Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 14 Maret 2026 | 05.29 WIB

Seolah Tidak Punya Tujuan Hidup, Ini 7 Kebiasaan Malam Orang yang Sering Merasa Gelisah dalam Hidupnya

Seseorang yang sedang melamun dengan ekspresi sedih, mencerminkan perasaan duka atas harapan yang tidak terwujud./Freepik - Image

Seseorang yang sedang melamun dengan ekspresi sedih, mencerminkan perasaan duka atas harapan yang tidak terwujud./Freepik

JawaPos.com - Setiap orang memiliki rutinitas malam yang berbeda-beda. Ritual kecil yang menandakan berakhirnya hari dan dimulainya waktu istirahat. Namun, kebiasaan kecil ini dapat menunjukkan kondisi pikiran Anda saat itu.

Bagi sebagian orang, rutinitas malam hari adalah teriakan minta tolong, tanda bahwa mereka sedang berjuang melawan rasa putus asa atau kehilangan harapan. Mereka adalah orang-orang yang hidup setiap malam dengan perasaan tidak punya tujuan hidup.

Dilansir dari Geediting, inilah tujuh kebiasaan malam hari yang umumnya dilakukan oleh orang yang diam-diam merasa tidak punya tujuan hidup. Memahami perilaku ini dapat membantu kita mengulurkan kebaikan dan kasih sayang pada mereka yang membutuhkannya.

1. Isolasi diri

Sudah menjadi fakta umum bahwa manusia adalah makhluk sosial. Kita hidup dengan koneksi dan interaksi. Namun, bagi mereka yang merasa tidak punya tujuan hidup, hal ini tidak selalu terjadi.

Orang-orang ini sering kali menarik diri, lebih suka menyendiri daripada menghabiskan waktu bersama teman atau keluarga. Mereka mungkin menolak undangan, atau mereka mungkin tidak memulai kontak sosial apa pun.

Mengisolasi diri dapat menjadi mekanisme penanggulangan bagi orang yang menghadapi perasaan putus asa. Ini adalah cara untuk melindungi diri dari rasa sakit emosional atau kekecewaan lebih lanjut.

Di sisi lain, itu bisa menjadi tanda depresi, kondisi umum di antara orang-orang yang merasa hidup telah kehilangan makna.

2. Pola tidur yang tidak sehat

Tidur adalah tantangan. Mereka akan terjaga selama berjam-jam, keheningan malam menggemakan gejolak batinnya. Ketika akhirnya tidur datang, itu lebih merupakan pelarian daripada pengalaman yang menenangkan.

Seiring berjalannya waktu, kebiasaan ini menjadi lingkaran setan yang makin memperparah perasaan putus asa. Pola tidur yang tidak sehat, seperti tidur berlebihan atau insomnia, sering terlihat pada mereka yang merasa tidak punya tujuan hidup. Tidur menjadi pelarian, sebuah cara untuk menghindari kenyataan.

3. Kelalaian terhadap kebersihan pribadi

Ketika hidup terasa tak berarti, bahkan tugas yang paling sederhana pun bisa terasa memberatkan. Ini termasuk perawatan pribadi yang mendasar. Bagi sebagian orang, mandi, menggosok gigi, atau berganti pakaian menjadi pekerjaan yang terlalu berat untuk dilakukan.

Penampilan mereka mungkin mulai berubah akibat kelalaian ini. Mungkin tampak aneh bagi mereka yang menemukan penghiburan dalam perawatan rutin. Namun, pertimbangkan ini: otak orang yang putus asa berfungsi secara berbeda.

Penelitian menunjukkan bahwa depresi dan keputusasaan dapat mengurangi motivasi dan tingkat energi secara signifikan, membuat tugas-tugas biasa terasa seperti mendaki Gunung Everest.

4. Mengonsumsi makanan yang menenangkan terlalu banyak

Banyak dari kita yang merasa bersalah karena meraih satu wadah es krim atau sekantong keripik saat kita sedang merasa sedih. Namun, bagi sebagian orang, perilaku ini menjadi lebih dari sekadar pemanjaan sesekali.

Mereka yang merasa tidak punya tujuan hidup sering kali mencari makanan yang menenangkan sebagai cara untuk menenangkan diri. Makanan ini merupakan pelarian sementara dari kekosongan dan rasa sakit yang mereka rasakan.

Masalahnya, kebiasaan ini sering kali menyebabkan siklus makan berlebihan yang diikuti rasa bersalah, yang hanya menambah beban emosional mereka.

5. Kehilangan minat pada hobi

Kehilangan minat pada hobi atau aktivitas yang sebelumnya menyenangkan merupakan tanda umum di antara mereka yang merasa tidak punya tujuan hidup. Rasanya seperti warna kehidupan telah terkuras habis, membuat semuanya menjadi membosankan dan monoton.

Jika Anda atau seseorang yang dekat dengan Anda mengalami hal ini, penting untuk mencari bantuan. Ingat, tidak apa-apa untuk meminta bantuan dan dukungan. Anda tidak sendirian.

6. Menggunakan alkohol atau obat-obatan secara berlebihan

Beralih ke zat-zat sebagai cara untuk menghilangkan rasa sakit emosional adalah kebiasaan malam hari lainnya yang terlihat pada individu yang merasa tidak punya tujuan hidup. Hal ini dapat berkisar dari minum berlebihan hingga penyalahgunaan obat resep atau obat terlarang.

Zat-zat ini mungkin memberikan kelegaan sementara dari perasaan putus asa, tetapi hanya memperburuk masalah dalam jangka panjang. Mereka dapat mengakibatkan kecanduan, isolasi lebih lanjut, dan sejumlah masalah kesehatan fisik dan mental lainnya.

7. Sikap negatif yang terus menerus

Kebiasaan terpenting yang harus diwaspadai adalah sikap negatif yang terus-menerus. Ini terjadi ketika seseorang secara konsisten memandang kehidupan dan dunia di sekitarnya secara negatif.

Mereka mungkin mengungkapkan perasaan tidak berharga, putus asa, dan keyakinan bahwa segala sesuatunya tidak akan pernah membaik. Negativitas ini bukan sekadar pesimisme atau suasana hati yang buruk. Ini adalah gejala perjuangan yang lebih dalam, gema dari rasa sakit batin.

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore