
Di RW 07 Kelurahan Rorotan, Jakarta Utara, memilah sampah bukan lagi sekadar slogan, melainkan napas kehidupan sehari-hari. (Ryandi Zahdomo/ JawaPos.com)
JawaPos.com - Ibu Kota sedang berpacu dengan waktu. Setiap harinya, Jakarta memproduksi sampah hingga 9.000 ton. Jika tidak ada perubahan radikal, TPST Bantargebang yang menjadi tumpuan terakhir diprediksi akan mencapai batas maksimalnya dalam waktu dekat.
Apalagi, sebuah laporan dari Institut Emmett, UCLA, mengungkap fakta Bantargebang adalah penyumbang gas metana kedua tertinggi di dunia, mencapai 6,3 ton per jam. Hal ini dipicu oleh komposisi sampah yang didominasi sisa makanan (43%) dan plastik (28%).
Lantas, seberapa efektifkah gerakan pemilahan sampah dari rumah untuk menyelamatkan Jakarta?
Revolusi "Kumpul-Pilah-Olah" Mulai 2026
Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, Dudi Gardesi, menegaskan bahwa pola lama "kumpul-angkut-buang" sudah tidak lagi relevan. Melalui Instruksi Gubernur Nomor 5 Tahun 2026, Jakarta resmi memulai transformasi besar-besaran.
"Target utama Gerakan Pilah Sampah adalah mendorong perubahan perilaku masyarakat agar pemilahan dilakukan sejak dari sumber, khususnya rumah tangga, sehingga volume sampah yang dikirim ke TPST Bantargebang dapat berkurang secara signifikan dan ke depan hanya sampah residu yang dikirim ke sana," ujar Dudi kepada JawaPos.com, Jumat (15/5).
Langkah ini mendesak karena Jakarta akan menghentikan pola open dumping mulai 1 Agustus 2026. Artinya, hanya sampah yang benar-benar tidak bisa diolah lagi yang boleh masuk ke Bantargebang.
Menambah Napas TPST Bantargebang
Banyak warga bertanya, apakah memilah sampah di dapur benar-benar berdampak? Dudi mengklaim akan sangat signifikan. Dengan memisahkan sampah organik, beban Bantargebang bisa berkurang hampir separuhnya.
"Pelaksanaan pemilahan yang berjalan optimal, maka sampah organik dapat diolah menjadi kompos atau pakan maggot, sedangkan anorganik bernilai dapat masuk rantai daur ulang. Dengan demikian, hanya residu yang benar-benar tidak dapat dimanfaatkan yang dikirim ke TPST Bantargebang, semakin kecil residu yang dibuang, maka semakin lambat penumpukan di TPST Bantargebang dan semakin panjang life span fasilitas tersebut," terangnya.

Prediksi Bursa Taruhan Prancis vs Maroko di Piala Dunia 2026: Singa Atlas Bisa Paksa Les Blues Main Lebih dari 90 Menit
Sudah Terima Kompensasi Rp 5 Juta, Pengontrak di Surabaya Diberi Waktu 1 Bulan untuk Pindah
Prediksi Skor Prancis vs Maroko di Perempat Final Piala Dunia 2026: Deja Vu atau Pembuktian Singa Atlas
Artis Arie Nugroho dan Windy Wulandari Berduka Yogi Rahmat Meninggal Dunia
Prediksi Bursa Taruhan Spanyol vs Belgia di Piala Dunia 2026: La Roja Dijagokan Melaju ke Semifinal
10 Besar Penjualan Mobil Juni 2026: BYD Comeback jadi Merek Tiongkok Terlaris Kalahkan Jaecoo
Polisi Temukan Uang Rp60 Miliar di Cafe de Clan Jaksel, Diangkut Pakai 3 Mobil
Prediksi Susunan Pemain Norwegia vs Inggris di Piala Dunia 2026: Lomba Sihir Erling Haaland dan Harry Kane ke Semifinal!
Viral dr. Anggi Aprilyani Masuk Gereja, Tuai Tudingan Penistaan Agama
Gosip Perselingkuhan Lionel Messi Memanas, Sang Istri Tanggapi Rumor Skandal Suami dengan Jurnalis Argentina
