
Pendiri Muslimverse, Sandiaga Salahuddin Uno dan pemilik Nasaruddin Umar Office (NUO) sekaligus Menteri Agama (Menag) Prof Nasaruddin Umar melakukan penandatanganan nota kesepahaman (MoU). (Istimewa)
JawaPos.com - Pendiri Muslimverse, Sandiaga Salahuddin Uno dan pemilik Nasaruddin Umar Office (NUO) sekaligus Menteri Agama (Menag) Prof Nasaruddin Umar melakukan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) di Masjid Istiqlal, Jakarta Pusat, Minggu (20/7) sore WIB.
Kedua pihak saling mendukung dalam pengembangan konten Muslimverse dan syiar Islam. Acara itu juga dihadiri Wakil Kepala Staf Presiden (KSP) Muhammad Qodari.
Sandiaga Uno mengaku, sekarang ada satu tantangan bagi umat Muslim yang selalu mengantuk ketika mendengarkan khutbah Jumat. Fenomena itu menjadi peluang bagi Muslimverse untuk mengajak jamaah agar tidak mengantuk selama khutbah Jumat berlangsung, dengan menyajikan fitur yang menambah wawasan keislaman.
"Sekarang ada kuis untuk menguji pengetahuan kita dalam khutbah Jumat, data terakhir 46 persen gen Z lehih memilih membaca Alquran di aplikasi digital. Muslimverse ini banyak membantu kita belajar tentang Islam," ucap Sandiaga.
Mantan Menparekraf itu pun membagikan pengalamannya mencoba sejumlah fitur di Muslimverse. Salah satu yang bermanfaat adalah petunjuk kiblat. Dia sudah mengunjungi sejumlah negara untuk mencari arah kiblat dengan bantuan Muslimverse, dan terbukti aplikasi tersebut sangat akurat.
"Saya coba keliling dunia pakai Muslimverse. Saya coba di Prancis, saya coba sholat dan kiblat, bener ini. Saya sampai kita ke kota terkecil di China, Ordos, di Inner Mongolia, China. Saya baru pulang dari Chengdu, ini juga bisa dipakai. Saya sekarang 100 persen pakai Muslimverse, saya take down aplikasi sebelah," kata Sandiaga.
Sementara itu, pendiri NUO sekaligus Menag dan Imam Besar Istiqlal, Prof Nasaruddin Umar sangat senang bisa bekerja sama dalam pengembangan Muslimverse.
Menurut dia, kemajuan teknologi yang semakin pesat bisa dimanfaatkan untuk memberdayakan umat untuk mendorong masyarakat meningkatkan ibadahnya.
Nasaruddin menyebut, sudah saatnya umat Islam tidak hanya sebagai konsumen dari teknologi, melainkan beralih menjadi produsen.
"Kita juga harus jadi produsen IT juga, maka kita harus jadi imam dalam pemanfaatan teknologi. Kalau teknologi tanpa imam, itu makmumnya akan rusak," kata Nasaruddin.
Dia pun membagikan pengalaman diundang Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York, Amerika Serikat (AS), baru-baru ini. Nasaruddin menyampaikan, PBB memintanya sebagai penanggungjawab Masjid Istiqlal untuk membantu asisten pembangunan masjid-masjid di Amerika Latin.
Hal itu karena muncul sejumlah komunitas di Amerika Latin beragama Islam, yang kesulitan masuk ke AS. Karena PBB melihat Istiqlal sebagai sebuah standar pengelolaan masjid Islam, Nasaruddin pun menyanggupinya.
"Mereka mau masuk AS susah dan mereka terdampar di Amerika Latin, jangan sampai masjid itu jadi tempat radikal, apa yang harus dilakukan agar seperti yang dilakukan di Istiqlal, jadi Istiqlal sudah menjadi standar internasional," pungkas Nasaruddin.

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
10 Kebab Paling Enak di Jakarta, Kuliner Timur Tengah yang Cita Rasanya Autentik
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
