
seseorang yang lebih efisien./Freepik/Halinskyi Maksym
JawaPOs.com - Dalam budaya modern, “produktif” sering dianggap sebagai ukuran utama kesuksesan. Bangun pagi, kerja tanpa henti, jadwal padat—semua itu dipuja. Sebaliknya, “malas” sering dipandang sebagai kelemahan.
Namun, psikologi melihat hal ini dengan cara yang lebih kompleks. Tidak semua bentuk “kemalasan” itu buruk. Dalam banyak kasus, apa yang kita sebut sebagai malas sebenarnya adalah bentuk efisiensi kognitif—cara otak menghemat energi dan menghindari kerja yang tidak perlu.
Dilansir dari Expert Editor pada Senin (6/4),, beberapa kebiasaan orang yang terlihat malas justru membuat mereka lebih efektif dibandingkan orang yang terlalu sibuk terlihat produktif.
Berikut 8 di antaranya:
1. Mereka Selalu Mencari Cara Termudah
Orang yang dianggap malas cenderung bertanya:
“Kenapa harus ribet kalau bisa simpel?”
Alih-alih langsung mengerjakan sesuatu dengan cara panjang, mereka akan mencari shortcut, tools, atau metode yang lebih cepat.
Secara psikologis:
Otak manusia memang dirancang untuk hemat energi. Ini disebut cognitive efficiency. Orang yang memanfaatkannya dengan baik akan:
Mengurangi kerja berulang
Menghindari pemborosan waktu
Fokus pada hasil, bukan proses yang bertele-tele
Hasilnya: pekerjaan selesai lebih cepat dengan usaha lebih sedikit.
2. Mereka Menghindari Pekerjaan yang Tidak Perlu
Orang “produktif” sering jatuh ke dalam jebakan busy work—sibuk tapi tidak berdampak.
Sebaliknya, orang yang terlihat malas akan berpikir:
“Ini penting nggak sih?”
Jika tidak penting, mereka tidak akan melakukannya.
Secara psikologis:
Ini berkaitan dengan prioritization bias dan kemampuan membedakan antara:
Aktivitas penting
Aktivitas hanya terlihat penting
Hasilnya: energi hanya dipakai untuk hal yang benar-benar berdampak.
3. Mereka Menunda—Tapi dengan Strategi
Prokrastinasi sering dianggap negatif. Tapi tidak selalu.
Orang “malas” sering menunda pekerjaan, bukan karena tidak peduli, tapi karena:
Menunggu waktu terbaik
Mengumpulkan informasi
Menghindari kerja yang mungkin ternyata tidak perlu
Secara psikologis:
Ini disebut active procrastination, yaitu menunda secara sadar untuk hasil yang lebih baik.
Hasilnya:
Keputusan lebih matang
Pekerjaan lebih tepat sasaran
Menghindari kerja sia-sia
4. Mereka Tidak Suka Mengulang Hal yang Sama
Orang malas sangat tidak suka melakukan pekerjaan berulang.
Karena itu, mereka cenderung:
Mengotomatisasi tugas
Membuat sistem
Menggunakan template
Secara psikologis:
Ini terkait dengan behavioral optimization—usaha untuk mengurangi beban kerja jangka panjang.
Hasilnya:
Sekali kerja, bisa dipakai berkali-kali.
5. Mereka Berpikir Sebelum Bertindak
Orang yang terlalu “produktif” sering langsung bertindak tanpa berpikir panjang.
Sebaliknya, orang malas cenderung:
Berhenti dulu
Memikirkan strategi
Menghindari kesalahan di awal
Secara psikologis:
Ini berkaitan dengan cognitive reflection—kemampuan menahan impuls untuk berpikir lebih dalam.
Hasilnya:
Lebih sedikit kesalahan → lebih sedikit kerja ulang.
6. Mereka Tahu Kapan Harus Berhenti
Orang yang terlalu produktif sering sulit berhenti, bahkan saat lelah.
Orang “malas” lebih peka terhadap batas energi mereka:
Istirahat saat perlu
Tidak memaksakan diri
Secara psikologis:
Ini terkait dengan self-regulation dan energy management.
Hasilnya:
Tidak cepat burnout
Kinerja lebih stabil dalam jangka panjang
7. Mereka Fokus pada Hasil, Bukan Tampilan Sibuk
Orang produktif sering ingin terlihat sibuk:
Banyak meeting
Banyak tugas
Jadwal penuh
Orang malas justru sebaliknya:
“Yang penting selesai.”
Secara psikologis:
Ini berhubungan dengan outcome-oriented thinking dibanding activity-oriented thinking.
Hasilnya:
Lebih efisien
Tidak terjebak ilusi produktivitas
8. Mereka Tidak Takut Dibilang “Malas”
Orang yang terlalu peduli penilaian sosial sering:
Memaksakan diri terlihat sibuk
Mengambil terlalu banyak pekerjaan
Orang “malas” cenderung tidak peduli label itu.
Secara psikologis:
Ini terkait dengan rendahnya social approval dependency.
Hasilnya:
Lebih bebas memilih prioritas
Tidak membuang energi untuk pencitraan
Kesimpulan
“Malas” tidak selalu berarti buruk. Dalam banyak kasus, itu adalah bentuk:
Efisiensi alami
Strategi hemat energi
Cara otak menghindari kerja yang tidak perlu
Perbedaannya terletak pada jenis kemalasannya:
Malas pasif → menghindari semua tanggung jawab
Malas cerdas → menghindari hal yang tidak penting
Orang yang benar-benar efektif bukanlah yang paling sibuk, tapi yang:
Tahu apa yang penting
Menghindari yang tidak perlu
Menggunakan energi dengan bijak
Jadi, mungkin masalahnya bukan “kamu malas”…

14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
Jika Persija Jakarta Gagal Juara, The Jakmania Punya Kesempatan Melihat Bobotoh Menangis
Tak Peduli Larangan ke Jepara, The Jakmania Sebut Kebiasaan atau Takut Main di Jakarta saat Persija Jamu Persib
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Persebaya Surabaya Rayakan Kembalinya Bruno Moreira, Bonek Kompak Satu Suara
Pesan Haru Milos Raickovic ke Bonek! Gelandang Persebaya Surabaya Sudah Berikan Segalanya Musim Ini
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Korban Dicekoki Miras Hingga Tak Sadar, Pelaku Pemerkosaan Cipondoh Masih Dicari
Link Live Streaming Semifinal Uber Cup 2026 Indonesia vs Korea Selatan dan Line-up Pertandingan
