Ilustrasi hari diabetes sedunia. (Pexels.com)
JawaPos.com - Peringatan Hari Diabetes Nasional yang jatuh setiap 18 April menjadi momentum penting untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap ancaman penyakit diabetes. Termasuk pada kelompok usia anak-anak. Sebab, diabetes bukan lagi penyakit yang menyerang orang dewasa. Dalam satu dekade terakhir, kasus diabetes pada anak menunjukkan peningkatan.
Data yang dirilis oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menunjukkan prevalensi anak penderita diabetes meningkat 70 kali lipat. Dari 0,028 per 100 ribu anak pada tahun 2010 menjadi 2 anak per 100 ribu pada 2023. Kini, tercatat hampir 2.000 anak di Indonesia hidup dengan diabetes.
Mayoritas diabetes melitus (DM) pada anak merupakan tipe 1 yang disebabkan oleh gangguan autoimun, bukan semata pola hidup. “Hampir 90 persen DM pada anak merupakan tipe 1, di mana terjadi kerusakan sel beta pankreas penghasil insulin akibat reaksi autoimun. Faktor genetik dan lingkungan turut berperan,” ujar dr Faisal SpA(K) MKes.
Meski demikian, gaya hidup tetap menjadi faktor penting yang tak bisa diabaikan. Pola makan tinggi gula dan karbohidrat, serta kebiasaan sedentary alias kurang gerak, telah memicu kenaikan kasus diabetes tipe 2 pada anak-anak.
“Pola hidup tidak sehat berisiko menimbulkan obesitas dan resistensi insulin. Inilah yang menjadi cikal bakal DM tipe 2,” ujar Dokter Anak Konsultan Endokrinologi Anak RSUP Dr Hasan Sadikin Bandung itu.
Gejala awal diabetes pada anak sejatinya tidak jauh berbeda dengan orang dewasa. Orang tua perlu mewaspadai tanda-tanda klasik yang disebut trias poli atau 3P. Yakni, poliuria, polidipsi, dan polifagia.
“Anak sering buang air kecil (poliuria), bahkan mengompol di malam hari, lebih sering merasa haus (polidipsi), dan makan lebih banyak (polifagia) tetapi berat badannya tidak naik, malah justru makin kurus. Anak juga bisa tampak lemas dan tidak bertenaga,” beber dokter Faisal.
Untuk mencegah komplikasi serius, deteksi dini menjadi langkah kunci. Saat ini, Kementerian Kesehatan telah memasukkan skrining diabetes ke dalam layanan cek kesehatan gratis. Pemeriksaan awal dilakukan dengan kuesioner, lalu dilanjutkan tes gula darah jika dinilai berisiko.
Bila anak sudah terdiagnosis, orang tua tidak perlu panik. Penanganan diabetes pada anak kini sudah komprehensif dan memungkinkan anak menjalani hidup normal layaknya anak lainnya.
“Penanganan DM tipe 1 mencakup lima pilar utama: suntikan insulin, nutrisi seimbang, aktivitas fisik, edukasi yang berkelanjutan, serta monitoring gula darah mandiri. Sedangkan DM tipe 2 umumnya cukup dengan obat oral,” kata dokter Faisal.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Besan KDM Komjen Karyoto Dimutasi dari Jabatan Kabaharkam Jelang Pensiun
Prediksi Susunan Pemain Prancis vs Belgia: Zidane Ingin Menang di Stade de France
Prediksi Skor Kosta Rika vs Haiti di CONCACAF: Les Grenadiers Bisa Menang Tipis
Prediksi Skor Skotlandia vs Slovenia di UEFA Nations League: Duel Sengit Rawan Imbang
Prediksi Skor Siprus vs Latvia di Liga Nations UEFA: I Galanolefki Menang Tipis di Neo GSP
Koordinator BEM UI Diserang OTK di Tebet Jaksel, Sempat Diancam Bunuh
Rekam Jejak Wadankor Brimob Irjen Victor Alexander Lateka, dari Densus 88 hingga BIN
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Prediksi Skor Kazakhstan vs Kepulauan Faroe: Duel Tim Papan Bawah Sulit Diprediksi
Prediksi Skor Luksemburg vs Bulgaria di UEFA Nations League: The Lions Jemawa Bisa Curi Poin

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022