
Perilaku orang dengan kepribadian mementingkan diri sendiri menurut psikologi./Freepik.
JawaPos.com - Beberapa orang sungguh-sungguh percaya bahwa mereka adalah pusat alam semesta. Mereka adalah orang-orang yang mementingkan diri sendiri dan tampaknya berpikir dunia berputar di sekitar mereka.
Orang-orang ini ada di mana-mana. Mereka bisa menjadi rekan kerja, kenalan, atau bahkan orang yang dekat dengan Anda. Perilaku ini dapat menguras tenaga, menyebabkan gesekan dalam hubungan dan secara umum dapat membuat kehidupan lebih menantang bagi orang-orang di sekitarnya.
Ini mungkin membantu Anda menavigasi pengalaman sosial Anda dengan lebih efektif, baik di rumah, di tempat kerja, atau bahkan saat berinteraksi dengan orang-orang dari berbagai penjuru dunia.
Dilansir dari Geediting, inilah tujuh perilaku berbeda dari orang-orang yang meyakini dunia berputar hanya untuk mereka.
Baca Juga: 7 Perilaku Orang yang Membutuhkan Waktu Sendiri Usai Bersosialisasi dengan Banyak Orang, Apa Saja?
1. Memonopoli percakapan
Orang-orang seperti ini cenderung mendominasi diskusi, dan sering kali mengarahkan topik kembali ke diri mereka sendiri. Mereka senang membicarakan pengalaman, pendapat, dan pencapaian mereka, dan biasanya tanpa menunjukkan minat terhadap apa yang dikatakan orang lain.
Namun, di sinilah letak kesulitannya. Perilaku ini tidak selalu langsung terlihat. Anda mungkin awalnya menganggap mereka sebagai orang yang supel atau bersemangat dengan minat mereka.
Namun, seiring berjalannya waktu, polanya menjadi lebih jelas, pembicaraan selalu kembali kepada mereka. Percakapan yang seimbang bagaikan tarian yang bagus, keduanya saling memberi dan menerima.
Namun, jika Anda terus-menerus menjadi orang kedua dalam percakapan, Anda mungkin berhadapan dengan seseorang yang menganggap dunia berputar di sekelilingnya.
2. Kurang memiliki empati
Alih-alih menunjukkan perhatian atau menawarkan dukungan, orang-orang ini menganggap kesulitan orang lain tidak penting dan mulai mengeluhkan masalah-masalah kecil yang dialaminya, seperti kopi kesukaannya yang habis di kedai kopi favoritnya.
Mereka biasanya kurang memiliki empati, yaitu sifat yang umum di antara individu yang mementingkan diri sendiri. Mereka berjuang untuk menempatkan dirinya pada posisi orang lain atau menawarkan bentuk dukungan emosional apa pun.
Fokus mereka tetap pada kebutuhan dan masalah mereka sendiri, tanpa memperdulikan beratnya situasi orang lain. Ketiadaan empati dalam sebuah hubungan sebagai tanda yang jelas dari kepribadian yang mementingkan diri sendiri.
3. Jarang mengakui keberhasilan orang lain
Orang yang terlalu mementingkan diri sendiri sulit mengakui keberhasilan orang lain. Mereka meremehkannya, mengalihkan pokok bahasan, atau lebih buruk lagi, mencoba membesar-besarkannya dengan pencapaian mereka sendiri.
Perilaku ini, meskipun halus, adalah tanda yang jelas akan sifat mementingkan diri sendiri. Itu mengajarkan bahwa mereka yang berpikir dunia berputar di sekitar mereka sering kali kesulitan untuk benar-benar merayakan kemenangan orang lain.
Ingatlah, masing-masing dari kita memiliki jalan sendiri menuju kesuksesan. Mengakui dan merayakan pencapaian orang lain tidak akan mengurangi pencapaian kita sendiri. Sebaliknya, hal itu akan menumbuhkan lingkungan yang mendukung di mana setiap orang tumbuh bersama.
4. Terus-menerus mencari validasi
Anda mungkin pernah bertemu seseorang yang terus-menerus mencari validasi. Baik itu mengenai penampilan, kecerdasan, atau prestasi mereka, mereka butuh kepastian terus-menerus.
Seolah-olah harga diri mereka terikat pada persetujuan orang lain, dan mereka selalu mencari pujian. Kebutuhan mereka yang terus-menerus akan validasi sebenarnya merupakan tanda keegoisan dirinya.
Mereka begitu berfokus pada dirinya sendiri sehingga membutuhkan orang lain untuk terus-menerus menegaskan harga dirinya. Lain kali Anda menjumpai seseorang yang terus-menerus mencari validasi, luangkan waktu untuk merenung.
Ini bisa jadi pertanda bahwa orang ini berpikir dunia berputar di sekelilingnya. Memahami hal ini dapat membantu Anda mengarahkan hubungan dengan mereka dengan lebih baik.
5. Tidak menghormati batasan
Inilah sesuatu yang mungkin tidak Anda ketahui. Menghormati batasan tidak hanya tentang ruang fisik, tetapi juga berlaku untuk waktu, kapasitas emosional, dan keputusan pribadi.
Namun, orang-orang yang mementingkan diri sendiri sering kali kesulitan dengan konsep ini. Penelitian dari University of California, Berkeley, mengungkapkan bahwa orang yang mengabaikan batasan orang lain biasanya menunjukkan perilaku narsis dan mementingkan diri sendiri yang lebih tinggi.
Ketidakpeduliannya yang mencolok terhadap ruang pribadi dan keputusan Anda adalah tanda yang jelas dari sikapnya yang mementingkan diri sendiri. Lain kali jika seseorang terus-menerus melanggar batasan Anda, ingatlah itu bisa jadi lebih dari sekadar kebiasaan yang menyebalkan.
Itu mungkin pertanda bahwa orang tersebut berpikir dunia berputar di sekelilingnya.
6. Kesulitan dengan koneksi yang asli
Mari kita bicara tentang hubungan antarmanusia sejenak. Mereka adalah perekat yang menyatukan kita, menghadirkan kehangatan, kegembiraan, dan makna dalam hidup kita.
Namun, bagi orang-orang yang mementingkan diri sendiri, membentuk hubungan yang tulus ini bisa jadi merupakan suatu perjuangan. Bukan berarti dia tidak ingin terhubung, dia hanya tidak tahu caranya.
Dia begitu asyik dengan dunianya sendiri sehingga dia sering tidak menyadari isyarat emosional dan kebutuhan orang lain. Mementingkan diri sendiri tidak selalu merupakan pilihan. Terkadang, itu adalah mekanisme penanganan atau perilaku yang dipelajari.
Memahami hal ini dapat membuat Anda lebih sabar dan berempati terhadap individu yang mementingkan diri sendiri.
Perilaku mereka kadang-kadang bisa menantang, tetapi mengingat bahwa mereka juga sedang menghadapi perjuangan mereka sendiri dapat membantu kita mendekati mereka dengan lebih banyak kebaikan dan pengertian.
7. Memiliki rasa berhak yang kuat
Jika ada satu hal yang menonjol pada orang yang mementingkan diri sendiri, itu adalah rasa berhak yang kuat. Mereka percaya bahwa mereka pantas mendapatkan lebih dari orang lain, bahkan ketika itu tidak beralasan.
Mereka selalu mengharapkan yang terbaik seperti tempat duduk terbaik saat makan malam keluarga, hadiah terbaik di hari ulang tahunnya, hak pertama untuk segala hal. Rasa berhak yang kuat ini adalah perilaku khas orang-orang yang mengira dunia berputar di sekitar mereka.
Perilaku ini tidak hanya membantu kita memahami mereka lebih baik tetapi juga membimbing kita dalam menetapkan batasan yang sehat dan mengelola harapan kita saat berinteraksi dengan mereka.
