Ilustrasi orang bermalas-malasan.
JawaPos.com – Hampir semua orang pernah merasa malas. Entah itu menunda pekerjaan, enggan berolahraga, atau sekadar menunda tugas kecil sehari-hari.
Namun, benarkah rasa malas semata-mata tanda kurangnya kedisiplinan? Menurut psikologi modern, kemalasan tidak sesederhana itu.
Ia berakar pada proses biologis, kognitif, hingga emosional yang bekerja di dalam otak manusia.
Apa Itu Malas Menurut Psikologi?
Psikology Today (2014) menulis bahwa rasa malas sering kali merupakan bentuk avoidance behavior, yaitu upaya otak untuk menghindari aktivitas yang dianggap tidak menyenangkan, menegangkan, atau kurang memberikan imbalan instan. Dengan kata lain, bukan berarti seseorang tidak mampu bekerja keras, melainkan otaknya sedang memprioritaskan kenyamanan jangka pendek dibanding tujuan jangka panjang.
Studi dalam International Journal of Applied Social Science (2021) menambahkan, malas dapat muncul karena adanya konflik internal: antara keinginan mencapai sesuatu dengan rasa takut gagal atau merasa kewalahan. Ketidakseimbangan inilah yang sering membuat seseorang memilih diam, menunda, atau mencari distraksi lain.
Bagaimana Otak Memicu Rasa Malas?
Ilmu saraf menjelaskan bahwa rasa malas erat kaitannya dengan sistem dopamin, neurotransmiter yang berfungsi mengatur motivasi dan penghargaan. ScienceDaily (2018) mempublikasikan penelitian bahwa individu dengan aktivitas dopamin rendah di area korteks prefrontal cenderung kesulitan mengambil inisiatif. Sebaliknya, otak lebih memilih aktivitas ringan yang tidak menuntut energi besar.
Sementara itu, Psychological Science (2017) menyoroti kaitan antara malas dengan prokrastinasi. Otak manusia cenderung menilai beban kerja secara emosional, bukan rasional. Maka, saat sebuah tugas dianggap berat, otak memberi sinyal “tunda dulu” demi mengurangi ketidaknyamanan.
Mengapa Malas Bisa Menjadi Kebiasaan?
Menurut Infiheal Psychology Blog (2023), rasa malas bisa terbentuk menjadi kebiasaan karena adanya pola reward system. Ketika seseorang menunda pekerjaan, ia merasakan kelegaan sementara. Rasa lega ini direkam otak sebagai pengalaman positif, sehingga kebiasaan malas semakin sulit dihentikan.
Hal serupa ditegaskan oleh Insights Psychology yang menyebut prokrastinasi sering berulang karena adanya “loop kebiasaan”: pemicu, rutinitas, dan hadiah kecil yang dirasakan otak. Jika pola ini tidak diinterupsi, rasa malas bisa berkembang menjadi hambatan serius dalam produktivitas.

10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
Kemendiktisaintek Ubah Nama Prodi Teknik jadi Rekayasa, ini Daftarnya
12 Rekomendasi Mall Terbaik di Tangerang 2026: Destinasi Belanja, Kuliner & Lifestyle Favorit
Update Klasemen Usai MotoGP Catalunya 2026: Jorge Martin Gigit Jari, Bezzecchi Masih Tak Tersentuh
Jadwal Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Siap Jaga Konsistensi di Barcelona
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
Sekjen Laskar Merah Putih Minta Presiden Perhatikan Para Jaksa: Mereka Belum Dapat Apresiasi yang Proporsional
Jadwal dan Link Live Streaming Moto3 Catalunya 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama Start P20
