Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 12 Agustus 2026 | 04.34 WIB

7 Alasan Mengapa Generasi Muda Mungkin Saja Gagal Memulai Kehidupan Mandiri Mereka Menurut Psikologi

seseorang yang membantu generasi muda / foto: Magnific/magnific

 

JawaPos.com - Memulai kehidupan mandiri sering dianggap sebagai salah satu tanda bahwa seseorang telah memasuki fase kedewasaan. Setelah menyelesaikan pendidikan, seseorang diharapkan mampu bekerja, mengelola keuangan, mengambil keputusan sendiri, membangun relasi yang sehat, hingga bertanggung jawab atas kehidupan sehari-hari.

Namun, kenyataannya tidak selalu demikian.

Banyak anak muda yang sebenarnya memiliki pendidikan, kemampuan, bahkan kesempatan untuk hidup mandiri, tetapi masih merasa kesulitan untuk benar-benar melangkah. Ada yang terus bergantung kepada orang tua, takut mengambil keputusan, tidak mampu mengatur keuangan, mudah menyerah ketika menghadapi kegagalan, atau merasa belum siap menghadapi tuntutan kehidupan dewasa.

Kegagalan memulai kehidupan mandiri tentu tidak selalu berarti seseorang malas atau tidak memiliki kemampuan. Dari sudut pandang psikologi, ada berbagai faktor internal dan eksternal yang dapat membuat seseorang kesulitan berpindah dari kehidupan yang relatif terlindungi menuju kehidupan yang lebih mandiri.

Menariknya, sebagian hambatan tersebut terkadang tidak terlihat dari luar. Seseorang mungkin tampak baik-baik saja, tetapi di dalam dirinya terdapat kecemasan, keraguan, rasa tidak mampu, atau ketakutan menghadapi ketidakpastian.

Dilansir dari Psychology Today pada Selasa (11/8), terdapat tujuh alasan psikologis yang dapat membuat kaum muda mungkin saja gagal atau kesulitan memulai kehidupan mandiri.

1. Takut Gagal dan Terlalu Takut Membuat Kesalahan

Salah satu hambatan terbesar dalam memulai kehidupan mandiri adalah ketakutan terhadap kegagalan.

Ketika masih tinggal bersama keluarga, seseorang mungkin memiliki tempat untuk kembali ketika sesuatu tidak berjalan sesuai rencana. Namun, ketika mulai hidup mandiri, konsekuensi dari setiap keputusan terasa jauh lebih nyata.

Memilih pekerjaan yang salah, mengalami masalah keuangan, gagal dalam hubungan, atau tidak berhasil mencapai target tertentu dapat membuat seseorang merasa bahwa dirinya telah melakukan kesalahan besar.

Dalam psikologi, ketakutan terhadap kegagalan dapat membuat seseorang menghindari situasi yang sebenarnya diperlukan untuk berkembang. Daripada mencoba dan berisiko gagal, seseorang mungkin memilih untuk tidak mencoba sama sekali.

Misalnya, seorang anak muda mendapatkan tawaran pekerjaan di kota lain. Pekerjaan tersebut sebenarnya dapat menjadi kesempatan untuk berkembang, tetapi ia menolaknya karena terus membayangkan berbagai kemungkinan buruk.

"Bagaimana kalau saya tidak cocok?"

"Bagaimana kalau saya tidak bisa mengatur uang?"

"Bagaimana kalau saya gagal?"

Pertanyaan-pertanyaan tersebut memang wajar. Masalah muncul ketika ketakutan menjadi begitu besar sehingga seseorang tidak lagi berani mengambil langkah.

Padahal, kehidupan mandiri hampir selalu melibatkan kesalahan. Tidak ada orang yang langsung mahir mengatur kehidupan sejak hari pertama meninggalkan rumah.

Seseorang belajar memasak karena sebelumnya tidak bisa memasak. Belajar mengatur uang karena pernah mengalami kesalahan finansial. Belajar mengambil keputusan karena pernah membuat keputusan yang kurang tepat.

Dengan kata lain, kemampuan hidup mandiri tidak selalu muncul sebelum seseorang memulai kehidupan mandiri. Banyak kemampuan justru berkembang karena seseorang berani menjalaninya.

2. Terlalu Bergantung kepada Orang Tua

Keluarga dapat menjadi sumber dukungan yang sangat penting bagi perkembangan seseorang. Namun, dalam kondisi tertentu, dukungan yang terlalu besar juga dapat membuat seseorang kesulitan mengembangkan kemandirian.

Sejak kecil, beberapa individu terbiasa mendapatkan bantuan dalam hampir semua hal. Orang tua menentukan banyak keputusan, menyelesaikan masalah, mengatur kebutuhan sehari-hari, bahkan terkadang menyelesaikan konsekuensi dari kesalahan anak.

Selama tinggal di lingkungan tersebut, seseorang mungkin merasa nyaman.

Namun ketika memasuki kehidupan dewasa, pola ketergantungan tersebut dapat menjadi hambatan.

Contohnya, seseorang mungkin sudah berusia cukup dewasa tetapi masih meminta orang tua menentukan pekerjaan yang harus dipilih, mengatur keuangannya, menyelesaikan konflik, atau mengambil keputusan penting dalam kehidupannya.

Dalam psikologi perkembangan, kemandirian tidak hanya berkaitan dengan kemampuan finansial. Kemandirian juga berkaitan dengan kemampuan psikologis untuk mengambil keputusan, bertanggung jawab, dan percaya bahwa dirinya mampu menghadapi masalah.

Ketika seseorang terlalu lama mendapatkan solusi dari orang lain, kesempatan untuk mengembangkan kemampuan tersebut menjadi lebih sedikit.

Akibatnya, kehidupan mandiri dapat terasa sangat menakutkan.

Ini bukan berarti orang tua harus berhenti membantu anak sepenuhnya. Dukungan keluarga tetap penting. Yang perlu berubah adalah bentuk dukungannya.

Daripada selalu memberikan solusi, orang tua dapat membantu anak belajar mencari solusi sendiri.

Daripada selalu mengambil keputusan, orang tua dapat memberikan ruang agar anak belajar menentukan pilihannya sendiri.

Tujuannya bukan membuat anak merasa sendirian, tetapi membantu mereka memiliki kemampuan untuk berdiri dengan kaki sendiri.

3. Memiliki Self-Efficacy yang Rendah

Salah satu konsep penting dalam psikologi adalah self-efficacy, yaitu keyakinan seseorang bahwa dirinya mampu melakukan tindakan tertentu dan menghadapi tantangan yang ada.

Dua orang dapat menghadapi masalah yang sama tetapi memberikan respons berbeda.

Orang pertama berpikir:

"Saya belum bisa, tetapi saya bisa belajar."

Orang kedua berpikir:

"Saya memang tidak akan mampu melakukannya."

Perbedaan cara pandang tersebut dapat memengaruhi perilaku.

Anak muda dengan self-efficacy yang rendah mungkin lebih mudah meragukan dirinya ketika menghadapi tuntutan kehidupan mandiri. Ia mungkin merasa tidak cukup pintar, tidak cukup kompeten, tidak cukup dewasa, atau tidak cukup kuat untuk menghadapi masalah.

Akibatnya, ia dapat menunda berbagai keputusan penting.

Misalnya, seseorang ingin mencari pekerjaan tetapi terus merasa dirinya tidak memenuhi kualifikasi. Ia ingin tinggal sendiri tetapi merasa tidak mampu mengurus rumah. Ia ingin memulai usaha tetapi yakin dirinya pasti gagal.

Yang menarik, rasa tidak mampu tersebut tidak selalu sesuai dengan kemampuan sebenarnya.

Seseorang bisa saja memiliki kemampuan yang cukup, tetapi tidak memiliki keyakinan bahwa dirinya mampu menggunakannya.

Karena itu, membangun kemandirian bukan hanya tentang meningkatkan keterampilan. Seseorang juga perlu membangun kepercayaan terhadap kemampuan dirinya.

Hal ini dapat dilakukan melalui pengalaman-pengalaman kecil.

Belajar mengatur pengeluaran sendiri.

Menyelesaikan masalah tanpa langsung meminta bantuan.

Mengurus dokumen pribadi.

Membuat keputusan sederhana.

Menyelesaikan pekerjaan sampai tuntas.

Pengalaman-pengalaman kecil tersebut dapat menjadi bukti bahwa seseorang sebenarnya mampu.

4. Terjebak dalam Perfeksionisme

Perfeksionisme sering terlihat seperti sifat positif. Seseorang yang perfeksionis mungkin dianggap memiliki standar tinggi dan selalu ingin memberikan hasil terbaik.

Namun, perfeksionisme juga dapat menjadi hambatan ketika seseorang harus memulai kehidupan mandiri.

Mengapa?

Karena orang yang terlalu mengejar kesempurnaan sering kali sulit memulai sesuatu jika kondisi belum ideal.

Mereka mungkin berpikir:

"Saya akan pindah ketika tabungan sudah sangat banyak."

"Saya akan mencari pekerjaan setelah kemampuan saya benar-benar sempurna."

"Saya akan memulai bisnis ketika semua persiapannya sudah lengkap."

"Saya harus memiliki kehidupan yang mapan sebelum dianggap mandiri."

Masalahnya, kondisi yang benar-benar sempurna hampir tidak pernah datang.

Kehidupan dewasa penuh dengan ketidakpastian. Pekerjaan dapat berubah. Pendapatan dapat naik dan turun. Hubungan dapat mengalami masalah. Rencana dapat gagal.

Jika seseorang menunggu sampai semuanya sempurna, ia mungkin terus menunda langkah pertama.

Perfeksionisme juga dapat membuat kegagalan terasa sangat menyakitkan. Kesalahan kecil bisa dianggap sebagai bukti bahwa dirinya tidak kompeten.

Padahal, menjadi mandiri bukan berarti selalu benar.

Menjadi mandiri berarti mampu menghadapi konsekuensi ketika sesuatu tidak berjalan sesuai rencana.

Ada perbedaan besar antara "harus selalu berhasil" dan "mampu bangkit ketika gagal".

Kemandirian membutuhkan yang kedua.

5. Kesulitan Mengelola Emosi dan Tekanan

Kehidupan mandiri bukan hanya membutuhkan kemampuan praktis. Seseorang juga perlu memiliki kemampuan mengelola emosi.

Ketika tinggal bersama keluarga, seseorang mungkin masih memiliki tempat untuk mendapatkan dukungan emosional dengan mudah. Namun ketika hidup sendiri, berbagai masalah dapat terasa lebih berat.

Pekerjaan yang melelahkan.

Tagihan yang harus dibayar.

Konflik dengan rekan kerja.

Kesepian.

Tekanan sosial.

Kegagalan dalam hubungan.

Ketidakpastian mengenai masa depan.

Semua hal tersebut dapat terjadi dalam waktu yang bersamaan.

Jika seseorang belum memiliki kemampuan regulasi emosi yang baik, tekanan tersebut dapat membuatnya kewalahan.

Ia mungkin mudah panik, menghindari masalah, melampiaskan emosi, menarik diri dari lingkungan sosial, atau mengambil keputusan secara impulsif.

Dalam kondisi tertentu, seseorang bahkan bisa kembali kepada pola ketergantungan karena merasa kehidupan mandiri terlalu berat.

Karena itu, kedewasaan psikologis tidak hanya terlihat dari kemampuan mencari uang. Kemampuan menghadapi rasa kecewa, mengendalikan impuls, meminta bantuan ketika diperlukan, dan menyelesaikan masalah secara bertahap juga sangat penting.

Mandiri bukan berarti tidak pernah membutuhkan orang lain.

Sebaliknya, orang yang sehat secara psikologis justru mampu mengetahui kapan harus mengandalkan dirinya sendiri dan kapan perlu meminta bantuan.

6. Terlalu Membandingkan Diri dengan Orang Lain

Generasi muda saat ini hidup dalam lingkungan sosial yang sangat mudah memunculkan perbandingan.

Media sosial memungkinkan seseorang melihat pencapaian orang lain setiap hari.

Ada teman yang sudah membeli rumah.

Ada teman yang memiliki pekerjaan dengan gaji tinggi.

Ada yang sudah menikah.

Ada yang membangun bisnis.

Ada yang tinggal sendiri di kota besar.

Ada yang terlihat sering bepergian ke luar negeri.

Ketika melihat semua itu, seseorang dapat merasa bahwa dirinya tertinggal.

Padahal, media sosial biasanya hanya menampilkan sebagian kecil dari kehidupan seseorang.

Kita melihat pencapaian orang lain, tetapi jarang melihat kecemasan, utang, kegagalan, konflik keluarga, atau masalah pribadi yang mungkin mereka hadapi.

Perbandingan sosial yang berlebihan dapat membuat seseorang menilai dirinya berdasarkan standar kehidupan orang lain.

Akibatnya, kehidupan mandiri tidak lagi dipandang sebagai proses pribadi, tetapi sebagai perlombaan.

"Di usia saya seharusnya sudah punya rumah."

"Teman-teman saya sudah sukses."

"Saya seharusnya sudah mendapatkan pekerjaan yang lebih baik."

"Saya sudah terlalu tua untuk masih bergantung kepada orang tua."

Tekanan semacam itu dapat meningkatkan rasa malu dan rendah diri.

Ironisnya, rasa rendah diri tersebut justru dapat mengurangi keberanian seseorang untuk mengambil langkah.

Padahal, setiap orang memiliki kondisi awal, kesempatan, sumber daya, dan perjalanan hidup yang berbeda.

Kemandirian tidak harus memiliki bentuk yang sama bagi semua orang.

Bagi seseorang, mandiri mungkin berarti mampu membiayai kebutuhan sendiri.

Bagi orang lain, mungkin berarti mampu mengambil keputusan tanpa terus-menerus bergantung pada keluarga.

Yang terpenting adalah adanya perkembangan dari waktu ke waktu.

7. Tidak Memiliki Tujuan Hidup yang Cukup Jelas

Alasan terakhir yang tidak kalah penting adalah kurangnya arah hidup.

Sebagian anak muda merasa bingung mengenai apa yang sebenarnya ingin mereka lakukan.

Mereka menyelesaikan pendidikan karena memang harus menyelesaikannya. Kemudian mencari pekerjaan karena memang perlu bekerja. Namun, mereka belum benar-benar memahami kehidupan seperti apa yang ingin dibangun.

Ketika tujuan tidak jelas, kehidupan mandiri dapat terasa seperti beban.

Seseorang mungkin bertanya:

"Saya bekerja untuk apa?"

"Saya ingin tinggal sendiri untuk apa?"

"Apa yang sebenarnya ingin saya capai?"

"Apakah kehidupan seperti ini memang saya inginkan?"

Kebingungan tersebut tidak selalu berarti seseorang malas. Pada masa transisi menuju dewasa, pencarian identitas memang dapat menjadi bagian penting dari perkembangan psikologis.

Namun, jika kebingungan berlangsung terlalu lama tanpa adanya usaha untuk mengeksplorasi diri, seseorang dapat menjadi pasif.

Ia hanya mengikuti arus.

Mengikuti pilihan keluarga.

Mengikuti teman.

Mengikuti tren.

Mengikuti pekerjaan yang tersedia.

Tanpa benar-benar menentukan arah sendiri.

Padahal, kehidupan mandiri membutuhkan kemampuan untuk menentukan prioritas.

Seseorang perlu mengetahui apa yang penting baginya, nilai apa yang ingin dijalani, serta kehidupan seperti apa yang ingin dibangun.

Tujuan tersebut tidak harus langsung sangat besar.

Tidak perlu langsung mengetahui profesi apa yang akan dilakukan sampai usia tua.

Tujuan sederhana seperti "ingin memiliki kondisi finansial yang lebih stabil", "ingin belajar tinggal sendiri", atau "ingin memiliki pekerjaan yang sesuai dengan kemampuan" sudah dapat menjadi titik awal.

Gagal Memulai Bukan Berarti Gagal Selamanya

Kesulitan memulai kehidupan mandiri sebaiknya tidak langsung dianggap sebagai kegagalan karakter.

Ada orang yang mampu mandiri sejak usia muda. Ada pula yang membutuhkan waktu lebih panjang.

Kecepatan seseorang dalam menjadi mandiri dipengaruhi banyak faktor, termasuk kondisi keluarga, ekonomi, kesempatan pendidikan, lingkungan sosial, pengalaman hidup, serta kesiapan psikologis.

Yang lebih penting bukan sekadar seberapa cepat seseorang meninggalkan rumah atau mampu menghasilkan uang sendiri.

Kemandirian yang sehat mencakup kemampuan untuk mengambil keputusan, bertanggung jawab atas pilihan, mengelola kehidupan sehari-hari, menghadapi konsekuensi, serta mencari bantuan secara tepat ketika memang dibutuhkan.

Karena itu, seseorang yang masih berjuang tidak seharusnya langsung menyimpulkan bahwa dirinya tidak mampu.

Bisa jadi ia hanya belum memiliki keterampilan tertentu.

Bisa jadi ia terlalu takut melakukan kesalahan.

Bisa jadi ia terbiasa bergantung pada orang lain.

Atau mungkin ia belum menemukan arah yang benar-benar ingin dituju.

Semua hal tersebut dapat dipelajari dan dikembangkan.

Langkah Kecil Menuju Kehidupan Mandiri

Jika ingin mulai membangun kemandirian, seseorang tidak harus langsung melakukan perubahan besar.

Mulailah dari hal yang realistis.

Belajar mengatur pemasukan dan pengeluaran sendiri.

Mulai mengambil keputusan tanpa selalu meminta persetujuan orang lain.

Belajar mengurus kebutuhan sehari-hari.

Mencoba menyelesaikan masalah sebelum meminta bantuan.

Membangun keterampilan kerja.

Belajar menerima kesalahan sebagai bagian dari proses.

Mengurangi kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain.

Dan yang tidak kalah penting, memahami diri sendiri.

Kemandirian bukan sebuah tombol yang bisa dinyalakan dalam satu hari. Ia lebih mirip keterampilan yang berkembang melalui pengalaman.

Seseorang mungkin akan melakukan kesalahan. Mungkin akan mengalami kegagalan. Mungkin akan merasa takut dan ingin kembali ke zona nyaman.

Hal tersebut tidak otomatis berarti perjalanan menuju kemandirian telah gagal.

Justru melalui pengalaman menghadapi kesulitan, seseorang perlahan belajar bahwa dirinya mampu bertahan.

Penutup

Memulai kehidupan mandiri memang tidak mudah, terutama ketika seseorang harus meninggalkan pola hidup yang sudah terasa aman selama bertahun-tahun.

Ketakutan terhadap kegagalan, ketergantungan kepada orang tua, rendahnya keyakinan terhadap kemampuan diri, perfeksionisme, kesulitan mengelola emosi, kebiasaan membandingkan diri, serta tidak adanya tujuan yang jelas dapat menjadi beberapa hambatan psikologis dalam proses tersebut.

Namun, hambatan tersebut bukanlah vonis permanen.

Kemandirian dapat dibangun sedikit demi sedikit.

Tidak perlu menunggu sampai merasa benar-benar siap. Dalam banyak situasi, rasa siap justru muncul setelah seseorang mulai mencoba.

Pada akhirnya, menjadi dewasa bukan tentang membuktikan bahwa kita tidak membutuhkan siapa pun.

Menjadi dewasa adalah belajar bertanggung jawab atas kehidupan sendiri, mampu mengambil keputusan, berani menghadapi ketidakpastian, dan tetap memiliki kerendahan hati untuk meminta bantuan ketika memang diperlukan.

Karena kehidupan mandiri bukan tentang tidak pernah jatuh.

Kehidupan mandiri adalah tentang belajar berdiri kembali setiap kali kita jatuh.***
Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags

Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore