Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 29 Agustus 2024 | 19.08 WIB

Mengenal Apa itu Hypophrenia

Ilustrasi psikologi orang yang mudah menangis/Freepik

 

JawaPos.com - Bayangkan tiba-tiba merasakan kesedihan yang mendalam hingga menangis tanpa alasan yang jelas. Jika pernah mengalami hal ini, mungkin Anda sedang mengalami hypophrenia. Kondisi ini sering disalahartikan sebagai gangguan mental berat, padahal sebenarnya berkaitan dengan ketidakseimbangan emosional yang mendalam. 

Dikutip dari laman Siloam Hospitals, Kamis (29/8), hypophrenia harus ditelaah secara detail mulai dari mengapa hal ini bisa terjadi, dan bagaimana cara mengatasinya. Hypophrenia adalah istilah medis yang merujuk pada kondisi dimana seseorang menangis secara tiba-tiba tanpa adanya penyebab yang jelas.
 
Meskipun tampak mirip dengan gangguan emosional lainnya, hypophrenia lebih terkait dengan perasaan yang mendalam dan sering kali tidak dapat dijelaskan oleh situasi atau faktor eksternal. Penderita hypophrenia mungkin merasa sangat sedih dan emosional, namun sulit untuk menentukan apa yang sebenarnya memicu perasaan tersebut.

Meskipun penyebab pasti dari hypophrenia belum sepenuhnya dipahami, sejumlah faktor diduga berperan. Perubahan hormon, seperti yang terjadi selama kehamilan atau menopause, bisa memengaruhi kestabilan emosional seseorang. 

Begitu juga dengan gangguan kecemasan dan depresi yang dapat menyebabkan seseorang merasa tertekan dan lelah secara mental. PTSD, atau gangguan stres pasca trauma, juga dapat memicu tangisan mendalam akibat trauma masa lalu. Selain itu, kondisi neurologis seperti Pseudobulbar Affect (PBA) yang melibatkan gangguan pada koneksi otak juga bisa menjadi penyebab.

Gejala hypophrenia tidak hanya terbatas pada tangisan yang tiba-tiba. Penderita sering kali mengalami sensitivitas emosional yang tinggi, merasa mudah tersinggung, dan sulit berkomunikasi. 

Emosi mereka cenderung tidak terkontrol, dan mereka mungkin merasa dikuasai oleh pikiran-pikiran negatif. Kondisi ini seringkali membuat seseorang merasa kelelahan, kehilangan nafsu makan, dan mengalami gangguan tidur.

Untuk mendeteksi hypophrenia, dokter biasanya akan melakukan wawancara mendalam dengan pasien atau keluarga untuk memahami keluhan dan keadaan psikologis. Tes laboratorium dan pencitraan otak juga mungkin dilakukan untuk mengidentifikasi adanya gangguan struktural pada otak. 

Setelah diagnosis ditegakkan, penanganan mungkin melibatkan terapi psikologis dan penggunaan obat-obatan, seperti antidepresan, untuk membantu mengatur suasana hati. Terapi psikologis, seperti terapi perilaku kognitif dan terapi interpersonal, dapat membantu pasien mengatasi pikiran negatif dan memperbaiki keterampilan komunikasi. Obat-obatan antidepresan juga bisa menjadi bagian dari perawatan, terutama jika ada gangguan suasana hati yang mendalam.

Jika Anda mengalami gejala-gejala seperti yang dijelaskan, penting untuk segera berkonsultasi dengan profesional medis. Dengan diagnosis dan penanganan yang tepat, hypophrenia dapat dikelola, dan Anda dapat mendapatkan kembali keseimbangan emosional yang diperlukan untuk menjalani kehidupan sehari-hari dengan lebih baik.
Editor: Estu Suryowati
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore