Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 17 April 2026 | 19.35 WIB

Bukan Sekadar Sifat, Ini Penyebab Seseorang Jadi Avoidant Attachment Menurut Psikologi

Penyebab seseorang menjadi avoidant attachment (Pexels/Vie Studio) - Image

Penyebab seseorang menjadi avoidant attachment (Pexels/Vie Studio)

JawaPos.com - Mengapa ada orang yang terlihat sangat mandiri, tetapi sulit membuka diri dalam hubungan? Atau mengapa sebagian orang cenderung menjaga jarak secara emosional meski sebenarnya memiliki hubungan dekat?

Dalam psikologi, kondisi ini dikenal sebagai avoidant attachment, yaitu gaya keterikatan yang membuat seseorang cenderung menghindari kedekatan emosional.

Avoidant attachment tidak muncul secara tiba-tiba. Pola ini terbentuk dari pengalaman hidup sejak kecil dan berkembang hingga dewasa.

Intinya, seseorang belajar bahwa menunjukkan emosi atau bergantung pada orang lain bukanlah hal yang aman atau nyaman.

Inilah beberapa hal yang bisa menyebabkan seseorang jadi avoidant attachment yang dilansir dari simplyphysicology.

1. Berawal dari Pengalaman Masa Kecil

Salah satu penyebab utama avoidant attachment adalah pola asuh yang kurang responsif secara emosional.

Anak yang sering diabaikan saat membutuhkan perhatian, atau diminta untuk tidak menangis dan harus kuat sendiri, bisa belajar bahwa emosi mereka tidak penting.

Akibatnya, anak berhenti mencari kenyamanan dari orang lain. Mereka mulai menekan perasaan dan berusaha menyelesaikan semuanya sendiri.

Dari luar, mereka terlihat mandiri, tetapi sebenarnya mereka sedang melindungi diri dari rasa kecewa.

Selain itu, lingkungan keluarga yang tidak stabil atau penuh tekanan juga bisa berpengaruh.

Anak yang tidak mendapatkan rasa aman secara konsisten akan belajar untuk tidak terlalu bergantung pada siapa pun.

2. Terlalu Didorong untuk Mandiri

Beberapa anak juga tumbuh dalam lingkungan yang terlalu menekankan kemandirian. Mereka sering mendengar kalimat seperti 'jangan manja' atau 'urus sendiri saja'.

Meskipun maksudnya baik, hal ini dapat membuat anak merasa bahwa membutuhkan orang lain adalah kelemahan.

Lama-kelamaan, mereka tumbuh menjadi pribadi yang sulit membuka diri dan cenderung menjaga jarak dalam hubungan.

3. Pengaruh Pengalaman Dewasa

Avoidant attachment juga bisa terbentuk atau semakin kuat akibat pengalaman di masa dewasa. Misalnya, pernah dikhianati, ditinggalkan, atau mengalami hubungan yang menyakitkan.

Pengalaman seperti ini membuat seseorang lebih berhati-hati dan memilih tidak terlalu dekat secara emosional. Mereka merasa lebih aman jika mengandalkan diri sendiri.

Selain itu, hubungan yang tidak sehat, seperti pasangan yang terlalu menuntut atau hubungan penuh konflik, juga dapat memperkuat kebiasaan menghindar.

4. Faktor Lingkungan dan Budaya

Lingkungan sosial juga memiliki peran penting. Budaya yang terlalu menekankan kemandirian dan menahan emosi dapat membuat seseorang merasa bahwa menunjukkan perasaan bukanlah hal yang perlu dilakukan.

Pesan seperti “harus kuat sendiri” dapat memperkuat pola avoidant dalam jangka panjang.

Lantas apakah orang avoidant bisa berubah? Meskipun terbentuk sejak lama, avoidant attachment bukanlah sesuatu yang tidak bisa diubah.

Dengan kesadaran diri dan pengalaman hubungan yang sehat, seseorang tetap bisa belajar untuk lebih terbuka.

Perubahan memang membutuhkan waktu, tetapi dengan lingkungan yang aman dan dukungan yang tepat, pola ini dapat menjadi lebih seimbang.

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore