Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 29 Februari 2020 | 22.35 WIB

Ini Contoh Hoaks Kesehatan yang Berbahaya dari Berita Bohong Lainnya

BERITA BOHONG: Selama 7 bulan terakhir Kemenkominfo sudah mengidentifikasi berita hoax sebanyak 771. Dari jumlah tersebut 181 diantaranya berita hoax berkaitan dengan politik. - Image

BERITA BOHONG: Selama 7 bulan terakhir Kemenkominfo sudah mengidentifikasi berita hoax sebanyak 771. Dari jumlah tersebut 181 diantaranya berita hoax berkaitan dengan politik.

JawaPos.com - ‎Ketua‎ Masyarakat Hukum Kesehatan Indonesia, dr Mahesa Paranadipa, MH mengeluhkan mengenai banyaknya hoaks mengenai kesehatan. Apalagi yang saat ini heboh adanya hoaks mengenai Virus Korona.

Mahesa mengatakan masyarakat terkena hoaks. Karena sebanyak 130 juta atau 49 persen orang Indonesia mengakses media sosial‎. Itu mereka memainkan medsos selama lebih dari tiga jam setiap harinya. Hal itu yang dikemukakan oleh riset We Are Social 2018 silam.‎

‎"Hoaks kesehatan dampaknya lebih bahaya dari hoaks-hoaks yang lain, karena bisa membuat orang meninggal dunia," ujar Mahesa dalam diskusi di kawasan Hayam Wuruk, Jakarta, Sabtu (29/2).

Mahesa mengatakan adanya hoaks kesehatan ini membuat masyarakat tidak ingin ke rumah sakit untuk mengobati penyakitnya. Mereka memilih beralih ke obat-obatan lain misalnya herbal yang belum teruji khasiatnya. "Hoaks kesehatan ini menggiring orang tidak mau berobat, sehingga beralih ke obat yang belum teruji," katanya.

Berdasarkan data dari Masyarakat Hukum Kesehatan Indonesia periode Agustus 2018-3 November 2019 hoaks kesehatan menempati posisi ketiga dengan 401 kasus. Pertama adalah hoaks politik 973 kasus . Kemudian kedua hoaks pemerintah 743 kasus.

Apalagi dengan hoaks ini ditambah dari masyarakat tertentu yang menyebutkan bahwa tidak baik untuk mengkonsumsi obat secara terus-menerus. Sehingga masyarakat dengan mudahnya termakan hoaks. "Misalnya ada yang bilang minum obat bisa merusak ginjal, dan kalau berobat pakai BPJS nanti dijutekin sama rumah sakitnya," ‎katanya.

Mahesa menambahkan, banyak dokter yang juga terkena hoaks kesehatan. Misalnya seseorang menyelenggaran seminar. Nah si dokter tersebut harus membayarkan uang dengan jumlah tertentu sebelum ikut melakukan seminar. ‎"Jadi banyak orang yang mencari keuntungan di bisnis hoak ini, ini bisnis sudah masuk kriminal," tegasnya.

Editor: Bintang Pradewo
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore