Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 28 Maret 2026 | 14.22 WIB

Pria yang Berhenti Membicarakan Masa Depan karena Tidak Bisa Berdamai dengan Masa Kini dan Masa Lalu, Biasanya Menumbuhkan 7 Kepribadian Inil Menurut Psikologi

seseorang yang berhenti membicarakan masa depan / freepik - Image

seseorang yang berhenti membicarakan masa depan / freepik

JawaPos.com - Tidak semua orang yang diam tentang masa depan berarti tidak punya rencana. Pada sebagian pria, keengganan membicarakan masa depan justru bisa menjadi sinyal adanya konflik batin yang belum selesai—baik dengan masa lalu maupun kondisi hidup saat ini.

Dalam psikologi, ketidakmampuan berdamai dengan pengalaman hidup sering kali membentuk pola kepribadian tertentu. Ini bukan berarti “rusak” atau “gagal”, melainkan hasil dari mekanisme bertahan yang berkembang seiring waktu.

Dilansir dari Silicon Canals pada Selasa (24/3), terdapat tujuh kepribadian yang sering muncul pada pria yang berhenti membicarakan masa depan karena masih terjebak dalam masa lalu dan masa kini:

1. Cenderung Menghindar (Avoidant Personality Tendencies)

Pria seperti ini biasanya menghindari pembicaraan yang terasa “berat”, termasuk masa depan. Bukan karena tidak peduli, tetapi karena topik tersebut memicu kecemasan atau ketakutan akan kegagalan.

Membicarakan masa depan berarti menghadapi kemungkinan—dan bagi mereka, kemungkinan itu terasa mengancam. Maka, diam menjadi cara paling aman.

2. Terjebak dalam Penyesalan

Masa lalu yang belum selesai sering berubah menjadi penyesalan yang berulang. Mereka mungkin terus memikirkan keputusan yang salah, hubungan yang gagal, atau peluang yang terlewat.

Akibatnya, energi mental habis untuk “andai dulu…” sehingga sulit untuk berkata “nanti saya akan…”.

3. Kehilangan Rasa Kontrol

Secara psikologis, manusia butuh merasa memiliki kendali atas hidupnya. Ketika seseorang mengalami terlalu banyak kegagalan atau situasi yang tidak bisa ia kendalikan, ia bisa kehilangan keyakinan bahwa masa depan bisa diatur.

Hasilnya: lebih baik tidak membicarakan masa depan daripada merasa tidak berdaya lagi.

4. Emosional yang Tertahan

Pria sering diajarkan untuk menahan emosi. Ketika pengalaman masa lalu menyakitkan tidak pernah benar-benar diproses, emosi itu tidak hilang—hanya terkunci.

Kepribadian ini tampak “dingin” atau “cuek”, padahal di dalamnya ada konflik emosional yang belum selesai. Membicarakan masa depan bisa membuka luka lama, jadi mereka memilih menghindar.

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore