Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 8 April 2026 | 01.02 WIB

8 Hal yang Dilakukan Orang 'Malas' yang Diam-Diam Membuat Mereka Lebih Efisien Menurut Psikologi

seseorang yang lebih efisien./Freepik/Halinskyi Maksym - Image

seseorang yang lebih efisien./Freepik/Halinskyi Maksym

JawaPOs.com - Dalam budaya modern, “produktif” sering dianggap sebagai ukuran utama kesuksesan. Bangun pagi, kerja tanpa henti, jadwal padat—semua itu dipuja. Sebaliknya, “malas” sering dipandang sebagai kelemahan.

Namun, psikologi melihat hal ini dengan cara yang lebih kompleks. Tidak semua bentuk “kemalasan” itu buruk. Dalam banyak kasus, apa yang kita sebut sebagai malas sebenarnya adalah bentuk efisiensi kognitif—cara otak menghemat energi dan menghindari kerja yang tidak perlu.

Dilansir dari Expert Editor pada Senin (6/4),, beberapa kebiasaan orang yang terlihat malas justru membuat mereka lebih efektif dibandingkan orang yang terlalu sibuk terlihat produktif.

Berikut 8 di antaranya:

1. Mereka Selalu Mencari Cara Termudah

Orang yang dianggap malas cenderung bertanya:
“Kenapa harus ribet kalau bisa simpel?”

Alih-alih langsung mengerjakan sesuatu dengan cara panjang, mereka akan mencari shortcut, tools, atau metode yang lebih cepat.

Secara psikologis:
Otak manusia memang dirancang untuk hemat energi. Ini disebut cognitive efficiency. Orang yang memanfaatkannya dengan baik akan:

Mengurangi kerja berulang
Menghindari pemborosan waktu
Fokus pada hasil, bukan proses yang bertele-tele

Hasilnya: pekerjaan selesai lebih cepat dengan usaha lebih sedikit.

2. Mereka Menghindari Pekerjaan yang Tidak Perlu

Orang “produktif” sering jatuh ke dalam jebakan busy work—sibuk tapi tidak berdampak.

Sebaliknya, orang yang terlihat malas akan berpikir:
“Ini penting nggak sih?”

Jika tidak penting, mereka tidak akan melakukannya.

Secara psikologis:
Ini berkaitan dengan prioritization bias dan kemampuan membedakan antara:

Aktivitas penting
Aktivitas hanya terlihat penting

Hasilnya: energi hanya dipakai untuk hal yang benar-benar berdampak.

3. Mereka Menunda—Tapi dengan Strategi

Prokrastinasi sering dianggap negatif. Tapi tidak selalu.

Orang “malas” sering menunda pekerjaan, bukan karena tidak peduli, tapi karena:

Menunggu waktu terbaik
Mengumpulkan informasi
Menghindari kerja yang mungkin ternyata tidak perlu

Secara psikologis:
Ini disebut active procrastination, yaitu menunda secara sadar untuk hasil yang lebih baik.

Hasilnya:

Keputusan lebih matang
Pekerjaan lebih tepat sasaran
Menghindari kerja sia-sia

4. Mereka Tidak Suka Mengulang Hal yang Sama

Orang malas sangat tidak suka melakukan pekerjaan berulang.

Karena itu, mereka cenderung:

Mengotomatisasi tugas
Membuat sistem
Menggunakan template

Secara psikologis:
Ini terkait dengan behavioral optimization—usaha untuk mengurangi beban kerja jangka panjang.

Hasilnya:
Sekali kerja, bisa dipakai berkali-kali.

5. Mereka Berpikir Sebelum Bertindak

Orang yang terlalu “produktif” sering langsung bertindak tanpa berpikir panjang.

Sebaliknya, orang malas cenderung:

Berhenti dulu
Memikirkan strategi
Menghindari kesalahan di awal

Secara psikologis:
Ini berkaitan dengan cognitive reflection—kemampuan menahan impuls untuk berpikir lebih dalam.

Hasilnya:
Lebih sedikit kesalahan → lebih sedikit kerja ulang.

6. Mereka Tahu Kapan Harus Berhenti

Orang yang terlalu produktif sering sulit berhenti, bahkan saat lelah.

Orang “malas” lebih peka terhadap batas energi mereka:

Istirahat saat perlu
Tidak memaksakan diri

Secara psikologis:
Ini terkait dengan self-regulation dan energy management.

Hasilnya:

Tidak cepat burnout
Kinerja lebih stabil dalam jangka panjang

7. Mereka Fokus pada Hasil, Bukan Tampilan Sibuk

Orang produktif sering ingin terlihat sibuk:

Banyak meeting
Banyak tugas
Jadwal penuh

Orang malas justru sebaliknya:
“Yang penting selesai.”

Secara psikologis:
Ini berhubungan dengan outcome-oriented thinking dibanding activity-oriented thinking.

Hasilnya:

Lebih efisien
Tidak terjebak ilusi produktivitas

8. Mereka Tidak Takut Dibilang “Malas”

Orang yang terlalu peduli penilaian sosial sering:

Memaksakan diri terlihat sibuk
Mengambil terlalu banyak pekerjaan

Orang “malas” cenderung tidak peduli label itu.

Secara psikologis:
Ini terkait dengan rendahnya social approval dependency.

Hasilnya:

Lebih bebas memilih prioritas
Tidak membuang energi untuk pencitraan
Kesimpulan

“Malas” tidak selalu berarti buruk. Dalam banyak kasus, itu adalah bentuk:

Efisiensi alami
Strategi hemat energi
Cara otak menghindari kerja yang tidak perlu

Perbedaannya terletak pada jenis kemalasannya:

Malas pasif → menghindari semua tanggung jawab
Malas cerdas → menghindari hal yang tidak penting

Orang yang benar-benar efektif bukanlah yang paling sibuk, tapi yang:

Tahu apa yang penting
Menghindari yang tidak perlu
Menggunakan energi dengan bijak

Jadi, mungkin masalahnya bukan “kamu malas”…

tapi kamu belum mengarahkan kemalasanmu dengan benar.
Editor: Hanny Suwindari
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore