapkan pada pekerjaan seperti memanen, menanam, hingga memangkas tanaman. Robot juga dapat diotomatisasi agar pekerjaan dilakukan lebih cepat. Menurut Cheein, keunggulan utama pendekatan tersebut terletak pada kemampuan satu platform untuk mengerjakan berbagai tugas, bukan sekadar menggantikan manusia dengan mesin yang lebih cepat.

Penggunaan robotika dalam pertanian bukan hal baru di Harper Adams University. Namun, menurut Cheein, robot-robot yang digunakan selama ini umumnya dirancang untuk menyelesaikan pekerjaan tertentu. “Setiap robot yang kita miliki sekarang memiliki solusi tersendiri, pada dasarnya merupakan solusi ad hoc,” katanya. “Saat muncul masalah, lalu barulah dibuat robot untuk menyelesaikan masalah tersebut. Robot itu tidak dapat digunakan di tempat lain atau untuk menyelesaikan masalah berbeda.

Keunggulan lain muncul ketika teknologi tersebut diterapkan dalam skala besar. Cheein mengatakan, setelah kemampuan humanoid berhasil disempurnakan, pemrograman yang sama dapat diterapkan pada 1.000 robot atau lebih. Dengan demikian, pengembangan satu sistem dapat diperluas ke banyak unit tanpa harus merancang ulang kemampuan robot dari awal untuk setiap mesin.

Namun, arah tersebut tidak otomatis berarti berakhirnya peran pekerja pertanian. Cheein menegaskan masa depan yang dibayangkannya bukan penggantian manusia, melainkan kolaborasi. Robot humanoid akan berbagi ruang kerja dan tugas dengan manusia, sehingga teknologi harus mampu memahami lingkungan sosial dan perilaku orang di sekitarnya.

Karena itu, tantangan berikutnya bukan sekadar membuat robot dapat berjalan atau memegang benda, melainkan membuatnya aman ketika bekerja berdampingan dengan manusia. “Robot dan kita, dalam lingkungan yang sama, harus dapat hidup berdampingan dalam arti tertentu. Untuk itu, kita membutuhkan robot yang memiliki keterampilan sosial,” tutur Cheein. 

Namun, penerapan robot humanoid di pertanian masih menghadapi keraguan. Mengutip Financial Times, James Wu, pendiri sekaligus CEO FJDynamics, perusahaan yang mengembangkan robot untuk sektor pertanian, menilai, “Saya tidak melihat bagaimana robot humanoid dapat bekerja secara bermakna di kehidupan nyata dalam waktu dekat,” ujarnya. Perusahaannya justru tetap mengembangkan robot khusus untuk pekerjaan tertentu, seperti mendorong pakan ternak dan membersihkan kotoran sapi.

Perbedaan pandangan itu menunjukkan bahwa arah otomatisasi pertanian belum sepenuhnya seragam. Harper Adams University menguji kemungkinan robot serbaguna yang dapat menangani banyak pekerjaan dalam sektor ini, sementara pengembang lain masih mengandalkan mesin khusus untuk tugas tertentu. Tantangannya bukan hanya membuat humanoid mampu bekerja di ladang, tetapi membuktikan bahwa fleksibilitasnya benar-benar lebih efektif untuk kebutuhan pertanian.

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags

Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore