Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 29 Maret 2026 | 05.32 WIB

Jika Anda Merasa Bersalah Saat Hal-Hal Baik Terjadi, Psikologi Mengatakan Anda Mungkin Pernah Mengalami 7 Hal Ini Sebelum Usia 10 Tahun

seseorang yang merasa bersalah saat hal baik datang./Sumber foto: Freepik/primagefactory - Image

seseorang yang merasa bersalah saat hal baik datang./Sumber foto: Freepik/primagefactory

JawaPos.com - Tidak semua orang merasa nyaman ketika hidup berjalan baik. Bagi sebagian orang, kebahagiaan justru terasa aneh, tidak pantas, bahkan menimbulkan rasa bersalah. Mungkin Anda pernah berpikir, “Kenapa saya yang dapat ini?” atau “Saya tidak pantas bahagia.”

Jika perasaan ini sering muncul, psikologi menunjukkan bahwa akar masalahnya sering kali berasal dari pengalaman masa kecil—terutama sebelum usia 10 tahun, ketika fondasi emosi dan kepercayaan diri sedang terbentuk.

Dilansir dari Expert Editor pada Sabtu (28/3), terdapat tujuh pengalaman yang mungkin pernah Anda alami, yang tanpa sadar membentuk perasaan bersalah saat menerima hal baik.

1. Sering Disalahkan atas Hal yang Bukan Tanggung Jawab Anda

Anak kecil belum mampu memahami kompleksitas situasi. Jika sejak kecil Anda sering disalahkan—bahkan untuk hal yang bukan kesalahan Anda—otak Anda belajar satu hal: “Apa pun yang terjadi, itu salah saya.”

Akibatnya, saat sesuatu yang baik terjadi, muncul konflik batin. Anda merasa tidak layak karena secara tidak sadar Anda terbiasa mengasosiasikan diri dengan kesalahan, bukan keberhasilan.

2. Cinta yang Bersyarat

Jika kasih sayang yang Anda terima bergantung pada prestasi, kepatuhan, atau “perilaku baik”, maka Anda belajar bahwa cinta harus “dibayar”.

Sebagai orang dewasa, ini bisa berubah menjadi keyakinan bahwa Anda harus melakukan sesuatu dulu untuk pantas mendapatkan hal baik. Jadi ketika sesuatu datang tanpa syarat, Anda merasa tidak nyaman—bahkan bersalah.

3. Dibandingkan dengan Anak Lain

Kalimat seperti “Kenapa kamu tidak seperti dia?” mungkin terdengar sepele, tapi dampaknya besar. Perbandingan membuat Anda merasa “kurang” sejak dini.

Akibatnya, ketika Anda berhasil atau mendapatkan sesuatu yang baik, bagian dalam diri Anda masih merasa belum cukup. Rasa bersalah muncul karena Anda merasa “menipu” dunia—seolah Anda tidak benar-benar pantas.

4. Mengalami Penolakan Emosional

Jika emosi Anda sering diabaikan—misalnya saat Anda sedih tapi dianggap “lebay” atau “cengeng”—Anda belajar bahwa perasaan Anda tidak valid.

Ini bisa berkembang menjadi pola di mana Anda tidak memberi izin pada diri sendiri untuk merasa senang. Bahkan kebahagiaan pun terasa “tidak boleh”, sehingga muncul rasa bersalah ketika Anda merasakannya.

5. Tumbuh dalam Lingkungan yang Tidak Stabil

Lingkungan yang penuh konflik, ketidakpastian, atau ketegangan membuat otak anak selalu dalam mode “waspada”.

Ketika dewasa dan hidup mulai terasa tenang atau menyenangkan, otak Anda menganggap itu sebagai sesuatu yang “tidak normal”. Rasa bersalah muncul sebagai mekanisme bawah sadar: seolah Anda tidak boleh terlalu nyaman karena sesuatu buruk bisa terjadi kapan saja.

6. Dipaksa Menjadi “Anak Dewasa” (Parentification)

Jika sejak kecil Anda harus mengurus orang lain—orang tua, adik, atau keluarga—Anda belajar bahwa kebutuhan orang lain lebih penting daripada kebutuhan Anda sendiri.

Sebagai orang dewasa, menerima hal baik untuk diri sendiri bisa terasa egois. Anda mungkin berpikir, “Saya seharusnya memberi, bukan menerima.” Di sinilah rasa bersalah itu muncul.

7. Jarang Dipuji atau Diakui

Anak-anak membutuhkan validasi untuk membangun harga diri. Jika Anda jarang dipuji atau diakui, Anda tumbuh tanpa referensi internal tentang nilai diri.

Akibatnya, saat Anda mendapatkan sesuatu yang baik—pujian, kesempatan, atau kebahagiaan—Anda tidak tahu bagaimana menerimanya. Rasa bersalah muncul karena itu terasa asing, bahkan “tidak cocok” dengan citra diri Anda.

Kenapa Rasa Bersalah Ini Terasa Begitu Nyata?

Semua pengalaman di atas membentuk apa yang disebut sebagai core beliefs—keyakinan mendasar tentang diri sendiri dan dunia. Masalahnya, keyakinan ini terbentuk saat Anda masih kecil, tapi tetap aktif hingga dewasa.

Jadi ketika Anda merasa bersalah saat bahagia, itu bukan karena Anda lemah atau aneh. Itu karena otak Anda sedang menjalankan “program lama” yang dulu membantu Anda bertahan.

Bagaimana Cara Mulai Mengubahnya?

Perubahan tidak terjadi instan, tapi bisa dimulai dari langkah kecil:

Sadari pola tersebut
Perhatikan kapan rasa bersalah muncul dan apa pemicunya.
Tantang pikiran lama
Tanyakan: “Apakah ini benar, atau hanya kebiasaan lama?”
Latih menerima hal baik
Mulai dari hal kecil—ucapkan “terima kasih” tanpa menyanggah pujian.
Bangun self-compassion
Perlakukan diri Anda seperti Anda memperlakukan orang yang Anda sayangi.

Penutup

Merasa bersalah saat hal baik terjadi bukan berarti Anda tidak bersyukur. Justru itu tanda bahwa ada bagian dari diri Anda yang masih terluka dan belum merasa aman untuk bahagia.

Kabar baiknya: pola ini bisa dipelajari, dan karena itu juga bisa diubah.

Anda berhak merasa bahagia tanpa rasa bersalah. Dan perjalanan menuju itu dimulai dari memahami diri sendiri—seperti yang sedang Anda lakukan sekarang
Editor: Hanny Suwindari
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore