Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 5 September 2026 | 21.43 WIB

7 Alasan Sebagian Orang Berbicara dengan Suara Lantang pada Dirinya Sendiri Menurut Psikologi

seseorang yang berbicara dengan suara lantang pada dirinya sendiri / foto: Magnific/The Yuri Arcurs Collection

 

JawaPos.com - Pernahkah kamu sedang sendirian, kemudian tanpa sadar berbicara kepada diri sendiri dengan suara lantang?

Mungkin kamu pernah mengatakan, “Aku harus menyelesaikan ini hari ini,” ketika sedang bekerja. Atau mengomel, “Kenapa tadi aku bisa lupa?” setelah melakukan kesalahan. Bisa juga kamu sedang mencari sesuatu sambil berkata, “Tadi aku taruh di mana, ya?”

Bagi sebagian orang, kebiasaan berbicara kepada diri sendiri dengan suara lantang mungkin terasa aneh. Namun, dari sudut pandang psikologi, perilaku tersebut tidak selalu menunjukkan sesuatu yang negatif.

Berbicara kepada diri sendiri atau self-talk merupakan bagian yang cukup umum dalam kehidupan manusia. Kita semua sebenarnya melakukan dialog batin. Hanya saja, sebagian orang lebih sering mengubah dialog tersebut menjadi ucapan yang terdengar oleh telinga.

Dalam kondisi tertentu, berbicara dengan suara lantang justru dapat membantu seseorang berpikir, mengatur emosi, mengingat sesuatu, mengambil keputusan, hingga memotivasi dirinya sendiri.

Tentu saja, konteks tetap penting. Berbicara kepada diri sendiri dengan sadar dan mengetahui bahwa kita sedang berbicara kepada diri sendiri berbeda dengan mendengar suara yang terasa berasal dari sumber lain atau mengalami kesulitan membedakan pikiran dari kenyataan.

Lalu, mengapa sebagian orang memiliki kebiasaan berbicara dengan suara lantang kepada dirinya sendiri?

Dilansir dari Psychology Today pada Sabtu (5/9), terdapat tujuh alasan yang dapat menjelaskannya dari perspektif psikologi.

1. Membantu Mengatur dan Menjernihkan Pikiran

Salah satu alasan paling sederhana adalah karena berbicara dapat membantu seseorang menyusun pikirannya.

Ketika sesuatu hanya berputar di dalam kepala, berbagai pikiran terkadang terasa bercampur. Ada rencana, kekhawatiran, ide, pertanyaan, dan kemungkinan-kemungkinan yang muncul secara bersamaan.

Dengan mengucapkannya secara lantang, seseorang seperti memindahkan sebagian isi pikirannya menjadi sesuatu yang lebih konkret.

Misalnya, seseorang sedang menghadapi banyak pekerjaan. Di dalam pikirannya mungkin muncul:

“Aku harus mengerjakan laporan, membalas pesan, menyelesaikan presentasi, dan jangan lupa mengirim dokumen sebelum sore.”

Ketika diucapkan, pikirannya menjadi lebih terstruktur:

“Pertama, aku selesaikan laporan. Setelah itu presentasi. Terakhir, aku kirim dokumen.”

Proses tersebut dapat membuat masalah terasa lebih mudah ditangani.

Berbicara dengan suara lantang juga memungkinkan seseorang mendengar kembali apa yang sedang dipikirkannya. Kadang-kadang, sebuah ide terdengar masuk akal ketika berada di kepala, tetapi setelah diucapkan ternyata terdapat bagian yang tidak logis atau belum lengkap.

Karena itu, berbicara kepada diri sendiri dapat menjadi semacam alat untuk berpikir.

Bukan berarti orang tersebut tidak mampu berpikir dalam hati. Justru sebaliknya, ia mungkin menggunakan suara sebagai salah satu cara untuk membantu mengorganisasi proses berpikirnya.

2. Membantu Mengendalikan Emosi

Alasan berikutnya berkaitan dengan regulasi emosi.

Ketika seseorang sedang marah, kecewa, takut, atau cemas, emosinya bisa terasa sangat kuat. Dalam kondisi seperti itu, berbicara kepada diri sendiri dapat menjadi cara untuk menciptakan jarak antara dirinya dan emosi yang sedang dialami.

Contohnya:

“Tenang dulu. Jangan langsung membalas pesan ini.”

Atau:

“Aku memang kecewa, tetapi aku tidak harus mengambil keputusan sekarang.”

Kalimat sederhana semacam itu dapat berfungsi sebagai pengingat agar seseorang tidak langsung bereaksi berdasarkan emosi.

Dalam psikologi, self-talk dapat digunakan sebagai salah satu bentuk strategi regulasi diri. Seseorang memberikan instruksi atau dukungan kepada dirinya sendiri untuk menghadapi situasi tertentu.

Menariknya, cara seseorang berbicara kepada dirinya sendiri juga dapat memengaruhi bagaimana ia memandang sebuah masalah.

Bandingkan:

“Aku tidak akan pernah bisa melakukan ini.”

dengan:

“Ini memang sulit, tetapi aku bisa mengerjakannya sedikit demi sedikit.”

Keduanya sama-sama merupakan percakapan dengan diri sendiri, tetapi pesan yang disampaikan sangat berbeda.

Karena itu, bukan sekadar berbicara atau tidak berbicara yang penting. Isi dan nada self-talk juga memiliki peran.

3. Membantu Mengingat dan Memusatkan Perhatian

Pernah berbicara sendiri ketika sedang mencari barang yang hilang?

“Tadi aku masuk kamar, lalu meletakkan kunci di meja...”

Tanpa disadari, kamu sedang menggunakan bahasa untuk membantu mengarahkan perhatian dan mengingat kembali sebuah rangkaian kejadian.

Berbicara lantang dapat membuat informasi tertentu menjadi lebih menonjol. Ketika seseorang mengatakan sesuatu dengan jelas, ia tidak hanya memprosesnya secara mental, tetapi juga mendengarnya kembali.

Misalnya seseorang ingin mengingat beberapa tugas:

“Telepon klien. Kirim email. Bayar tagihan. Setelah itu belanja.”

Dengan mengucapkannya, urutan tersebut menjadi lebih mudah diikuti.

Hal serupa dapat terjadi ketika seseorang sedang mempelajari sesuatu.

Seorang mahasiswa mungkin membaca materi kemudian menjelaskannya dengan suara lantang:

“Jadi, konsep ini berarti...”

Ketika ia menjelaskan menggunakan kata-katanya sendiri, ia dapat menemukan bagian yang benar-benar dipahami dan bagian yang masih membingungkan.

Dengan kata lain, berbicara kepada diri sendiri kadang-kadang bukan tanda seseorang kehilangan fokus. Justru bisa menjadi cara untuk menciptakan fokus.

4. Menjadi Bentuk Motivasi Diri

Sebagian orang berbicara kepada dirinya sendiri karena membutuhkan dorongan.

Sebelum melakukan sesuatu yang sulit, mereka mungkin mengatakan:

“Aku bisa melakukannya.”

“Selesaikan satu per satu.”

“Jangan menyerah sekarang.”

Bagi orang lain, kalimat tersebut mungkin terdengar sederhana. Tetapi bagi orang yang mengucapkannya, kata-kata itu dapat menjadi pengingat mengenai tujuan yang ingin dicapai.

Kita sering lebih mudah memberikan nasihat kepada orang lain dibandingkan kepada diri sendiri.

Ketika seorang teman mengalami kegagalan, kita mungkin berkata:

“Tidak apa-apa. Coba lagi. Kamu sudah berusaha.”

Namun ketika mengalami kegagalan sendiri, kita justru mengatakan:

“Aku memang tidak bisa.”

Berbicara kepada diri sendiri secara sadar dapat menjadi cara untuk membawa suara suportif tersebut ke dalam kehidupan pribadi.

Misalnya:

“Aku memang membuat kesalahan, tetapi kesalahan ini tidak menentukan seluruh kemampuan diriku.”

Self-talk seperti ini bukan berarti berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja. Tujuannya lebih kepada memberikan respons yang realistis dan konstruktif terhadap keadaan.

5. Membantu Mengambil Keputusan

Ada orang yang berbicara kepada dirinya sendiri ketika sedang menghadapi pilihan.

Misalnya:

“Kalau aku mengambil pekerjaan ini, waktuku akan lebih sedikit. Tapi pengalamannya bagus. Kalau aku menolaknya, aku punya lebih banyak waktu, tetapi mungkin kehilangan kesempatan.”

Dengan berbicara lantang, seseorang dapat mendengar argumen dari kedua sisi.

Ini mirip dengan membuat diskusi kecil di dalam diri sendiri.

Seseorang dapat mempertanyakan pikirannya:

“Apa sebenarnya yang paling penting bagiku?”

Kemudian menjawab:

“Stabilitas.”

Lalu bertanya lagi:

“Kalau begitu, pilihan mana yang paling sesuai dengan kebutuhan itu?”

Percakapan semacam ini dapat membantu mengubah keputusan yang abstrak menjadi sesuatu yang lebih terstruktur.

Tentu saja, berbicara sendiri tidak otomatis membuat setiap keputusan menjadi benar. Namun, bagi sebagian orang, proses verbal tersebut membantu mereka melihat persoalan dari sudut pandang yang lebih jelas.

6. Membantu Menyelesaikan Masalah

Ketika menghadapi masalah rumit, manusia sering melakukan proses berpikir bertahap.

Misalnya ketika memperbaiki sesuatu, memasak, mengerjakan pekerjaan teknis, atau menyusun strategi.

Seseorang mungkin mengatakan:

“Kalau bagian ini dipindahkan ke sini, seharusnya yang ini menjadi lebih mudah.”

Kemudian mencoba.

Jika gagal, ia mungkin berkata:

“Oke, berarti bukan bagian ini. Coba cara yang tadi.”

Percakapan tersebut menjadi semacam petunjuk verbal untuk dirinya sendiri.

Anak-anak juga sering terlihat melakukan hal seperti ini ketika sedang menyelesaikan tugas atau bermain. Mereka dapat berbicara kepada diri sendiri sambil melakukan suatu aktivitas.

Pada orang dewasa, perilaku tersebut mungkin menjadi lebih tersembunyi karena norma sosial membuat banyak orang merasa harus selalu terlihat “diam” ketika sendirian.

Padahal, dalam kondisi tertentu, mengucapkan langkah-langkah secara lantang dapat membantu seseorang mempertahankan urutan tindakan dan mengevaluasi kesalahan.

Itulah sebabnya kita terkadang berbicara sendiri ketika sedang memasang furnitur, memasak resep baru, mengerjakan proyek, atau mencoba memahami sesuatu yang rumit.

7. Menjadi Cara untuk Mengekspresikan Perasaan yang Sulit Disampaikan kepada Orang Lain

Tidak semua hal mudah diceritakan kepada orang lain.

Ada orang yang merasa lebih nyaman mengutarakan perasaannya ketika sendirian.

Mereka mungkin berkata:

“Aku sebenarnya kecewa.”

“Aku capek terus berusaha.”

“Aku tidak suka diperlakukan seperti itu.”

Dengan mengatakannya secara lantang, seseorang dapat memberi ruang bagi perasaan yang sebelumnya hanya tersimpan di dalam pikiran.

Hal ini dapat menjadi bentuk refleksi diri.

Seseorang bukan sedang berbicara kepada orang lain, melainkan mencoba memahami pengalaman dirinya sendiri.

Terkadang, setelah mengucapkan sebuah perasaan, seseorang baru menyadari apa yang sebenarnya mengganggunya.

Misalnya, awalnya ia merasa marah kepada seseorang. Setelah berbicara kepada dirinya sendiri, ia menyadari bahwa di balik kemarahan tersebut sebenarnya terdapat rasa kecewa, takut kehilangan, atau merasa tidak dihargai.

Dengan demikian, berbicara kepada diri sendiri dapat menjadi salah satu jalan menuju pemahaman diri yang lebih baik.

Berbicara Sendiri Tidak Selalu Berarti Kesepian

Ada anggapan bahwa orang yang sering berbicara sendiri pasti kesepian atau tidak memiliki teman.

Pandangan tersebut terlalu sederhana.

Seseorang dapat memiliki kehidupan sosial yang sehat sekaligus sering melakukan self-talk.

Sebaliknya, seseorang yang jarang berbicara dengan dirinya sendiri bukan berarti otomatis memiliki kesehatan psikologis yang lebih baik.

Kebiasaan berbicara sendiri perlu dilihat berdasarkan konteksnya.

Apakah orang tersebut sadar bahwa ia sedang berbicara kepada dirinya sendiri?

Apakah percakapan tersebut membantunya menyelesaikan masalah?

Apakah ia masih mampu menjalani aktivitas sehari-hari?

Apakah ia dapat membedakan antara pikirannya sendiri dan suara yang berasal dari luar dirinya?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut jauh lebih penting daripada sekadar menghitung seberapa sering seseorang berbicara sendiri.

Kapan Kebiasaan Ini Perlu Diperhatikan?

Pada umumnya, berbicara kepada diri sendiri secara sadar bukanlah sesuatu yang otomatis perlu dikhawatirkan.

Namun, situasinya berbeda jika seseorang mengalami pengalaman yang mengganggu atau membuatnya kehilangan kendali.

Misalnya, seseorang merasa mendengar suara yang tidak dianggap sebagai pikirannya sendiri, mengalami kebingungan mengenai sumber suara tersebut, merasa terdorong melakukan sesuatu yang membahayakan, atau mengalami gangguan signifikan terhadap pekerjaan, hubungan sosial, dan aktivitas sehari-hari.

Dalam kondisi seperti itu, sebaiknya seseorang berbicara dengan tenaga profesional kesehatan mental agar dapat memperoleh penilaian yang tepat.

Penting untuk tidak melakukan diagnosis hanya berdasarkan satu perilaku.

Berbicara dengan suara lantang ketika sendirian, dengan sendirinya, tidak cukup untuk menyimpulkan bahwa seseorang mengalami gangguan psikologis tertentu.

Yang Lebih Penting: Apa yang Kamu Katakan kepada Dirimu Sendiri?

Pada akhirnya, mungkin pertanyaan yang lebih menarik bukanlah:

“Mengapa aku berbicara sendiri?”

melainkan:

“Apa yang sebenarnya aku katakan kepada diriku sendiri?”

Sebab, suara yang paling sering kita dengar dalam kehidupan sehari-hari terkadang adalah suara kita sendiri.

Jika setiap kesalahan selalu dijawab dengan:

“Aku bodoh.”

Jika setiap kegagalan dijawab:

“Aku memang tidak berguna.”

Dan setiap masalah dijawab:

“Aku pasti gagal lagi.”

Maka percakapan tersebut dapat menjadi semakin melemahkan.

Sebaliknya, seseorang dapat belajar mengganti pola tersebut dengan dialog yang lebih realistis:

“Aku melakukan kesalahan, tetapi aku bisa belajar darinya.”

“Aku belum berhasil, bukan berarti aku tidak akan pernah berhasil.”

“Aku sedang menghadapi masalah, jadi aku akan menyelesaikannya satu langkah demi satu langkah.”

Ini bukan tentang memaksakan pikiran positif setiap saat.

Ini tentang belajar berbicara kepada diri sendiri dengan cara yang lebih adil.

Kesimpulan

Berbicara dengan suara lantang kepada diri sendiri merupakan perilaku yang dapat memiliki berbagai fungsi psikologis.

Bagi sebagian orang, kebiasaan tersebut dapat membantu menjernihkan pikiran, mengatur emosi, meningkatkan fokus, mengingat sesuatu, memberikan motivasi, mengambil keputusan, memecahkan masalah, dan memahami perasaan pribadi.

Jadi, jika sesekali kamu mendapati dirimu berbicara sendiri ketika sedang sendirian, tidak perlu langsung menganggapnya sebagai sesuatu yang aneh.

Mungkin kamu sedang berpikir.

Mungkin kamu sedang mengatur emosi.

Mungkin kamu sedang mencoba menemukan solusi.

Atau mungkin, untuk beberapa saat, kamu hanya sedang membutuhkan seseorang untuk diajak bicara—dan orang tersebut kebetulan adalah dirimu sendiri.

Yang terpenting adalah tetap menyadari konteksnya. Self-talk yang sadar dan membantu dapat menjadi alat untuk memahami serta mengarahkan diri, sementara pengalaman yang terasa di luar kendali atau sangat mengganggu kehidupan sehari-hari layak mendapatkan perhatian profesional.

Pada akhirnya, berbicara kepada diri sendiri bukan semata-mata tentang suara yang keluar dari mulut.

Ia juga tentang bagaimana seseorang membangun hubungan dengan pikirannya sendiri.

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore