Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 13 Juni 2026 | 20.17 WIB

8 Ciri Kepribadian ini Ada pada Orang yang Dididik oleh Orang Tua yang Suka Mengontrol Menurut Psikologi

Kepribadian orang yang dididik oleh orang tua suka mengontrol menurut psikologi. (Freepik/ bearfotos) - Image

Kepribadian orang yang dididik oleh orang tua suka mengontrol menurut psikologi. (Freepik/ bearfotos)

JawaPos.com – Pola asuh orang tua yang cenderung mengontrol dapat memengaruhi pembentukan kepribadian anak hingga mereka dewasa. Dalam kajian psikologi, anak yang dibesarkan dalam lingkungan dengan pengawasan ketat sering menunjukkan karakter dan pola perilaku yang khas.

Pengalaman tumbuh dalam kontrol yang kuat dari orang tua diyakini dapat membentuk cara seseorang berpikir, mengambil keputusan, serta berinteraksi dengan orang lain di kemudian hari. Hal ini kemudian tercermin dalam berbagai aspek kepribadian yang mereka miliki saat dewasa.

Mengutip dari geediting.com pada Sabtu (13/6), disebutkan bahwa terdapat delapan ciri kepribadian yang umum ditemukan pada individu yang dibesarkan oleh orang tua dengan pola asuh yang sangat mengontrol menurut sudut pandang psikologi.

1. Kewaspadaan berlebih

Hidup di bawah bayang-bayang orangtua yang mengontrol ketat menciptakan kebiasaan selalu waspada yang melekat hingga dewasa. Mereka yang tumbuh dalam lingkungan seperti ini cenderung mengembangkan kepekaan sensorik yang sangat tinggi, seolah-olah radar bahaya mereka selalu aktif setiap saat.

Bahkan dalam situasi yang sebenarnya aman dan terkendali, mereka tetap merasa perlu memindai lingkungan sekitar untuk mengantisipasi ancaman yang mungkin muncul. Mekanisme pertahanan diri ini, meski dulunya berguna sebagai strategi bertahan hidup semasa kecil, kini justru dapat menimbulkan stres berlebihan dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

2. Kesulitan membangun kepercayaan

Pengalaman masa kecil dengan orangtua yang sering mengingkari janji dan menciptakan ketidakpastian membuat mereka sangat berhati-hati dalam mempercayai orang lain. Meski seseorang telah berulang kali membuktikan diri dapat diandalkan, trauma masa lalu tetap membuat mereka sulit membuka diri sepenuhnya.

Rasa was-was ini sering mengganggu dalam membangun hubungan personal maupun profesional yang sehat. Butuh waktu dan proses panjang bagi mereka untuk belajar kembali membangun kepercayaan dengan orang lain.

3. Hambatan mengekspresikan emosi

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore