Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 4 Agustus 2026 | 01.36 WIB

Jika Seorang Anak Kerap Berbohong, Lakukan 7 Hal Ini untuk Merespons Mereka Menurut Psikologi

seseorang yang merespons anak yang berbohong / foto: Magnific/magnific

 

JawaPos.com - Kebiasaan anak berbohong sering kali membuat orang tua merasa kecewa, marah, bahkan khawatir. Tidak sedikit yang langsung menganggap bahwa anak memiliki karakter buruk atau akan tumbuh menjadi pribadi yang tidak jujur. Padahal, menurut psikologi perkembangan, berbohong pada anak merupakan perilaku yang cukup umum dan bisa muncul karena berbagai alasan, mulai dari takut dihukum, ingin menghindari konflik, mencari perhatian, hingga karena imajinasi mereka yang masih berkembang.

Cara orang tua merespons kebohongan justru memiliki pengaruh besar terhadap kebiasaan anak di masa depan. Hukuman yang terlalu keras dapat membuat anak semakin pandai menyembunyikan kesalahan. Sebaliknya, respons yang tenang, konsisten, dan penuh empati akan membantu anak belajar bahwa berkata jujur jauh lebih aman daripada berbohong.

Lalu, apa yang sebaiknya dilakukan ketika anak sering berbohong?

Dilansir dari Senin (3/8), terdapat tujuh cara yang direkomendasikan berdasarkan prinsip psikologi.

1. Tetap Tenang dan Jangan Langsung Memarahi Anak

Reaksi pertama orang tua sangat menentukan arah percakapan berikutnya. Ketika orang tua langsung membentak atau menghukum, anak akan lebih fokus pada rasa takut daripada memahami kesalahannya.

Psikologi menjelaskan bahwa rasa takut dapat membuat anak memilih berbohong lagi demi menghindari konsekuensi yang dianggap lebih menyakitkan. Karena itu, tarik napas sejenak dan ajak anak berbicara dengan suara yang tenang.

Misalnya, daripada berkata, "Kamu bohong lagi!" cobalah mengatakan, "Ayah atau Ibu ingin mendengar apa yang sebenarnya terjadi."

Dengan pendekatan seperti ini, anak merasa lebih aman untuk berkata jujur.

2. Cari Tahu Alasan di Balik Kebohongannya

Setiap kebohongan memiliki penyebab yang berbeda. Ada anak yang berbohong karena takut dimarahi, ada yang ingin dipuji, ada pula yang ingin melindungi temannya.

Daripada langsung menghakimi, cobalah memahami motivasi mereka.

Ajukan pertanyaan seperti:

"Apa yang membuatmu tidak berani mengatakan yang sebenarnya?"
"Apakah kamu takut dimarahi?"
"Apa yang kamu rasakan saat itu?"

Dengan mengetahui akar masalahnya, orang tua dapat memberikan solusi yang lebih tepat, bukan sekadar menghukum perilakunya.

3. Jelaskan Mengapa Kejujuran Itu Penting

Anak-anak lebih mudah memahami alasan dibandingkan hanya menerima larangan.

Daripada hanya mengatakan, "Jangan bohong!", jelaskan dampak dari kebohongan dalam kehidupan sehari-hari.

Misalnya, terangkan bahwa kejujuran membuat orang lain percaya kepada kita. Sebaliknya, jika seseorang terus berbohong, kepercayaan akan hilang dan sulit didapatkan kembali.

Gunakan contoh sederhana yang dekat dengan kehidupan anak agar mereka lebih mudah memahami makna kejujuran.

4. Berikan Contoh Perilaku Jujur

Anak belajar jauh lebih banyak dari apa yang mereka lihat daripada apa yang mereka dengar.

Jika orang tua sering berbohong, meskipun hanya kebohongan kecil seperti meminta anak mengatakan "Ayah tidak ada di rumah" padahal sebenarnya ada, anak akan menganggap bahwa berbohong adalah hal yang wajar.

Karena itu, jadilah teladan dalam bersikap jujur. Ketika melakukan kesalahan, jangan ragu mengakuinya di depan anak. Sikap tersebut mengajarkan bahwa setiap orang bisa salah, tetapi kejujuran tetap menjadi pilihan terbaik.

5. Beri Apresiasi Saat Anak Berkata Jujur

Psikologi mengenal konsep positive reinforcement, yaitu memperkuat perilaku baik melalui penghargaan atau apresiasi.

Saat anak berani mengakui kesalahan, berikan pujian atas kejujurannya, meskipun tetap ada konsekuensi atas perilaku yang dilakukan.

Contohnya:

"Terima kasih karena sudah berkata jujur. Ibu bangga kamu berani mengakuinya. Sekarang kita cari solusi bersama."

Dengan begitu, anak memahami bahwa berkata jujur akan mendapatkan respons yang lebih positif daripada berbohong.

6. Hindari Memberikan Label Negatif

Mengatakan, "Kamu memang pembohong," dapat berdampak buruk terhadap konsep diri anak.

Dalam psikologi, label negatif yang terus-menerus diberikan dapat membuat anak percaya bahwa itulah identitas dirinya. Akibatnya, mereka justru semakin sering mengulangi perilaku tersebut.

Lebih baik fokus pada perilakunya, bukan pada kepribadiannya.

Misalnya, katakan:

"Yang kamu lakukan tadi tidak jujur."

Kalimat ini menunjukkan bahwa perilaku tersebut bisa diperbaiki tanpa membuat anak merasa dirinya adalah orang yang buruk.

7. Bangun Hubungan yang Aman dan Penuh Kepercayaan

Anak akan lebih mudah berkata jujur ketika mereka merasa diterima dan tidak takut dihakimi.

Luangkan waktu setiap hari untuk mendengarkan cerita anak tanpa langsung mengkritik atau memberi ceramah. Bangun komunikasi yang terbuka sehingga mereka terbiasa menceritakan apa yang dialaminya.

Ketika hubungan emosional antara orang tua dan anak kuat, kebutuhan anak untuk berbohong demi melindungi diri biasanya akan berkurang.

Mengapa Anak Sering Berbohong?

Penting dipahami bahwa tidak semua kebohongan menunjukkan masalah karakter. Berdasarkan psikologi perkembangan, beberapa alasan umum anak berbohong antara lain:

Takut dihukum atau dimarahi.
Ingin mendapatkan pujian atau perhatian.
Berusaha menghindari rasa malu.
Memiliki imajinasi yang masih sangat aktif, terutama pada usia prasekolah.
Meniru perilaku orang dewasa atau teman sebaya.
Belum memahami sepenuhnya perbedaan antara fantasi dan kenyataan.

Semakin muda usia anak, semakin besar kemungkinan kebohongan mereka berkaitan dengan proses perkembangan kognitif, bukan niat untuk menipu.

Kesimpulan

Menghadapi anak yang sering berbohong memang membutuhkan kesabaran. Namun, respons orang tua jauh lebih penting daripada kebohongan itu sendiri. Dengan tetap tenang, mencari tahu penyebabnya, menjelaskan pentingnya kejujuran, menjadi teladan, memberikan apresiasi atas kejujuran, menghindari label negatif, dan membangun hubungan yang penuh kepercayaan, orang tua dapat membantu anak belajar bahwa berkata jujur adalah pilihan yang aman dan bernilai.

Pada akhirnya, tujuan utama bukan sekadar membuat anak berhenti berbohong, melainkan membentuk karakter yang jujur, bertanggung jawab, dan berani mengakui kesalahan. Proses ini memang membutuhkan waktu, tetapi dengan pola asuh yang konsisten dan penuh empati, kebiasaan jujur akan tumbuh menjadi bagian dari kepribadian anak hingga dewasa.***
Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags

Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore