
Ilustrasi orang cemburu sedang diyakinkan pasangannya. (Freepik)
JawaPos.com – Perasaan cemburu sering kali dilihat sebagai momok menakutkan yang selalu dipermasalahkan dalam sebuah hubungan. Karena perasaan ini akan menimbulkan rasa insecure dan ketidakpercayaan.
Kecemburuan ini biasanya timbul ketika seseorang merasa overthinking bahwa pasangannya memiliki keterlibatan secara fisik atau pun emosional dengan orang lain.
Dilansir dari paired, perasaan cemburu yang sering kali dianggap sebagai suatu hal yang negatif, sebenarnya adalah hal wajar dan normal. Bahkan jika rasa cemburu itu ada dan terjadi pada hubungan yang sehat.
Cara membedakan antara cemburu sehat dan tidak sehat sangatlah mudah apabila dapat memahami apa yang Anda rasakan dengan baik.
Cemburu adalah respons emosional yang wajar terhadap situasi yang terjadi. Beda antara sehat dan tidaknya terletak pada cara meresponsnya.
Jika perasaan cemburu ada dalam dosis dan takaran yang tepat, ini akan memengaruhi hubungan secara positif dan dapat membangun ikatan emosional yang lebih kuat.
Adapun bentuk dari kecemburuan yang sehat adalah rasa cemburu yang muncul ketika salah satu pasangan meraih goals atau hal-hal positif dalam hidupnya.
Perlu diketahui, bahwa rasa cemburu dalam hubungan tidak hanya tentang hal-hal romantis saja.
Ketika kecemburuan ini dapat menginspirasi dan memotivasi pasangan lain untuk melakukan hal yang sama atau lebih dari itu sehingga menjadi diri mereka yang lebih baik, maka ini termasuk kecemburuan yang sehat.
Cemburu dalam konteks romantis sekalipun, lebih baik diungkapkan dengan cara yang dewasa. Dewasa yang dimaksud di sini adalah dengan komunikasi dua arah, tanpa saling menyalahkan dan mengontrol.
Sedangkan kecemburuan yang tidak sehat adalah perasaan cemburu yang ditunjukkan dengan emosi yang menggebu-gebu, serta tuduhan tak berdasar yang kemungkinan bisa menyebabkan keretakan hingga berakhirnya hubungan.
Hal ini biasanya berawal dari kurangnya ruang keterbukaan dan kepercayaan dalam hubungan, selain itu hubungan dipenuhi dengan prasangka dan asumsi negatif.
Selain itu sikap posesif yang berlebihan akan membuat pasangan merasa tidak memiliki ruang gerak, baik dalam melakukan aktivitasnya sehari-hari atau dalam berekspresi. Di sini letak antara sayang dan posesif yang beda tipis.
Maka dari itu, sebelum merespon rasa cemburu yang ada dalam diri, baiknya kelola perasaan-perasaan yang menjadi penyebab rasa cemburu tersebut dengan benar. Apa yang memicunya? Apakah ada tujuan dan manfaatnya?
Lalu komunikasikan secara jujur dan terbuka dengan pasangan Anda, hindari sikap desensif maupun agresif. (*)

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
Terdepak dari Puncak Klasemen Liga Inggris, Bayang-bayang Kegagalan Juara di Akhir Musim kembali Menghantui Arsenal
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Profil Agnes Aditya Rahajeng, Pemenang Puteri Indonesia 2026
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
